Detektif

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari puing-puing suram yang terhantar setengah kilometer persegi itugedung Sari Club dan Paddy's yang remuk, barisan kerangka mobil yang hangus dan ringsek, lubang besar di tanah yang bak liang lahat, pelbagai bangunan yang ambyar di Jalan Legianberkembang sebuah cerita dari ledakan bom 12 Oktober. Bukan kisah teror dan kekejaman, melainkan kisah dua macam alam pikiran. Yang satu bergerak di antara hantu-hantu besar. Yang lain bekerja di antara benda-benda kecil. Yang satu membentuk sebuah mithologi baru. Yang lain membangun sebuah cerita detektif yang klasik.

    Aneh atau tak aneh, Bali, di bulan November 2002, mengingatkan saya akan sesuatu yang jauh dan juga imajiner: sebuah biara di Pegunungan Apennines, di bulan November 1327, dalam novel Umberto Eco yang terkenal itu, Il Nome della Rosa. Kita tahu, novel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Name of the Rose ini dengan cerdas dan memikat menjadi sebuah cerita detektif yang unik: latar belakangnya adalah sebuah tempat di mana Tuhan dan Setan diperlakukan sebagai Sang Sebab.

    Itu sebabnya cerita detektif yang diperankan oleh para rohaniwan Kristen di abad ke-14 ini pada dasarnya sebuah alegori tentang sebuah bentrokan. Di satu sisi ada sebuah kekuatan gelap pra-ilmiah yang berkerumuk di sebuah perpustakaan yang tak bisa dijelajahi. Di sana kitab-kitab ditutup, karena ada keyakinan bahwa kebenaran dan kebohongan hanya akan jadi kacau bila banyak orang mempersoalkannya. Di sisi lain adalah pikiran yang jernih dan terang, yang bergerak di antara dunia yang konkret, beragam, terhantar di bumidan pikiran yang pintar membaca semua itu sebagai tanda.

    Pikiran yang pintar itulah yang ditunjukkan oleh tokoh utama novel ini, Bruder William dari Baskerville. Setahap demi setahap ia akhirnya berhasil memecahkan teka-teki pembunuhan di tempat yang terpencil itu. Ia menang atas sang penjahat: seorang padri tua yang buta, yang dengan bengis mencegah tiap orang yang ingin membaca sebuah kitab yang terlarang. Maka bila William dari Baskerville menang, ia menang atas kejahiliahan.

    "Baskerville": dengan itu agaknya Eco hendak mengingatkan kita akan karya Sir Arthur Conan Doyle, The Hound of Baskerville. Kita semua kenal di sana berperan Detektif Sherlock Holmes yang masyhur itu: sosok manusia dari zaman ketika pemikiran induktif menang. Dalam cerita The Boscombe Valley Mystery, ia berkata: "Kau tahu metodeku. Metodeku berdasarkan pengamatan soal-soal sepele."

    Dalam novel Eco, metode William juga menebak tanda dari benda-benda sepele: jejak kuda pada salju, misalnya. Alam semesta, ujar William, "tak hanya bicara tentang hal-hal yang paling luhurtapi juga tentang hal-hal yang dekat." Dengan kesadaran ini, cara berpikir yang bebas dari doktrin dan takhayul pun lahir. Itu sebabnya William menyebut diri sebagai penerus semangat Sir Francis Bacon. Tentu saja ada kejanggalan waktu di sini, karena Bacon hidup di abad ke-17, tapi Eco memang tak bermaksud menulis sebuah novel sejarah. Sebuah alegori boleh saja janggal di sana-sini. Yang penting adalah arahnya, yang mempertentangkan alam pikiran Zaman Keimanan di abad ke-14 dengan Zaman Penalaran yang datang kemudian. Bacon menulis Novum Organum untuk memperkenalkan satu sistem baru dalam berpikir: melalui pengalaman dan percobaan.

    Dari observasi dan eksperimen juga ilmu lahir dan tumbuhdemikian pula kerja para detektif. "Penyidikan", kata Sherlock Holmes dalam The Sign of Four, "adalah, atau seharusnya adalah, sebuah ilmu eksakta."

    Dalam artinya yang sederhana, "ilmu eksakta" tak berangkat dari bayangan tentang hantu-hantu. Karena itu, hasil sebuah kerja detektif yang rapi bukanlah sebuah mithologi, dengan dewa kebaikan dan dewa kejahatan yang muncul-menghilang. Yang secara cemerlang ditunjukkan oleh polisi Indonesia dari sisa-sisa kebuasan bom di Legian adalah sebuah proses yang bertolak dari, untuk memakai kata-kata Bacon, "perpaduan dua kemampuan, yang eksperimental dengan yang rasional".

    Dengan kata lain, polisi tak bertolak dari sebuah teori tentang Sang Sebab. Dari Washington, DC, Paul Wolfowitz memang berteriak tentang Setan "Al-Qaidah". Dari Makassar, para tokoh Islam memang berteriak tentang Iblis "CIA". Tapi para detektif yang bekerja di Legian tak berteriak apa pun. Mereka dengan tekun memungut puing-puing sebuah mobil yang ditemukan sudah ringsek, pecahan mesin dan bodi yang terserak di pasir, nomor rangka yang nyaris punah. Mereka mungkin tak pernah membaca petualangan Sherlock Holmes, namun mereka menjalankan asas kerja detektif terkenal itu: "Merupakan satu kesalahan besar untuk berteori sebelum kita punya data," ujar Holmes dalam cerita pendek Scandal in Bohemia.

    Kemudian tertangkaplah Amrozi. Lalu? Siapa tahu kelak akan terbongkar bukan saja jaringan kejahatan di Legian itu, tapi sesuatu yang terletak jauh di baliknya: pintu-pintu yang tertutup dari sebuah taman bacaan yang tak boleh dijelajahi, di mana kitab-kitab dikunci, karena ada keyakinan bahwa kebenaran dan kebohongan hanya akan jadi kacau bila banyak orang mempersoalkannya. Dalam ruang seperti itu, hantu-hantu akan berkeliaran. Jin dan kuntilanak akan menguasai pikiran manusia. Para dukun membangun berlapis-lapis teori yang hanya berdasar duga dan wasangka. Di saat itulah kita akan memerlukan para detektif. Sebab para detektif bertolak ke kegelapan bukan dengan jawab, melainkan dengan pertanyaan.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.