Pengalaman hidup

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 1943 di London seorang wanita berumur 34 tahun meninggal di sebuah perawatan. Simone Weil. Dia pemikir dan penulis yang sudah terkemuka semuda itu. Dokter mengumumkan sebab kematian itu sebagai "bunuh diri." Wanita muda yang manis dan berkacamata itu pergi setelah satu proses melaparkan diri secara sukarela. Bukan untuk langsing. Simone Weil menolak untuk makan lebih dari jumlah ransum yang diterima bangsanya, orang Perancis, di bawah pendudukan Jerman. "Seandainya aku memiliki beberapa kehidupan, satu akan aku persembahkan kepadamu, ayah-ibu. Sayang aku hanya punya satu kehidupan. "Surat-suratnya kepada orangtuanya, yang berada di New York, mesra dan besar hati. Ia mungkin ingin menghibur mereka yang memberinya kebebasan -- juga buat fikiran dan sikapnya yang tak biasa itu. Simone lahir di tahun 1909. Seperti kakaknya, Andre, seorang ahli matematika yang terkemuka, Simone telah menunjukkan bakat besar sejak kecil. Juga "bakat"-nya untuk melakukan penolakan: menolak kemewahan dan kenikmatan pribadi apa saja. Orangtuanya hanya bisa cemas, diam-diam. Simone tinggal di kamar-kamar yang tanpa pemanasan. Pada umurnya yang ke-25, ia -- yang telah begitu lemah -- memutuskan untuk bekerja dalam pabrik, yang waktu itu baginya merupakan semacam perbudakan modern. Ia bisa tahan di sana setahun. Kerja kasar itu memberinya bekas yang dalam, sehingga "bahkan sampai hari ini," begitu tulisannya kemudian, "kalau ada seorang manusia yang bicara padaku tanpa sikap brutal, aku tak bisa mengelakkan kesan bahwa tentu ada yang silap . . . " Simone de Beauvoir, pengarang wanita Perancis lain yang kini lebih termashur, punya kisah sendiri tentang gadis Weil. Mereka bertemu waktu mau ikut ujian sekolah tinggi termashur, di mana filosof terkenal Alain (Emile Chartier) mengajar. Sebagaimana dikisahkan dalam biografi yang baru-baru ini diterjemahkan di Amerika dari karya Simone Pertrement, de Beauvoir bercerita: "Ia mengusik rasa ingin tahuku karena ia terkenal sebagai gadis yang cerdas dan karena cara berpakaiannya yang ganjil .... Sebuah bencana kelaparan berkecamuk di Tiongkok ... waktu mendengar itu ia menangis . . . " Ia hidup di jantung Eropa di tahun 1930-an, ketika mendung politik memberat tebal di angkasa dan ide-ide besar dan keras saling bersabung seperti petir. Pemogokan, perbenturan pikiran, munculnya Stalin di Rusia, dan dibuangnya Trotsky, semua itu ia alami persis di tengahnya Simone sendiri pernah berhasil membujuk orangtuanya agar menyetujuinya untuk mengundang Trotsky di apartemen mereka. Trotsky waktu itu sudah diusir dari Rusia dan diperbolehkan oleh pemerintah Perancis tinggal di Paris. Orang penting Revolusi Rusia yang kemudian terusir itu pun datang, dengan para pengawalnya, tapi pertemuan dengan Simone agaknya berakhir dengan debat keras. Gadis ini menaruh dirinya bersama mereka yang mengalami penderitaan -- di sepanjang sejarah. Ia ekstrim memang. Ia bertekad untuk hidup sesuai dengan kebenaran yang diyakininya. bukan untuk jadi tauladan, tapi sebagai dedikasi yang penuh disiplin. Ia merasa ikut bertanggungjawab atas kenestapaan-kenestapaan yang terjadi. Ia menghormat mereka yang menanggungkan injakan dari yang lebih kuat dan lebih kasar, dan tertegun karena kekerasan selalu berada tepat di tengah sejarah manusia. Dan Perancis diduduki Jerman. Hitler -- yang seperti para diktatur lain, juga Raja Louis XIV dari Perancis lama, "telah mengira bahwa rakyatnya harus dijinakkan dulu sebelum dipimpin" -- mengaum ke seluruh Eropa dan dunia. Simone mencoba kembali ke Perancis untuk ikut bergabung dengan ketakutan, kelaparan, kedinginan dan juga perlawanan bangsanya. Ia cuma sampai bisa ke London. "Seandainya aku memiliki beberapa kehidupan, satu akan aku persembahkan kepadamu, ayah dan ibu. Sayang aku hanya punya satu kehidupan." Satu kehidupan, tapi begitu besar, karena paduan kata dan perbuatan.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.