Mao tse-tung dan kekuasaan

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • DI TAHUN 1976 Mao Tse-tung menulis sebuah pesan berbentuk sajak. Buat Chiang Ching, isterinya - sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Roxane Witke, setelah wawancaranya yang terkenal dengan wanita itu. "Kata-kata yang sedikit ini mungkin pesanku yang terakhir untukmu", tulis Mao. "Hidup manusia terbatas, tapi revolusi tak mengenal tepi. Dalam perjuangan selama sepuluh tahun terakhir ini aku telah mencoba mencapai puncak revolusi, tapi aku tak berhasil. Kau mungkin bisa mencapai yang tartinggi. Jika kau gagal, kau akan terjun ke dalam ngarai yang tak terukur dalamnya. Tubuhmu akan lumat. Tulangmu remuk". Kita tak tahu bagaimana nasib Chiang Ch'ing kini, kecuali bahwa dia - dalam tata kekuasaan - memang telah jatuh ke ngarai yang ngeri itu. Beberapa tahun yang lalu ia hampir merupakan wanita paling barkuasa di dunia. Kini segala jenis makian dan kebencian dimuntahkan kepadanya. Rasanya jadi jelas apa yang ingin dilukiskan oleh Mao. Jika ia sendiri menyatakan, bahwa ia tak berhasil mencapai "puncak revolusi", ia pastilah bukan si "mahakuasa" di Tiongkok modern. Setiap rakyat memang beramai-ramai memasang gambarnya, mengutip kata-katanya (bagaikan doa) dan menyatakan kepatuhannya kepada sang Ketua -- tapi itu rupanya tak menjamin suatu kesempatan yang penuh bagi Mao. Bukan karena kesetiaan itu pasti palsu. Tapi karena memang tidak ada jaminan bagi siaPapun juga, bahwa kekuasaan bisa bekerja sampai penuh. Mao Tse-tung kemudian menemui ada musuh dalam partainya sendiri. Ia bahkan merasakan bahwa tempat tinggalnya disusupi mata-mata. Dalam cerita Chiang Ch'ing, disebutkan bagaimana Lin Piao, orang yang ditunjuknya jadi calon penggantinya, ternyata kemudian meracuni makanan Mao secara pelan-pelan. Dan kenyataan bahwa Mao tak bisa menjamin masa depan isterinya sendiri, memperlihatkan segi tragik dari kekuasaan itu sendiri. Segi tragik itu ialah tidak cocoknya niat berkuasa dengan tidak pernah mutlaknya kekuasaan itu. Segi tragik itu semakin jelas, bila kita saksikan bagaimana niat ke pusat kekuasaan itu sering mengorbankan banyak hal -- dan betapa kegagalannya bisa berarti kehancuran, hingga "tubuhmu akan lumat", dan "tulangmu remuk". Maka sungguh perlukah orang menempuh jalan yang kejam untuk memperolehnya? Seringkali, sayangnya, kita tidak dapat menjawab masalah itu dengan mudah. Sejarah dapat memperlihatkan hal-hal yang suram dan memaksa orang untuk memandang dingin. Di waktu kecil gadis yang kemudian bernama Chiang Ch'ing itu berjalan pulang dari sekolah. Ada seorang lelaki tua memanggul pikulan. Di tiao ujungnya bergantung kepala manusia, habis dihukum Pancung oleh penguasa, masih mengucurkan darah. Gadis kecil itu pun lari pulang, melemparkan bukunya dan roboh di tempat tidurnya, jadi demam. "Saya kira itu cukup untuk menunjukkan pada anda sesuatu dari masa kecil saya", ujarnya kemudian dengan kalem. Kita tak tahu apakah di matanya tersirat pedang dan darah: lambang yang salah bagi pengertian kekuasaan.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.