Kuta

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Apa yang terjadi, ketika teror menyentak dan membantai, tapi juga membisu? Ketika semua berlangsung tanpa perlambang, tanpa bahasa, tanpa teater? Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, dan Manhattan, New York, 11 September 2001: betapa berbeda. Ketika dua bangunan World Trade Center yang menjulang hampir setengah kilometer itu dihantam dua kapal terbang, dan 3.000 orang tewas, dan gedung yang jangkung bagaikan menara itu terbakar dan runtuh secara mengerikan, drama itu punya panggung yang luas: langit pagi, musim panas yang cerah, cuaca yang tanpa cacat. Hari itu dunia pun menyaksikan sesuatu yang spektakuler yang mengharu-biru. Sebuah film? Sebuah berita? Kita sejenak tercengang. Kemudian kita sadar bahwa sebuah pembantaian besar yang riil terjadidan kenyataan akhirnya merenggutkan kita yang selama ini hidup diterpa bertubi-tubi simulacra, tak tahu persis lagi apa gerangan arti "kenyataan". Hari itu, melalui televisi, ratusan juta penonton pun terkejut, terguncang, menangis, luluh dalam perasaan, gentar, tapi juga tergugah. Bagaimanapun, pembinasaan dan destruksi besar Menara Kembar di Manhattan itu mengandung pelbagai elemen pokok dari tragedi: ada sebuah klimaks dengan gelora kebencian yang menakutkan, ada sebuah momen para hero. Hari itu heroisme itu tentu keji dan kelam, karena para pembajak yang berani membunuh diri itu juga pembantai manusia yang tak berdaya dalam ukuran besar. Setiap tragedi menampilkan khaos; kemudian, mencoba menawarkan makna, untuk memberi bentuk kepada horor. Maka dari serangan 11 September mungkin kita akan bilang: "menara kembar" itu sebuah perlambang sifat tamak dan angkuh. Atau pembantaian itu tanda fanatisme sebuah doktrin. Dengan kata lain, di dalam horor itu masih ada "bahasa". Seorang tokoh dalam novel Don DeLillo, Mao II, mengatakan, ketika seorang teroris membunuh orang-orang yang tak bersalah, itulah sebenarnya "bahasa"-nya _ yakni "bahasa yang meminta untuk diperhatikan". Tapi apa "bahasa" itu di Kuta, 12 Oktober 2002? Apa "bahasa" ketika bom besar itu meledak dan membunuh 200 manusia yang sedang bersukacita malam itu? Tak ada pentas. Tak ada yang menonton. Hari sudah gelap. Tempat itu tak mencolok. Klub malam itu tak punya ciri yang istimewa. Maka yang paling brutal pada malam itu adalah bahwa bahasa seakan-akan tak diperlukan. Juga perlambang. Juga pathos dan sejenis kepahlawanan. Yang hendak ditekankan hanya: pembantaian, perusakan, ekspresi kebencian, penyebaran ketakutan. Dalam arti itu pembantaian di Bali adalah kebrutalan dalam tingkat yang paling rendah: kekejaman sebagai sesuatu yang tak perlu menyampaikan pesan. Bahkan tak memerlukan tepuk tangan orang ramai. Adakah kita semakin masuk ke tingkat ini? Indonesia telah menyaksikan pelbagai kebengisan dalam skala besar, setidaknya sejak 1965. Di Jawa. Di Bali. Di Aceh. Di Lampung. Di Timor Timur. Di Papua. Kemudian, dengan pelaku lain, dengan metode lain, menjalar sampai ke Maluku dan Sulawesi, juga Kalimantan. Tapi kekejaman-kekejaman itu setidaknya mencoba menjelaskan diri. Ada yang atas nama ideologi. Ada yang atas nama agama. Ada yang atas nama "kaum", dan juga "bangsa". Ada pembunuhan karena ketakutan, atau kebencian, atau dendam. Masing-masing mengandung Iblis yang bertaut dengan manusia. Tapi pembantaian di Bali semakin mengerikan karena justru tampaknya ia telah masuk ke suatu tingkat ketika Sang Iblis seakan-akan tak perlu hadir lagi dalam manusia. Malam itu, ada sesuatu yang amat "evil", tapi tampaknya "evil"kata yang tak ada padanannya dalam bahasa Indonesiasemakin tak punya arti khusus. Artinya telah jadi sekadar "kejahatan", satu kategori dengan, katakanlah, mencuri ayam. Haruskah kita kini juga bicara, seperti Hannah Arndt, tentang the banalization of evil? Adakah kekejian begitu tertanam ke hidup sehari-hari di Indonesia, seperti begitulah kiranya di Jerman di masa Nazi, yang menyebabkan seorang dengan tanpa guncangan hati menggiring jutaan orang Yahudi untuk diracuni di kamar gas? Terus terang, saya tak tahu. Saya hanya membayangkan bahwa pada tengah malam 12 Oktober, para pembunuh yang merancang dan meledakkan bom malam di Kuta itu saling bersalaman, lalu berangkat entah ke mana, mungkin untuk tidur. Mungkin mereka akan raib, tak dikenal, seperti orang-orang yang lalu-lalang di jalan raya, seperti para pembunuh sebelumnya. Dan kita, apa yang kita lakukan? Menduga-duga siapa para pelaku, mengikuti kecurigaan yang paling cocok dengan pandangan politik sendiri, dan merasa pintar karena ituseperti seorang pengarang cerita detektif? Akhirnya, "bukan kematian itu benar yang menusuk kalbu", (seperti kata sekalimat sajak Chairil Anwar), tapi gampangnya kita melihat, bahwa kejahatan cuma urusan para detektif. Iblis berhasil. Iblis berhasil ketika ia bisa membuat kita percaya bahwa ia tak ada. Mungkin itu sebabnya kita perlu datang ke Kuta, dalam imajinasi ataupun tidak, dan menyaksikan wajah Sang Keji dengan intens, pada tiap tubuh yang robek, yang putus, dan yang berkeping-keping di puing-puing itu. Dari lanskap mengerikan yang konkret itu kita mungkin juga bisa bertanya: apa saja yang di sini dicoba dihancurkan? Manusia, apa pun paspornya. Indonesia, yang jadi gelap oleh darah. Harapan, yang mencoba seperti burung phoenix yang bisa terbang utuh dari api. Ya, harapan akan makna, akan isyarat, akan percakapan, justru ketika manusia saling membenci. Kini, di mana semua itu? Saya tak tahu. Tapi saya ingat di sebuah masa yang paling kelam, seseorang pernah mengatakan, "Jangan kita kutuk gelap. Kita nyalakan lilin." Goenawan Mohamad

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...