Bukan Jalan Yang Lebih Adil

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bukan kematian benar menusuk kalbu Keridlaanmu menerima segala tiba Tak kutahu setinggi itu atas debu Dan duka maha tuan bertahta CHAIRIL Anwar menuliskan baris-baris itu untuk seorang nenek tua yang meninggal. Kita kini mungkin akan mcngingatnya untuk seorang Kusni Kasdut. Sebab memang bukan kematian itu benar yang menusuk kalbu. Tapi kenyataan, bahwa yang mati hanya pasrah, dan maut datang sebagai manifestasi kekuasaan. Dalam hal si nenek tua, kekuasaan itu agaknya langsung dari Tuhan. Dalam hal Kusni, kekuasaan yang hadir adalah negara. Begitu tinggi, begitu bertahta, begitu singkat merampat. Yang mati butir debu. Duka itu pun rata dengan tanah. Masalah hukuman mati, dengan demikian, selalu menyintuh sebuah akar yang tertanam dalam -- sejenis akar religius dalam kehadiran kita. Mungkin Chairil Anwar seakan hendak memprotes Tuhan ketika ia menyaksikan kematian neneknya. Tapi ia toh tak bisa mengingkari-Nya. Mungkin kita juga mgin menggugat ke sana ke mari, melihat jamjam terakhir Kusni Kasdut yang tak bisa ia elakkan. Tapi pada akhirnya kita toh berbicara tentang batas-batas manusia dan kekuasaannya. Orang yang mati tak akan pernah kembali. Jurang antara tiang tempat si terhukum ditembak dengan alam sesudahnya adalah jurang yang mutlak. Bahaya terbesar dari hukuman mati karena itu bukanlah lantaran kekejaman telah dilegalkan di sana. Bahaya terbesar dari hukuman mati ialah bila kita, dalam ikhtiar keadilan itu, tercerabut dari "akar religius" kita. Artinya kita tak lagi bertanya atas dasar apakah seseorang, atau sekelompok orang, mendapatkan kekuasaan yang begitu besar hingga "setinggi itu atas debu dan duka" mereka bertahta. Jangan salah faham. Sekelompok orang bisa mengirimkan algojo atas nama Tuhan. Tapi pada saat itu barangkali mereka menyekutukan diri dengan Yang Maha Kuasa itu, dan di sini kita sesungguhnya tak bisa lagi bicara tentang suatu akar yang apa pun berarti, kecuali kepongahan. Sebab kita tak lagi bersedia mengakui ketidak-mampuan kita untuk seperti Dia: mengabsolutkan keputusan-keputusan dan juga memberikan ampunan. Kegagalan kita untuk memaakan, kesediaan kita untuk mengakui dendam, adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa. Pada akhirnya kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu. Barangkali di situlah terasa kaum abolisionis, yang gigih menentang hukuman mati atas segala macam kejahatan, terasa sama kurang memuaskannya dengan kaum legalis. Mereka hendak menunjukkan bahwa keputusan manusia bisa salah dan tidak mutlak. Betapa benarnya. Tapi kematian barangkali tak dilihat sebagai jalan ke arah hukum yang lebih adil. Tubuh yang ditembak itu barangkali hanya dipandang sebagai tubuh yang kehilangan hak. Tapi memang bukan kematian itu benar yang menusuk kalbu, dan kaum abolisionis juga pada dasarnya berbicara tentang keadilan. Yang kadang tak disadari ialah bahwa keadilan adalah satu hal, perasaan iba adalah hal lain. Keduanya bisa bertemu di satu titik, tapi bisa juga berlawanan. Ataukah kita harus bicara soal aturan peradaban yang mutakhir? Tapi agaknya keperluan kita kini akan peradaban bukanlah hapusnya hukuman mati untuk perikemanusiaan atau terusnya hukuman mati untuk menangkal kejahatan. Keperluan kita akan peradaban nampaknya lebih elementer: sebuah peradilan yang bersih dan terang sebuah penjara yang lebih baik daripada tiang gantungan.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.