Istishadi

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lokasi I: Anak muda Palestina di dalam layar video itu berkata tentang kematian. Kematiannya sendiri. Ia tampan. Umurnya 18 tahun. ?Besok hari pertemuan,? katanya (ia banyak senyum). ?Hari pertemuan dengan Yang Berkuasa atas Dunia.? Dan itu berarti ia besok akan pergi ke suatu tempat di Yerusalem di mana banyak orang berhimpun. Di tubuhnya sudah terikat bahan peledak plastik. Ia akan menarik picu. Suara menggelegar akan terdengar, dan ia akan tewas. Tapi juga (ia berharap) sejumlah orang Israel yang ada di sekitarnya, yang mungkin sedang menikmati minum teh di sebuah kafe. Mereka itulah yang harus ia hancurkan. Orang Hamas menyebut tindakan brutal itu istishadi: ?syuhada yang dipilih sendiri?. Orang lain menyebutnya ?pengebom-bunuh-diri?. Apa pun namanya, merekalah yang telah mengguncang Israel dan Palestina, dan menegaskan apa arti sengketa kedua bangsa itu: sebuah perang total. Batas antara yang bersalah dan tak bersalah, antara sipil dan militer, telah dicabut: anak, orang tua, mungkin seorang ibu yang hamil, mungkin seorang guru yang baik, asal saja dia orang Israel, semua layak jadi korban. Tidak, kata Dr. Abdul Aziz Rantisi, pendiri Hamas, kepada Mark Juergensmeyer, yang menulis Terror in the Mind of God, ?Kami tidak memusuhi orang Yahudi sebagai orang Yahudi.? Perang toh telah dilancarkan Israel kepada Palestina, terutama kepada konsep Palestina ?Islam? menurut Hamas, dan orang sipil Palestina juga dibunuh. Sebab itulah organisasi itu ?memberi izin? anak-anak muda (bukan memerintahkan, kata Dr. Rantisi) untuk memilih istishadi. Tentu saja dengan penghormatan dan semacam pemberian semangat: di malam menjelang mereka meledakkan tubuhnya jadi bom, sebuah rekaman video dibuat. Sang pahlawan harus diabadikan, dan video itu bisa disebarkan untuk merekrut sukarelawan kematian yang baru. ?Hanya ada satu kematian,? kata seorang anak muda lain sebelum ajal. ?Maka biarlah itu terjadi di jalan Tuhan.? Lokasi II: Di bulan Ramadan tahun 2001, Fadi Amer, seorang anak muda Palestina, mahasiswa ilmu politik tahun ke-4, menyelenggarakan acara buka bersama di sebuah gedung di kampus UCLA yang luas di Kota Los Angeles. Ini sebuah buka puasa yang tak lazim. Fadi erat dengan sejarah leluhurnya. Kakek-neneknya bercerita tentang tahun 1948, ketika pasukan Israel berperang melawan pasukan Arab yang tak puas dengan rencana pemisahan Palestina. Sebab itu keluarga Amer harus mengungsi ke Yordania. Mereka tak menduga bahwa akhirnya mereka harus tinggal di tanah tetangga itu setengah abad, seperti 700 ribu orang lain yang terusir dari kampung halaman mereka. Orang tua Fadi akhirnya pindah ke Amerika ketika anak itu berumur 10 tahun. Ayahnya ikut dalam perang Israel-Arab lain di tahun 1967, tapi di negeri baru itu Amer tua hanya seorang barbir. Dari sini ia berteman dengan banyak orang Yahudi. Ketika ia pensiun, ia suka mengundang teman-temannya itu untuk minum kopi dan bicara soal politik Timur Tengah. Lewat percakapan itulah Fadi mendapatkan pelajarannya yang pertama tentang politik, di sekitar konflik dan per-bedaan. Juga, meskipun sulit, persahabatan. Di kampus UCLA Fadi melihat tegangnya hubungan antara mahasiswa keturunan Arab dan keturunan Yahudi. Fadi terusik. Di tahun 1999, ia pun menulis sebuah artikel di koran kampus, Daily Bruin, bahwa konflik Timur Tengah, yang menciprat ke kampus, tak akan bisa diselesaikan kalau kedua pihak tak mengakui luka orang lain dan kesalahan diri sendiri. Membaca tulisan itu, seorang rabi muda me ngirim sebuah e-mail kepadanya: ?Fadi, kau saudaraku-dalam-damai!? Dan di senja itu, dalam acara buka puasa, sesuatu yang tak biasa berlangsung: rabi itu, Chaim Seidler-Feller, membawa para mahasiswa Yahudi untuk ikut jadi tuan rumah. Mereka menyediakan makanan. Ada sekitar 60 mahasiswa di ruangan itu, bercampur. Sebelum buka dimulai, seorang mahasiswa muslim membaca doa. Rabi Seidler-Feller kemudian berbicara, mengingatkan kedua umat akan warisan spiritual bersama mereka. ?Kita perlu melihat agama sebagai kekuatan yang membawa orang berbareng,? katanya. Buka puasa itu bukan satu-satunya usaha, tentu. Mei 2001, mereka mendirikan ?perkemahan damai? selama tiga hari di halaman kampus. Undangan akan duduk untuk bertukar pikiran. Banyak yang ikut dalam kursus yang disebut ?Suara-Suara Damai?, yang menyoroti konflik Arab-Israel. Los Angeles Times kemudian mengutip kata-kata Emily Kane. Ia mahasiswa Studi Yudaika. Di masa kecil ia hanya belajar dari sekolah yang ?sangat Zionis?. Dari kursus di kampus UCLA itu, kata Kane, ia baru sadar bahwa tak hanya orang Yahudi yang punya klaim yang sah atas tanah Palestina. ?Yang diajarkan kelas itu kepada saya adalah bahwa kebenaran ada di tengah-tengah?,? kata Kane. Kebenaran ada di tengah-tengah, tapi justru itu ia jadi mustahil. Dalam perang Palestina, ?tengah? rasanya telah hilang, dan apakah kebenaran kemudian jadi soal yang penting? Memang, agama (Islam, Kristen, dan Yahudi) di wilayah itu kini dipanggil untuk mengukuhkan ?kebenaran?. Juga ketika beberapa tubuh anak muda jadi alat pembunuh anak muda lain. Tapi justru ketika itulah agama jadi ?kekuatan yang membuat orang berbareng?, seperti diharapkan Rabi Seidler-Feller?meskipun dalam arti yang defensif: berhimpun pekat di kubu masing-masing. Maka jangan-jangan bukan agama yang akan membimbing orang keluar dari konflik panjang yang berdarah ini, melainkan dasar terdalam menjelang datangnya agama: semacam rasa ketidakberdayaan di hadapan masa depan, juga semacam kesunyian. Tak berdaya dan sunyi, manusia, juga di Palestina, akan membutuhkan batasnya sendiri. Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.