Jangan Melepas tangan

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • MALAM seperti itu, hujan sering turun. Fred de Silva, editor dari Ceylon Daily News, memulai tulisannya. Ia berjalan sejak tadi. Ada kabut tipis dalam gelap, tumbuh dari udara panas. Kulit terasa lekat. Tapi hujan telah menunjukkan janjinya, untuk datang. Kaki-kaki telah bergegas. Orang mencari tempat dan atap. Di antara suara sandal itu ada sepasang kaki yang lain. Bukan lain karena telanjang dan tua, tapi karena ritmenya berbeda. Langkah itu mirip langkah seorang penari kavadi. Cekatan, bersemangat, meskipun yang empunya berambut putih meskipun seluruh tubuhnya jembel, meskipun ia seperti sendiri. Mungkin itulah sebabnya lelaki pengemis tua itu menarik perhatian. "Itulah sebabnya aku sampai bisa melihatnya di dalam arus umat manusia yang bergerak," kata de Silva. Itulah sebabnya detail sang sosok menjadi jelas. Wajahnya adalah wajah tersiksa seorang penari kavadi -- tersiksanya seorang kesurupan. Sebab orang tua itu jelas gila: setelah beberapa meter melangkah ke depan, ia pun akan berhenti. Lalu melangkah ke belakang, seakan-akan ia mencari seseorang atau terlupa akan sesuatu --kemudian berubah fikiran serta melanjutkan jalannya yang termangu. Tapi ia tak sendiri. Di salah satu tangannya tergantung bungkusan kertas. Di dalamnya mungkin tersembunyi makanannya buat malam itu. Di lengannya yang lain, seorang bocah kecil terguncang-guncang dalam irama jalan pak tua yang rudin itu. Terkadang ia nampak seperti terpuntir. Tapi tak menangis. Tapi tak ketawa Dari mana ia hingga sampai ke pelukan yang semacam itu? Apa yang kelak akan terjadi kepadanya? Bocah itu seakan meletakkan kepercayaannya, total, kepada tubuh aneh itu, sebagaimana ia kadang meletakkan kepalanya. Tapi orang-orang yang bersua dengan mereka di jalan terhenti sebentar untuk bertanya-tanya, dalam hati. Beranikah mereka bertanya kepada pak tua itu tentang si bocah? Apa yang akan terjadi, jika saja lelaki itu tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan si anak, dan orang-orang yang terhenti menjelang hujan itu harus menggendongnya? Tidak, tidak. Itu tak akan terjadi. Tapi mungkin saja mendadak orang sinting itu meletakkan si anak di samping sebuah tempat sampah, atau di tangga sebuah rumah di depan pintu di tepi jalan itu. Apa kiranya yang akan terjadi? Bukankah bisa saja anak itu lari ketakutan ke jalan, melontarkan diri ke roda sebuah mobil yang kencang? "Aku memandang ke sekitar, ke arah orang-orang asing yang cemas itu, yang memandang drama yang lebih aneh daripada kehidupan nyata itu. Mereka cuma berdiri dan melihat. Tak seorang pun bergerak. Tak seorang pun bicara. "Tak seorangpun bertindak, atau bereaksi. Apa yang harus mereka lakukan? Pertolongan apa yang dapat mereka berikan, harapan apa yang mereka bisa ulurkan? Adakah rasa belas kasihan pribadi dan kemurahan hati relevan, di hadapan kemalangan yang sedemikian? Hati mungkin terluka tapi kepala menyurutkan langkah dalam ketidakmampuan yang merancukan fikiran itu. Jiwa yang merasa bersalah pun diamdiam menyisih dari adegan kejahatan ini -- kejahatan yang sebenarnya tak pernah mereka perbuat. "Tapi kesalahan mereka adalah karena hidup di sebuah dunia di mana hal seburuk itu bisa terjadi. Hanya pengemis tua itu yang bertindak dengan sikap pasti seorang yang tak bersalah. Ia menempuh jalannya sendiri, langkahnya sungguh mengherankan ringannya, langkah seorang penari kavadi . . . " Fred de Silva membacakan tulisan pendeknya ini di sebuah seminar di tahun 1975 di antara para wartawan Dunia Ketiga. Di bawah judul A Study of Social Guilt, ia sebenarnya menulis semacam puisi, menulis tentang kenyataan yang paling dasar. Dan ia pun sebenarnya bertanya, dalam air pembersih yang bagaimanakah kita bisa mencuci tangan, bila di luar hujan turun dan malam gelap dan beberapa orang anak tertidur di tepi jalan, tak berubah. Memang ada sesuatu yang sentimentil di situ. Tapi bisakah kita mengecamnya?

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.