Bertaruh Nyawa demi Mudik

Majalah Tempo

Enak dibaca dan perlu.

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lebaran semestinya tidak memerlukan tumbal. Tapi setiap tahun ratusan orang selalu meninggal akibat kecelakaan saat mudik Lebaran. Tahun ini pun, dalam dua hari, korban tewas telah mencapai 60 orang. Realitas ini akan terus terulang bila pemerintah tidak segera membenahi angkutan umum beserta prasarananya.

    Data Kepolisian Republik Indonesia menunjukkan, kecelakaan terbanyak dialami pengendara sepeda motor yang mencapai 263 kejadian, Adapun kecelakaan mobil sebanyak 107 kasus. Angka kecelakaan diperkirakan terus bertambah hingga setelah Lebaran. Apalagi tidak perubahan yang berarti dalam manajemen mudik.

    Angka kecelakaan lalu lintas sebetulnya bisa berkurang bila pemerintah dapat menekan jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor. Soalnya, merekalah yang paling sering mengalami musibah. Dalam mudik Lebaran tahun lalu, kecelakaan sepeda motor mencapai 70 persen dari total kecelakaan sebanyak 5.233 kasus. Jumlah korban tewas akibat mudik Lebaran saat itu 908 orang.

    Masalahnya, jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor tahun ini bukannya berkurang, melainkan bertambah. Jumlah sepeda motor yang digunakan untuk mudik diprediksi mencapai 3 juta unit atau naik 8 persen dibanding tahun lalu. Adapun jumlah mobil yang pulang kampung sebanyak 1,7 juta atau naik 6 persen dibanding tahun sebelumnya.

    Dari total 30 juta pemudik di seluruh Indonesia, hanya 18 juta yang menggunakan angkutan umum, seperti kapal, bus, kereta api, dan pesawat terbang. Sebanyak 12 juta menggunakan kendaraan pribadi, termasuk sepeda motor. Pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi lebih rentan mengalami kecelakaan karena berbagai penyebab, mulai dari keletihan hingga mengantuk. Berdasarkan data kecelakaan pada Lebaran tahun lalu juga terungkap: penyebab tertinggi adalah faktor manusia (28 persen). Penyebab lain di antaranya faktor alam (20 persen), kendaraan (18 persen), dan kondisi jalan (15 persen).

    Tak hanya rawan kecelakaan, besarnya jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi juga menimbulkan kemacetan di mana-mana. Idealnya, pengguna angkutan umum saat Lebaran mencapai 80-90 persen, dan bukannya 60 persen seperti sekarang. Jika ada transportasi umum yang nyaman, murah, dan tidak macet, niscaya masyarakat akan meninggalkan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.

    Itulah pentingnya pemerintah membangun jalan raya dan membenahi angkutan umum yang kini amburadul. Absennya transportasi umum yang layak membuat pemerintah tidak kuasa pula mencegah, apalagi melarang, pemudik menggunakan sepeda motor. Padahal kendaraan roda dua jelas berbahaya dipakai untuk perjalanan jarak jauh. Apalagi para pengendara sepeda motor mesti bertarung dengan mobil dan bus di jalanan yang tak selalu mulus.

    Para pemimpin negeri ini semestinya tak membiarkan rakyatnya mudik dengan mempertaruhkan nyawa setiap tahun.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.