Jarak

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dalam waktu satu-dua jam, 50 ribu orang mati di sudut Iran. Jumlah itu bisa lebih. Tapi kita sebaiknya tak bicara soal Tuhan dan manusia.

    Ketika 26 Januari 2001 Gujarat dihantam gempa, dan diperkirakan 30 ribu orang tewas, sekelompok anggota "Lashkar-i-Toiba" menyimpulkan: itulah hukuman Allah atas orang Hindu di negara bagian itu; mereka telah membunuh dan menganiaya minoritas muslim, Kristen, dan Sikh di India. Seorang menteri yang beragama Kristen di Negara Bagian Karnataka setuju. Bahkan ada orang Hindu yang mengangguk: "Ini memang hukuman Shiva kepada kami."

    Benarkah? Saya ragu. Sebab saya ragu benarkah semua orang yang tewas itu—termasuk anak-anak—berdosa kepada kaum minoritas. Saya ragu bila Tuhan ceroboh dan tak adil. Dan bagaimana kita akan mengaitkan bencana di Iran pekan lalu itu dengan laknat? Di pojok itu tak pernah terdengar ada minoritas yang dibantai, tak ada pesta mabuk, zina massal, dan pembobolan bank ramai-ramai.

    Pada akhirnya kita harus bicara soal manusia dengan manusia. Bahkan bukan soal manusia dengan alam. Gempa tektonik terjadi karena struktur bumi yang apa boleh buat. Hanya Superman, dalam film, yang bisa membereskan lempeng-lempeng San Andreas Fault di bawah bumi California. Berapa kali sudah wilayah ini terkena guncangan? Dan bukankah orang di sana masih menunggu gempa yang lebih besar—sambil terus me- nikmati tamasya Big Sur di tepi Pasifik, mengolah anggur, dan menjual film porno?

    Gempa seperti lotre dan kanker: ia tak bisa diantisipasi, tapi kita tahu ia bisa sewaktu-waktu datang, dan di sini berlaku nyanyian Rod Stewart: "Some guys got all the luck, some guys got all the pain." Bencana itu memukul Iran berkali-kali, dan bukan Monaco. Apa mau dikata. Sejak tahun 130, ketika ilmuwan Cina Chang Heng mencoba menebak gempa yang disangkanya gelombang angin di bawah tanah, sampai kini hanya sedikit yang dapat diprediksi, dan semuanya tak bisa dicegah. Kata para pakar, tiap tahun rata-rata terjadi 50 ribu getaran dengan skala 3 sampai 4 Richter, dan 800 kali dengan skala 5 sampai 6.

    Ya, kita harus bicara tentang manusia dan manusia. Terutama ketika gempa menyangkut hidup yang hancur dan anak-anak yang mati. Dalam The Theory of Moral Sentiment-nya yang agak kurang tersohor, di tahun 1759 Adam Smith telah menyebut bencana alam itu dalam perspektif itu.

    Misalkan, kata Smith, Kerajaan Cina dengan jumlah penduduknya yang besar itu tenggelam karena gempa. Orang di Eropa mungkin akan sedih, menyatakan belasungkawa, membayangkan beratnya kemalangan di negeri jauh itu. Mereka mungkin akan memperkirakan akibat malapetaka itu bagi perdagangan Eropa. Tapi setelah itu, hidup tak terguncang. Yang hendak main tenis akan terus ke lapangan, yang mau meminang akan tetap mengenakan baju terbaik dan membeli bunga.

    Tapi bandingkan, kata Smith, jika [si orang di Eropa] tahu bahwa ia akan kehilangan jari manisnya besok. "Ia tak akan bisa tidur malam ini." Dan tentang malapetaka di Asia itu, "ia akan mendengkur dengan rasa aman yang paling dalam di atas remuk-redamnya seratus juta jiwa saudara-saudaranya."

    Di tahun 1759 itu, Smith menggunakan kata "saudara-saudara" (brethren) untuk jadi kata ganti "orang Cina". Sepatah kata yang mengusik, yang membuka hati: bahwa jarak—yang di zaman itu membentuk perbedaan besar di bumi—bisa mengakibatkan ketak-pedulian.

    Smith mungkin tahu: empat tahun sebelumnya, beberapa hari setelah gempa besar menghajar Lisabon dan 100 ribu orang tewas, Voltaire menulis sebuah sajak yang marah, Poème sur le désastre de Lisbonne: "Lisabon dalam puing, orang berdansa di Paris."

    Tentu saja Voltaire berlebihan. Di zamannya, malapetaka di ibu kota Portugal itu baru diketahui orang di ibu kota Prancis 23 hari kemudian. Si pembawa berita mungkin tiba dengan kuda yang hampir pingsan.

    Kini "jarak" mengandung paradoks. Teknologi—khususnya satelit—telah mengubah hubungan manusia dengan pengertian itu. Kini yang terjadi di kota Bam bisa tiba tanpa tertunda di sebuah kamar di kota Bon. Guncangan itu tak mengenal lagi tapal batas dan jarak—hal yang sebenarnya dapat dikatakan tentang dolar Amerika, terorisme, Kitab Suci, dan Lord of the Rings.

    Atau "jarak" telah jadi sesuatu yang lain, yang tak dapat diukur dengan mil. "Jarak" kembali jadi ekspresi dunia subyektif: hati dan pikiranku dekat dengan korban di Iran atau tidak, imajinasiku akrab dengan si Frodo dalam fantasi Tolkien atau tidak.

    Dengan catatan: "jarak", seperti disebut dalam buku Adam Smith, sampai sekarang pun masih dipengaruhi oleh "melihat". Apalagi televisi kian pegang peran penting dalam dunia subyektif kita: hari ini, dunia di luar sana jadi mudah dibentuk dengan "zoom-in" dan dijauhi dengan "zoom-out". Masalahnya: ketika sang subyek makin mampu menentukan sang obyek, ketika aku makin mampu memandang dia dengan cara yang kupilih, tak selamanya "melihat" menimbulkan "rasa dekat".

    Memang, televisilah yang menyentuh orang Amerika menghimpun dana untuk para korban di Iran itu. Tapi di ruang kontrol markas tentara Amerika Serikat, opsir-opsir yang terlatih bisa "melihat" sasarannya yang bakal celaka nun di Bagdad, sebelum meluncurkan "bom cerdas", tanpa merasa perlu menyaksikan darah muncrat dan ubun-ubun hancur.

    Walhasil, dengan televisi dan "bom cerdas", dunia tak dengan sendirinya jadi bagus. Tapi hanya itukah, warna kelam, yang kita miliki? Pangloss, tokoh yang tak terlupakan dalam Candide, novel Voltaire, adalah seorang super-optimis. Ia percaya, "karena semua diciptakan untuk satu tujuan, maka semua diciptakan untuk tujuan yang terbaik." Voltaire membuat kita tertawa geli mendengar itu. Ia ingin agar kita ingat: pada suatu hari di Lisabon, "seratus ribu semut, sesama kita, mendadak tertimbun di busut kita."

    Semut? Setidaknya hari ini kita makin tahu: mereka bukan semut, kita bukan semut. Ada yang menangis karena seseorang menangis.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pelonggaran Kembali PPKM: Aturan Baru WFO, Bioskop, dan Anak-anak

    Pemerintah kembali melonggarkan sejumlah aturan PPKM yang berlaku hingga 4 Oktober 2021. Pelonggaran termasuk WFO, bioskop, dan anak-anak di mall.