Obituari

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • BUNG Hatta wafat. Waktu memang berjalan, membentuk zaman. Anak-anak lahir. Dan di piramida penduduk, Indonesia dipenuhi bayi dan pemuda. Ketika kita bertanya apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu, tiba-tiba kita tahu kenangan kian pendek di antara kita. Kian sedikit orang tua yang masih menyimpan apa yang telah silam dan bisa bercerita tentang semua itu. Barangkali itulah sebabnya kita cenderung melihat sejarah kita sebagai bangunan yang terdiri dari lingkaran-lingkaran tertutup. Masing-masing lingkaran adalah sebuah masa. Masing-masing masa seakan berdiri eksklusif, tak bersintuhan dengan, bahkan nyaris asing bagi, yang lain. Yang kini tak bertaut dengan yang dulu. Yang dulu berada di tingkat lain dari yang kini. Barangkali itulah sebabnya kita cenderung membayangkan sejarah sebagai sesuatu yang terdiri dari grup-grup "angkatan" -- seakan kita tengah menyaksikan barisan-barisan yang berlainan bendera dalam satu parade 17 Agustus. Hubungan mereka hanya dirumuskan sebagai "pewarisan" (bila positif), atau "gap", "jurang pemisah" (bila negatif). Maka bukan hal yang aneh bila di sebuah ruang seminar yang sama, ada "wakil Angkatan '45 ' yang mengritik atau memuji-muji "Angkatan '66", atau sebaliknya. Seakan-akan mereka bukan lagi sezaman. Seolah-olah mereka bertemu dengan susah payah sebuah mesin waktu. Dr. Abu Hanifah beberapa hari sebelum meninggal sering bicara menyebut dirinya -- dan generasinya -- "mastodon". Anak-anak muda setengah tertawa membayangkan seekor gajah purba yang besar yang anehnya belum punah dan bisa jalan-jalan di lingkungan yang tak lagi sepadan. Tak ada yang bertanya: benarkah "makhluk" itu begitu kuno -- meskipun diketahui ia akan hilang? Benarkah ia bukan lagi bagian dari kita, dan kita dari mereka? ***** SEORANG pengarang di tahun 1978 pernah menulis, bahwa kini sejarah telah direduksikan tak kepalang tanggung orang tiba-tiba jadi "produk" dari sebuah dasawarsa masa hidup mereka bahkan setengah dasawarsa. Dalam kata-kata Susan Sontag, itulah "inhuman acceleration of historical change." Tapi mungkin itu cuma ilusi. Setidaknya bagi kita. Sebab sementara di kota-kota para intelektuil membagi-bagi diri dalam "angkatan", di pedusunan anak-anak tak cukup waktu untuk jadi "remaja" -- untuk bebas dari kewajiban ekonomi, sempat memperoleh ilmu sendiri dan akhirnya membentuk gaya dan pandangan sendiri. Dengan kata lain, bagi mereka masa lalu justru terletak di depan, masa depan justru yang tak kelihatan. Tapi mungkin dari sinilah kita dapat merenungkan kenyataan-kenyataan kita sebenarnya. Ketika Bung Hatta memimpin PNI Baru di tahun 1930-an, ia menghadapi keresahan di desa-desa. Contohnya di Indramayu, Jawa Barat. Rakyat, terdorong oleh depresi ekonomi dan keogahan mentaati hukum pemerintah yang asing bagi mereka, secara ilegal mengambil pohon jati dari hutan. Maret 1932, misalnya, sekitar 700 orang desa bersenjata menebang kayu di hadapan para petugas yang tak berdaya. Pada masa itu, PNI Baru bergerak di antara penduduk. Dan rakyat menyambut. Keanggotaan PNI Baru pun membesar di wilayah ini. Tapi Residen Van der Plas awas: ia mencegah menyusupnya pengaruh partai itu ke desa, dengan memperkuat lurah serta kaum menak. Dan dia berhasil. Setengah abad kemudian tentu saja tak ada lagi PNI Baru dan tak ada Van der Plas. Bung Hatta juga telah wafat. Tapi benarkah telah berubah desa-desa tempat para penebang liar itu?

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...