Pendapat seorang sufi

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ATTAR berarti "pewangi". Itulah nama mashur dari Farid ud-Din Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim, penulis sufi dari Nishapur, Persia Timur Laut. Ia kira-kira dilahirkan di tahun 1120, di tempat kelahiran pujangga Omar Khayyam. Ia meninggal konon 100 tahun kemudian, terbunuh oleh pasukan Jengis Khan yang menyerbu. Menurut kisah, pada suatu hari Attar duduk-duduk di kedai ayahnya. Seorang darwish (sufi) lewat. Ia mencium bau harum semerbak dan menjenguk ke kedai itu Ia menarik nafas dalam-dalam dan menangis. Attar menyangka bahwa tamu yang berpakaian bulu domba itu berbuat begitu karena ingin menarik belas kasihan. "Pengemis" itu pun diusirnya. Tapi darwish itu berkata: "Baiklah. Tak ada yang menghalangiku untuk meninggalkan pintumu, bahkan untuk mengucapkan selamat tinggal pada dunia. Yang aku miliki cuma alat pintal tua. Tapi engkau, wahai Attar, menyedihkan hatiku. Bagaimana kau akan dapat memalingkan minatmu kepada soal maut, bagaimana kau bisa menafikan benda-benda duniawi ini". Attar menjawab, bahwa ia telah berjanji akan mengakhiri hidupnya dalam kemiskinan dan kebahagiaan seorang darwish. "Baiklah, kita lihat saja nanti", jawab sang darwish. Ia mendadak jatuh dan meninggal. Peristiwa ini sangat membekas pada diri Attar. Ia pun meninggalkan kedai ayahnya, pergi berguru kepada Syeh Bukn-ud-din. Ia mempelajari, seraya berlatih, sufisme. Sesudah itu ia pun mengadakan perjalanan ke pelbagai negeri, belajar di berbagai biara, mengumpulkan karya-karya para ahli tasawuf, sebelum akhirnya balik ke Nishapur sampai akhir hidupnya. Ia mengarang kira-kira 200.000 sajak di samping banyak pula karya prosa. Karyanya yang tersohor tentu saja Mantiq Ut-Tair, atau "Percakapan Burung-Burung". Semua burung dari seluruh pelosok bumi, baik yang dikenal atau yang tidak -- begitulah awal cerita Attar -- berkumpul. Mereka mencari seorang raja bagi mereka. Itu tak berarti para burung lalu mengadakan pemilu. Seekor hupu yang luarbiasa menjanjikan kepada mereka untuk menuju ke mahligai Raja Burung Simurgh, di balik pegunungan Kaf. Mungkin dialah lambang Tuhan, dengan siapa burung-burung itu kemudian jumbuh, dalam manunggaling kavula-gusti, setelah perjalanan panjang yang mungkin telah mengilhami pengarang-pilot Richard Bach untuk buku larisnya tentang seekor camar laut, Jonathan Livingstone Seagull. Selama perjalanan itu, sang hupu mengajar, dan menceritakan pelbagai anekdot. Salah satu yang menarik ialah tentang Sultan Mahmud. Sebelum berperang kembali dengan susah-payah untuk mengalahkan orang Hindu, Mahmud bersumpah bahwa bila ia menang ia akan menghadiahkan hasil rampasan perang kepada para darwish. Ia menang. Tapi ketika ia akan mengirimkan harta benda itu kepada para darwish, para perwiranya memprotes. Sultan pun bimbang. Kepada siapa ia harus minta pertimbangan? Akhirnya ia meminta keputusan Bu Hassein, seorang sufi. "Karena ia tak takut kepada Sultan atau pun kepada tentara, pendapatnya pasti tak memihak". Agaknya Attar ingin menunjukkan bahwa seorang darwish yang tak terikat kepada hasrat duniawi, yang "idiot", tak berpendidikan tapi bijaksana, lazimnya seorang yang bersedia untuk berani. Dan seorang Sultan memang memerlukan orang yang tak takut. Seorang Sultan tidak bisa baik hanya dengan mereka yang takut.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.