Menyambut RUPS, Melelang AYDA

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Investor yang pernah menawar murah aset yang diambil alih (AYDA) pada Bank Lippo kini harus siap melupakan aset-aset yang pernah menghebohkan itu. Soalnya, rapat umum luar biasa Bank Lippo yang digelar Senin, 5 Mei 2003, di Hotel Aryaduta berencana membatalkan penjualan yang terjadi menjelang Natal 2002. Dan aset-aset tersebut, yang rata-rata hanya ditawar 16 persen dari harga sebenarnya, akan dilelang kembali. Sebagai pemegang saham terbesar di bank itu, 59 persen, Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sudah memutuskan menjual aset itu secara gelondongan. Kali ini, lembaga itu mengklaim akan menetapkan persyaratan yang cukup ketat. Paling tidak, Deputi Restrukturisasi Perbankan BPPN, I Nyoman Sender, mengatakan AYDA tak boleh dijual murah. AYDA adalah aset yang dijadikan agunan oleh kelompok Lippo untuk menalangi utangnya ke Bank Lippo. Nilainya ketika diserahkan ke bank tersebut pada tahun 1998 mencapai Rp 2,4 triliun. Isu seputar AYDA merebak ketika manajemen Bank Lippo mengeluarkan dua laporan keuangan per 30 September 2002 dengan isi yang berbeda. Satu laporan keluar ke publik, yaitu 27 November 2002, dengan nilai AYDA Rp 2,4 triliun. Sebulan kemudian keluar laporan ke Bursa Efek Jakarta dengan nilai AYDA yang sudah merosot menjadi Rp 1,42 triliun. Akibatnya, rasio modal bank tersebut turun menjadi 4,23 persen. Sumber TEMPO mengatakan, sebuah tim sudah dibentuk untuk memuluskan jalannya rapat. Pertemuan sebelumnya di Hotel Dharmawangsa gagal mengambil keputusan karena peserta tak mencapai kuorum. "Supaya rapat tinggal ketok palu," katanya. Sejumlah pertemuan digelar, salah satunya dilangsungkan Selasa pagi minggu lalu di Hotel Aston. Tim yang anggotanya gabungan para "dokter" perbankan dan manajemen Bank Lippo ini punya tugas: mencari solusi agar investor yang kadung ditunjuk sebagai pemenang Desember lalu tidak sampai menggugat ke pengadilan. Tim juga sibuk memilah-milah aset yang akan dimasukkan dalam AYDA. Namun, ada isu yang lebih panas dan berkembang belakangan. Ada gerakan "menggoreng" saham Bank Lippo yang dilakukan Ciptadana Sekuritas (lihat, Ada Lagi Transaksi Jumbo). Tujuannya? Tak begitu jelas, tapi tampaknya masih ada kaitannya dengan rapat Senin pagi ini. Soal mengobok-obok AYDA, itu memang bukan hal baru. Data yang diperoleh majalah ini menunjukkan, sejak diserahkan ke Bank Lippo sebagai pembayar utang Grup Lippo, jumlah dan jenis AYDA selalu berubah-ubah (lihat tabel). Tentu fakta ini terasa ganjil, apalagi kalau dikaitkan dengan kebiasaan yang lazim berlaku: bila ada penyerahan aset, selalu disertai dengan pengikatan. Artinya, aset mana saja dan berapa jumlah aset yang termasuk dalam grup AYDA harus sudah sangat jelas. Kalau pengurangan aset terjadi karena terjual, tentunya tak masalah. Justru ini yang diharapkan. AYDA dijual dan duitnya masuk ke kantong. Kenyataannya, aset itu hilir-mudik ke sana kemari, lebih karena pengelola bank dan pemilik aset adalah orang yang sama. "Kalau pemilik menginginkan aset tertentu, dia bisa minta dikeluarkan dan diganti dengan aset lain," katanya. Praktek ini berlangsung terus sampai tahun 2002. Bahkan, untuk lebih memuluskan, manajemen Bank Lippo membentuk tim operasional (joint operation) dengan Grup Lippo untuk mengelola aset tersebut, termasuk melakukan penjualan. Analis Mirza Adityaswara mengatakan, dalam praktek normal, seharusnya pada waktu diambil alih sudah dilakukan pengikatan terhadap jumlah dan jenis aset. Jadi, aneh sekali bila setiap tahun terjadi perubahan jumlah dan ragam harta itu. Anehnya, BPPN sebagai pemegang saham terbesar Bank Lippo menganggap soal ini lumrah. Nyoman Sender, misalnya, mengetahui adanya aset yang keluar dan masuk. "Mungkin mau dijual atau diganti dengan yang lain," ujarnya enteng. Soal persiapan tim menjelang rapat umum luar biasa, Sender, yang mengakui adanya pertemuan, menganggap biasa saja. Soal aset yang wara-wiri ini ternyata selama bertahun-tahun luput dari pengawasan BI. Mengherankan, memang, padahal bank sentral punya "mata-mata" di bank itu. Kepala Biro Komunikasi BI, Rusli Simanjuntak, mengatakan BI hanya berpatokan pada rasio kecukupan modal. Selama angka ini tak terganggu, BI menganggap tak ada yang salah dengan aset-aset tersebut. Memang, meski silih berganti, nilai keseluruhan aset itu tak berbeda jauh dari tahun ke tahun. Pengelola aset selalu mencari pengganti yang pas nilainya sehingga nilai total tak terganggu. Sampai kemudian tahun 2002, ketika aset-aset tersebut benar-benar akan dijual, nilainya turun tajam sehingga rasio kecukupan modal tergerus. Di sinilah untuk pertama kalinya bank sentral tersentak. Doli Siregar, Direktur Utama PT Satyatama Graha Tara, salah satu penilai AYDA, mengatakan persoalan AYDA Lippo seperti bom waktu yang siap meledak di tempat lain. "Ini seperti petasan yang ledakannya sambung-menyambung," katanya. Bisa jadi apa yang dikhawatirkan Doli benar. Kasus Lippo baru secuil dari segunung persoalan tentang penilaian aset yang kebetulan terungkap. Banyak aset negara yang masuk ke perbankan karena krisis, tak dikelola dengan baik. Aset-aset itu malah sengaja digembosi nilainya untuk kepentingan segelintir orang. Tapi, Komisaris Bank Lippo, Roy Tirtadji, membantah semua sinyalemen itu. Persiapan yang dilakukan tim sebatas kebijakan yang akan diambil terhadap aset-aset tersebut. Dia juga mengatakan belum ada AYDA yang dijual. Karena harga yang ditawarkan investor Desember lalu rata-rata hanya 16 persen dari harga sebenarnya, pelelangan ditangguhkan. Soal aset yang hilir-mudik, dia tak mau berkomentar. "Saya harus lihat datanya," katanya mengelak. Leanika Tanjung

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...