Pendeta jim jones

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 900 orang lebih mati di Jonestown. Pemimpin mereka, Pendeta Jim Jones, memerintahkan mereka bunuh diri. Anak-anak disuntik racun. Orang-orang dewasa antri bergiliran mereguk cyanide. Satu demi satu roboh. Koloni di hutan Guyana itu kemudian sepi. Sebuah papan di dekat tanaman, yang kini dikitari tebaran mayat, seakan memperingatkan langit tropis yang kosong sehabis hujan: "Awas racun serangga." Dunia terkejut oleh kejadian yang hampir tak masuk akal di abad ke-20 ini -- yang justru diciptakan orang-orang dari bangsa paling modern. Iblis apakah yang telah masuk ke tubuh Pendeta Jones? Nenek Hyacinth Parsh, 76 tahun berkata dari pembaringannya: "Saya kenal Pendeta Jones selama 21 tahun. Ia orang baik. Ia mencoba membangun sebuah tempat, di mana setiap orang dapat sederajat." Nenek Parsh adalah penghuni Jonestown Di hari yang mengerikan itu, 18 Nopember 1978, ia tak ikut mati. Ia sudah 16 bulan sakit di salah satu pondok dalam koloni. Tidak tahukah nenek Parsh bahwa ada suara ketakutan, ada suara bedil, dan tangis? Ataukah ia bisa menjelaskan semua itu hanya dengan sebuah cerita tentang hasrat membangun negeri yang adil? Stephan Jones, anak sang Pendeta, mengutuk bapaknya sebagai "fasis". Tapi ia masih ingin menyebut Jonestown sebuah eksperimen sosialisme. Dengan kata lain, indah. Paul Goodman seharusnya menyaksikan. Cendekiawan ini, yang penuh kecaman kepada masyarakat Amerika sejak karya-karyanya di tahun 1940-an, baru dalam dasawarsa 60-an memperoleh gema di kalangan muda. Memang inilah dasawarsa demonstrasi anti perang Vietnam, dekade Kiri Baru dan marijuana, tahun-tahun anti-teknokrasi, zaman yang menuding bisnis raksasa atau kapitalisme, atau rambut pendek. Di tahun 1968 Theodore Roszak telah mengulasnya, dengan penuh simpati dalam The Making of a Counter-Culture. Bukan kebetulan jika Roszak menyebut Goodman. Goodman-lah yang menjelajah Utopia, negeri ideal yang belun ada di bumi, sementara masyarakat sekitar macet. Tokoh novel Making Do misalnya adalah seorang homoseksual. Pacarnya seorang pemuda 17 tahun yang putus kuliah. "Baginya -- dan tak cuma bagi dia sendiri -- tak ada jalan keluar di masyarakat kita." Tapi, "jika tak ada kehidupan bersama untukmu, anak muda, anak muda, bikinlah sendiri." Stephan Jones mungkin ingin membuat kehidupan bersama itu sendiri. Ia melihat bagaimana pemuda hitam bekas bajingan atau morfinis tobat di dalam Kenisah Rakyat yang dipimpin bapaknya, dan menetap di hutan Guyana. Ia melihat bagaimana golongan minoritas yang tersisih dapat tempat. Ia melihat bagaimana ayahnya, Pendeta Jones, yang berkulit gelap, meski mengaku berdarah Indian, berhasil mengangkat Jiri dan kaumnya melewati "pintu tertutup" masyarakat Amerika. Ia juga melihat, bagaimana banyak orang kulit putih ikut datang, karena mereka merasa mendapatkan sesuatu di perkampungan Jonestown. Bukan uang, bukan keuntungan, bukan sukses. Tapi kita tidak tahu apakah Stephan juga melihat kenyataan lain yang lebih dalam yang terdapat di sebagian orang. Para pengikut Kenisah Rakyat tidak sendiri. Betapa banyak orang Amerika menyumbang dan bertakwa kepada Guru Maharaj Ji, seorang anak India berumur belasan tahun yang gemuk, suka es-krim dan mobil bagus -- tapi dianggap inkarnasi Tuhan? Sementara itu di tepi Sungai Hudson, di Irvington, New York, sebuah rumah megah berdiri. Terdiri dari 25 ruangan, rumah itulah tempat tinggal Pendeta Sun Nyung Moon, seorang Korea yang pendek dan gagah dalam usia 58 tahun, yang gemar mengail di kapal pesiarnya yang mewah. Ia membangun gereja, yang anehnya menganggap Kristus telah gagal. Juru Selamat kedua karenanya menurut dia turun seorang Korea yang lahir di tahun 1920. Ditertawakankah Pendeta Moon? Tidak. Tak sedikit anak muda Amerika yang datang, dengan penuh ketaatan. Ada seorang anak yang diminta ayah-ibunya agar kembali. Tapi ia menyahut: "Paling sedikit, ibu, saya telah briman kepada sesuatu."

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.