Apakah

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fantastis, Di satu Minggu siang yang panas di gereja yang penu orangnya seorang padri muda berdiri di mimbar, Wajahnya molek dan suci matanya manis seperti mata kelinci dan ia mengangkat kedua tangannya yang bersih halus bagai leli lalu berkata "Sekarang kita bubaran. Hari ini khotbah tak ada. " DEMIKIANLAH bermula sebuah sajak yang sangat bagus. Penulisnya Rendra. Dalam kumpulan Blues Untak Bonnie (terbit 1971), sajak yang panjang itu terbentang 6 halaman: sebuah puisi yang juga sebuah cerita pendek, sebuah kisah surrealistis yang mempesona tentang satu misa yang berakhir dengan buas. Sang padri muda telah mengatakan, hari itu khotbah tak ada. Ia ingin kembali ke biara, untuk "merenungkan keindahan Ilahi." Tapi orang-orang, gerombolan hadirin itu, tak beranjak. Mereka tetap duduk berdesak-desak. Atau berdiri. Suara mereka mendesah. Mata mereka menatap, bertanya-tanya. Mulut mereka menganga Mereka berhenti berdoa. Mereka ingin mendengar. Mereka sangat butuh mendengar. Dan melihat itu, dan mendengar desah mereka, dan menghidup bau mulut mereka yang keras, sang padri muda pun terpekik "Orang-orang ini minta pedoman Astaga. Tuhanku, kenapa di saat ini kau tinggalkan daku. "Sebagai sekelompok serigalayang malas dan lapar mereka mengangakan mulut mereka. Udara panas. Dan aku terkencing di celana. Bapak, Bapak, Kenapa kau tinggalkan daku, " Tapi meski ngeri seperti Isa Almasih di kayu salib, sang padri memilih untuk tinggal. Ia akhirnya melayani massa yang butuh mendengar. Ia memuaskan mereka yang menghasratkan khotbah. Setengah jatuh kasihan, setengah jijik kepada jemaat yang berkeringat dan busuk itu, padri muda itu akhirnya bicara. Apa yang dibicarakannya tak teramat penting sebenarnya. Rumusan-rumusan kearifan bercampur kata-kata tanpa arti. Petuah berselang-seling dengan nonsens. Tapi massa itu tak peduli. Mereka senang, terbuai. Mereka terangsang. Nafsu mereka, kelaparan mereka, terimbangi. Mercka ikut berseru. Mereka bergerak, saling menggosokkan tubuh. Suara mereka menggigil ganjil, melengking serempak, tiap kali sang pengkhotbah mengucapkan kata-kata yang hangat. Akhirnya adalah suatu proses penghancuran. Sebagai binatang orang-orang bersorak: Grr-grr-hura. Hura, Cha-cha-cha. Cha-cha-cha. Mereka copoti daun-daun jendela, Mereka ambil semua isi gereja, Seluruh gereja pun rontok. Tapi ini belumlah klimaks. Kegilaan itu mencapai puncaknya ketika sang padri muda yang elok itu mereka perkosa ramai-ramai, mereka cincang--lalu mereka makan dagingnya, m,ereka minum darahnya, dan mereka hisap sumsum tulangnya. Fantastis. * * * APAKAH "massa" sebenarnya? Dalam kamus politik revolusioner, ia berada di tempat yang dasar, sekaligus luhur. Ia berarti rakyat jelata yang banyak, sumber pembenaran utama. Karena itu Mao Tse-tun tak terdengar seperti orang kesepian ketika ia berkata: "Saya sendirian, bersama massa"--lalu meledakkan Revolusi Kebudayaan. Dalam kamus lalin, massa sudah tentu tidak selamanya berupa mereka yang tertindas. Gerombolan orang kulit putih yang suka menggantung orang hitam di Amerika Serikat bagian Selatan juga sebuah "massa". Daiam pengertian inilah Ortegay Gasset berbicara tentang Amerika sebagai "surganya massa". Ia sedih dan juga ngeri. Sang padri, dalam sajak Rendra, juga sedih, juga ngeri. Ia mencoba mengelak. "Biarkan aku menjaga sukmaku. Silakan bubar." Tapi bila ia kemudian memilih untuk jadi korban mungkin karena ada semacam kenikmatan yang aneh dalam pertemuan itu. Tapi mungkin juga: sebuah kemuliaan yang sederhana.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.