Z

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • SAYA teringat Z, saya teringat beberapa hari di bulan Oktober 1965.Hari itu belum sepekan setelah "Gerakan 30 September" menangkap dan membunuh sejumlah jenderal Angkatan Darat, tapi dengan segera digagalkan sebelum mereka mengambil langkah berikutnya. Indonesia seperti dalam keadaan perang. Apa yang akan terjadi? Siapa yang akan menang dan siapa yang akan dihancurkan? Suasana tegang, bingung, tak pasti, dan di sebuah rumah di Jalan Cisadane, Jakarta, Z, seorang mahasiswa Universitas Indonesia, menghimpun beberapa puluh botol. Isinya bensin atau minyak tanah. Sore itu saya datang ke kamarnya dan bertanya untuk apa botol-botol itu. Z menjawab, "Buat membakar kantor PKI." Saya terkejut. Saya kecut. Kantor Partai Komunis Indonesia berdiri cukup megah di Jalan Kramat Raya, tak jauh dari Jalan Cisadane. Hari-hari itu di atapnya terpasang lambang palu-arit setinggi dua meter. Saya kecut, karena saya selalu takut melihat bangunan yang terbakar. Saya juga kecut menyaksikan tekad Z, sebab bahkan sampai Oktober 1965 itu PKI adalah partai komunis No. 3 terbesar di dunia, sebuah partai yang amat kuat, mungkin terkuat di Indonesia masa itu, partai yang paling depan dalam mengumandangkan kalimat-kalimat revolusioner?juga sebuah partai yang sangat akrab di hati Bung Karno, presiden republik dan "Pemimpin Besar Revolusi". Tapi bagi Z, partai itu adalah partai yang mengancam. Ia seorang mahasiswa pendukung Partai Sosialis Indonesia, yang bertahun-tahun dimusuhi PKI dan kemudian, di masa "demokrasi terpimpin" itu, dilarang. Beberapa pemimpinnya dipenjarakan. Kata "PSI" jadi sebuah stigma buruk. Maka bagi Z, jika PKI menang, ia dan teman-temannya akan habis dibabat. Ia melihat "Gerakan 30 September" itu sebuah gerakan "kiri" (dan itu sama dengan PKI), dan ketika langkah gerakan "kiri" itu gagal, datanglah saat bagi Z untuk menghantam balik partai lawan yang langkahnya gegap-gempita menjelang menang itu. Sore hari itu saya coba bujuk Z untuk tak melaksanakan rencananya. "Teramat berbahaya," kata saya. Kami kurang-lebih seumur, maka saya tak tahu apakah kata-kata saya punya efek. Yang pasti, esok siangnya sejumlah pemuda mendatangi kantor PKI yang entah kenapa tak dicoba dipertahankan oleh pendukungnya. Beberapa jam kemudian lambang palu-arit yang tinggi itu dimakan api. Beberapa hari setelah itu saya berangkat ke Eropa, untuk masuk ke sebuah perguruan tinggi, dengan perasaan seperti lari dari Indonesia yang rusuh. Saya tinggal di sebuah kota kecil di Belgia. Hanya dari surat kabar saya ketahui apa yang kemudian terjadi di tanah air: puluhan ribu orang PKI atau yang dianggap PKI dibunuh, disekap?. Tapi kekerasan selalu punya pembelanya sendiri. Z tak ikut dalam kekejaman di pelbagai tempat di Indonesia itu (bahkan saya tak tahu pasti ikutkah ia membakar kantor PKI). Meskipun demikian, baginya PKI harus dihancurkan agar tak bisa menguasai politik Indonesia kembali. Argumennya, "Kami telah mereka aniaya, dan jika nanti kami bisa bangkit lagi, kami tak ingin penganiayaan itu berulang." Benarkah keadaan begitu putus asa, dan pilihan hanya antara menghancurkan dan dihancurkan? Saya tak sempat menanyakan soal ini kepada Z. Saya tak sempat berkata kepadanya bahwa kemudian toh penganiayaan tetap terjadi, berulang-ulang, meskipun PKI sudah tak ada. Ketika kekerasan mendapatkan dalih yang menarik hati, ia akan menciptakan replikanya sendiri. Akhirnya Z adalah sebuah ironi, atau lebih tepat sebuah tragedi: partainya, PSI, tetap tak diizinkan bangkit lagi oleh militer yang berkuasa, dan pada suatu hari di tahun 1967, Z mati oleh seliang luka. Di tahun 1966, sejumlah mahasiswa bentrok dengan militer di sebuah demonstrasi, dan Z, yang mendjadi reporter, meliput kejadian itu. Tiba-tiba dua orang prajurit mendatanginya, memukulnya, dan menusukkan bayonet ke punggungnya. Ia menjerit, ia luka, dan setelah berbulan-bulan terbaring di rumah sakit, ia meninggal, sedih, kesakitan. Saya teringat Z, di hari-hari ini, ketika di Indonesia kekerasan politik terjadi lagi dan diberi lagi dalih yang memukau. Old violence is never too old to beget new violence, kalau tak salah begitulah sebaris sajak Robinson Jeffers. Sebagaimana lazimnya argumentasi sejak abad ke-20, kekerasan itu tak dilihat sebagai bagian dari dendam kesumat (itu hanya terjadi dalam film kungfu), melainkan sebagai metode pembebasan. Di pusat perkara ini ada sebuah kata yang terdengar sakti dan suci, yakni "korban". Sang korban, yang lapar, terhina, dibodohi, yang selama ini dipinggirkan, punya hak untuk melakukan kekerasan kepada siapa saja yang jadi wakil pihak yang lebih kuat?dan ketika si kuat runtuh, insya Allah kehidupan politik akan merayakan pembebasan manusia dari kemungkinan terjadinya korban lagi. Saya selalu berharap begitu. Tapi itulah yang tampaknya tak kunjung terjadi: ketika kata "korban" menjadi sakti, ia adalah sebuah posisi yang dipertarungkan. Siapa yang korban, siapa yang bukan korban, siapa yang kurang mirip korban? Kekerasan akhirnya tak berhenti di satu titik yang ditentukan secara sepihak. Ia selalu mendapatkan dalih, selalu mendapatkan sumber, karena korban telah mirip sebuah kostum yang bisa dikenakan siapa saja yang datang ke atas pentas. Saya teringat Z: saya mengunjunginya di sebuah pagi tahun baru, di ranjang rumah sakit, mengerang, menangis?korban yang hadir sebelum menjadi sesuatu yang sakti, sebelum menjadi sesuatu yang tak lagi punya rasa sakit yang paling awal, ketika kekerasan bukan tampak sebagai metode, melainkan sesuatu yang mengerikan. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.