Penulis

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • - untuk Abdurrahman Wahid Gus Dur, kini saya tahu apa kekuatan seorang penulis dan apa pula kelemahannya. Seorang penulis pada dasarnya seorang yang sendiri. Tapi ia percaya betul bahwa kata-kata, begitu lahir dari dirinya, akan punya dampak. Dalam batas tertentu, ia bisa dikatakan sebuah sosok yang heroik: ia yakin akan daya dunia verbal dalam dan dari dirinya, dan ia juga bersedia menanggung sendiri ongkos yang timbul setelah itu. Ia tak bersandar kepada orang lain. Dari segi ini, Anda memang seorang penulis sejati?dan bukan seorang presiden. Saya belum pernah jadi seorang presiden, tapi dapat saya bayangkan: seorang eksekutif di pucuk itu sunyi. Tapi ini sebuah kesunyian yang berlangsung selama 30 menit setiap habis sarapan. Sesudah itu masuk laci. Seorang presiden bergerak dengan sebuah organisasi. Ia punya strategi, dan ia menyusun langkah untuk mencapai strategi itu. Ia merencanakan. Ia akan memanggil stafnya. Ia akan berembuk dengan mereka. Ia akan menimbang mana langkah yang paling efisien. Ia akan mendengarkan dua atau tiga alternatif. Ia akan memilih, setelah membahas soal logistik: seberapa tenaga dan dana diperlukan untuk menjalankan kebijakan itu. Ia akan memperhitungkan waktu. Kemudian ia akan memutuskan. Dan secara periodik, ia akan mengecek, seberapa jauh tindakan yang diambil itu berbuah, sejauh mana gagal, dan kenapa. Kata-kata bukannya tak perlu bagi seorang presiden. Bagaimanapun, posisi itu adalah posisi politik. Politik selalu menyangkut urusan orang ramai. Percakapan pun jadi amat penting. Seorang presiden perlu berembuk dengan pemilihnya. Ia perlu membujuk. Ia juga perlu bersedia dibujuk. Ia harus meyakinkan, sebagaimana ia juga bisa diyakinkan. Dan di sinilah posisi kata berbeda dengan yang kita temukan dalam dunia seorang penulis. Kata dalam proses politik lebih merupakan serangkai tanda yang bersifat ?indikatif?. Sementara itu, kata di dunia seorang penulis?apalagi kata seorang penyair?lebih bersifat ?ekspresif?. Baik yang ?indikatif? maupun yang ?ekspresif? sama-sama menyampaikan arti. Namun, beda antara keduanya sangat penting. Rangkaian tanda yang ?indikatif? jadi punya arti karena tanda itu terjalin dalam sebuah jaringan yang dipahami oleh sebuah komunitas. Ia jadi berarti bagi komunitas itu. Sementara itu, rangkaian tanda yang ?ekspresif? jadi hidup karena digerakkan oleh maksud dari orang yang memproduksikan kata itu. Kata, sebagai rangkaian tanda yang ?indikatif?, adalah sebuah tanda untuk sesuatu?persisnya untuk sebuah komunitas yang memahaminya. Kata, sebagai rangkaian tanda yang ?ekspresif,? adalah sebuah tanda dari sesuatu?persisnya dari sebuah maksud, dari sebuah subyek. Tentu, beda itu (saya curi dari Husserl) saya buat ekstrem. Seorang penulis tentu juga menggunakan bahasa yang ?indikatif?, dan seorang presiden bisa punya bahasa yang ?ekspresif?. Tapi saya ingin menunjukkan bahwa Anda, Gus, selama ini telah berlaku sebagai seorang yang seakan-akan berada sendiri di balik sebuah mesin tulis, bukan di atas sebuah mesin pemerintahan. Anda agaknya termasuk jenis seseorang yang yakin bahwa arti kata-kata sepenuhnya tergantung dari maksud yang ada dalam diri. Anda agaknya seorang yang berasumsi bahwa dunia verbal di luar itu adalah bagian yang wajar dari dirinya?seseorang yang menganggap bahwa ekspresi punya bobot yang sama dengan laku. Ada sesuatu yang mirip dengan Tuhan dalam diri seorang penulis. ?Kun fayyakun?.? Itu sebabnya Anda tak bertindak sebagai seorang eksekutif. Seorang eksekutif bukan saja memberi inspirasi dengan kata, tapi juga menyusun langkah, memanfaatkan organisasi, mengukur kemampuan, menguji hasil. Anda senantiasa bekerja sendiri. Anda memang punya staf (seorang penulis bisa juga punya tukang ketik dan tukang mengurus honorarium). Tapi orang-orang itu hanya bagian dari dunia ekspresif Anda. Aparat pemerintahan tak Anda sikapi sebagai bagian dari mesin, yang, sebagaimana mesin, punya prosedur, spesifikasi, dan sejarahnya sendiri. Politik bagi Anda akhirnya adalah aktivitas personal, bukan kerja institusional. Anda tak takut sendirian, sebagaimana seorang penulis memang harus berani sendirian. Itu sebabnya Anda tak pernah terpikir untuk memelihara sebuah tim kerja: sebuah kabinet yang langkahnya saling menunjang dan beraturan. Dengan gampang Anda mencopot menteri A. Anda tak merasa perlu memberi kepastian dan loyalitas kepada mereka. Politik bagi Anda bukanlah mencari dukungan yang luas. Sebagai seorang penulis, Anda senang bila orang di luar Anda kagum pada kecerdasan Anda, terkejut akan orisinalitas pikiran & fantasi Anda?termasuk sebuah fantasi tentang Jawa Timur yang jadi negeri sendiri dan mengadopsi nyanyian Rek, Ayo, Rek sebagai lagu kebangsaan. Tapi bukan tujuan Anda, sebagai seorang penulis (kecuali penulis roman picisan), untuk mengambil hati pembaca. Maka, Anda senang bahwa pembaca mengangkat Anda?dengan mengakui Anda?sebagai seorang penulis. Tapi setelah itu Anda yakin Anda bisa terbang sendiri. Itulah sikap Anda kepada parlemen, yang mengangkat Anda sebagai presiden, dan kemudian Anda cemooh dan Anda ancam. Anda tak membutuhkan mereka lagi?dan dengan itu sebenarnya Anda sudah meninggalkan kursi kepresidenan. Gus Dur, betapa menyenangkannya kursi itu seandainya dunia selamanya sebuah lingkungan tulis-menulis. Tetapi itu mustahil, bukan? Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.