Terang, Gelap, Harap

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kalender selalu sampai di lembar terakhir, kita selalu tiba di pangkal pertanyaan: benarkah harapan mungkin? Tiap Desember orang memperkirakan dan merancang. Mereka sebenarnya bertanya. Tahun 2005 suram? Pertumbuhan di atas 5 persen? Akan ada teror baru?

    Statistik dan astrologi memberi jawaban yang selalu siap untuk cacat. Tiap ramalan adalah orakel. Tapi kita memasuki tiap tahun baru (pesta yang seru, trompet kertas yang dipekikkan di jalan-jalan, atau doa seorang diri di kamar sempit) dalam sebuah sikap yang tak selamanya diucapkan: hidup tak pernah indah, sebenarnya, tapi berharga.

    Memang ada orang yang membuat diri jadi peledak agar hancur apa yang dilihatnya sebagai musuh yang jahat, ada Jasih dari Kelurahan Lagoa yang membakar diri dan anak-anaknya karena merasa habis dalam kemelaratan, tapi mungkin justru itu juga isyarat: bagi si pengebom-bunuh-diri, hidup begitu berharga hingga kematiannya adalah pemberian yang paling luhur bagi sebuah tujuan agung; bagi Jasih, hidup begitu berharga hingga penderitaan tak patut melekat di dalamnya.

    Di dunia yang berjejal-jejal, yang kumuh, korup, bengis, dan tak adil?yang tiap hari kita alami dengan mata nyalang di jalan-jalan Jakarta?orang toh tetap tak memutuskan, "Ah, tak perlu hari esok." Orang akan tetap bangun tidur, membersihkan pelataran, atau jogging, atau mendengarkan kuliah subuh, terus melakukan hal-hal yang dilakukan kemarin dan akan dilakukan nanti. Rasa putus asa yang radikal tak bisa memikat orang ramai. Sampai hari ini belum pernah ada sebuah masyarakat yang berduyun-duyun seperti lemming menenggelamkan diri di laut.

    Dengan kata lain, orang ber-harap, meskipun mungkin tidak meng-harap. Ada sebaris kata-kata yang bagus dari Vaclav Havel, ketika ia masih seorang sastrawan yang menarik, tentang beda mendasar antara "harapan" dan "optimisme". Harapan, kata Havel, "bukanlah keyakinan bahwa hal-ihwal akan berjalan baik, melainkan rasa pasti bahwa ada sesuatu yang bukan hanya omong kosong dalam semua ini, apa pun yang akan terjadi akhirnya."

    Havel tak menguraikan bagaimana halnya optimisme. Tapi dapat ditarik kesimpulan di sini: optimisme adalah keyakinan yang kurang-lebih utuh dan konsisten tentang masa depan. Mungkin sebab itu optimisme mengandung sikap yang gagah, tapi itu juga dapat berarti jumawa, dan itu berarti pongah. Sebab sebenarnya tak ada kemampuan dalam diri manusia yang secara konsisten dan utuh menangkap (tak hanya memperkirakan) "apa-yang-akan-datang". Bahkan juga "apa-yang-lalu" dan "yang-kini" tak dapat sepenuhnya diketahui dan dijadikan dasar bagi tindakan. Optimisme adalah ibarat iklan rumah yang akan dijual: selalu dengan cahaya terang-benderang, tapi selalu cenderung menyenangkan calon pembeli, maka ditambah ilusi, juga dusta, biarpun sedikit.

    Maka ada beda yang jauh antara ber-harap dan meng-harap. Ber-harap adalah berada dalam harapan yang sudah ada. Di sini harapan bukanlah sesuatu yang disengaja dan diniatkan. Dalam ber-harap tersirat sikap yang lebih rendah hati menghadapi ruang dan waktu. Orang Islam menghubungkannya dengan taqwa. Sebuah konsep yang unik, sebab di situ sekaligus termaktub dua kecenderungan yang sebenarnya bertentangan: "pasrah" dan "tekad".

    Dalam khazanah agama, taqwa merekatkan kedua kecenderungan itu dalam "iman". Jika kita perhatikan benar, agama memang meletakkan "harapan" di pusat dirinya. Iman menghibur, meskipun sukar, meskipun sunyi. Kita diberi tahu bahwa hidup sebenarnya abadi, dan yang kekal akan datang setelah kematian. Kita diberi tahu tentang Taman Firdaus, atau pencapaian rohani yang akhirnya berarti kebebasan dari kesengsaraan dunia. Bagi agama, tanpa iman, harapan mustahil.

    Di abad ke-13 Thomas Aquinas menjelaskan kenapa. Ia mengatakan bahwa harapan harus dibedakan dari "hasrat", karena harapan adalah "muskil" (dan hasrat tidak demikian); harapan juga harus dibedakan dari putus asa, karena ia "mungkin". Bergerak bolak-balik dan timbul-tenggelam antara "muskil" dan "mungkin" itu, harapan membutuhkan Tuhan. "Tak ada orang yang mampu sendirian menangkap kebaikan luhur dari kehidupan abadi; ia perlu bantuan ilahi," begitulah kata Santo Thomas. Maka ada satu hal yang berlipat dua: "kehidupan abadi ke mana kita berharap, dan bantuan ilahi dengan apa kita berharap".

    *****

    Di abad ke-21, orang tetap menghubungkan harapan dan iman, seperti dulu. Tapi berbeda dengan yang dibayangkan Thomas Aquinas: hari ini "bantuan ilahi" penting, tapi untuk agenda yang berbeda sama sekali. Di abad ke-21 banyak orang tak melihat lagi bahwa harapan sering terbanting-banting bergerak antara "muskil" dan "mungkin". Yang mereka lihat, harapan tak lagi sesuatu yang misterius. Banyak orang berada dalam posisi meng-harap, bukan ber-harap.

    Dalam meng-harap aku menghadapi dunia dan masa depan sebagai sesuatu yang kukehendaki. "Apa-yang-akan-datang" kutarik ke arahku, dan dengan itu kuketahui dan kukuasai. Iman dan harapan di sini bertumpu pada subyektivitas yang kuat: aku melangkah ke masa depan karena sebuah kehendak, dengan kesadaran yang utuh karena sebuah niat, dengan langkah yang teratur dan efektif karena akal. Tuhan bersamaku: Ia membuat kehendak, niat, dan akalku menjadi bertambah dahsyat. Tuhan bersamaku: Ia hadir bukan untuk mengingatkan kelemahanku, melainkan untuk membuatku, sebagai subyek, mengatasi bagian diriku yang tak hendak ikut titah sang subyek?misalnya tubuhku.

    Subyektivitas yang kuat itu yang membentuk dunia modern, sampai hari ini. Modernitas adalah optimisme. Dengan kehendak yang kukuh, kesadaran yang stabil, dan akal yang tajam, kemajuan pun menderu laju. Dari deru itu bangkitlah sebuah masyarakat yang bagaikan penenung dapat menyulap tanah dan air jadi sumber produksi yang perkasa. Di Eropa, tempat lahir modernitas ini, dalam waktu yang tak sampai seratus tahun telah lahir "kekuatan produktif yang lebih pejal dan lebih kolosal ketimbang yang himpunan hasil karya seluruh generasi sebelumnya". Kata-kata ini, datang dari Marx dan Engels dalam "Manifesto Komunis", menggambarkan betapa gemuruhnya kemajuan manusia semenjak sejarah baru ini, yang pada dasarnya sejarah yang dipelopori kaum borjuasi. Yang tak disangka Marx dan Engels ialah bahwa kaum ini sampai hari ini tetap jadi penggerak optimisme.

    Memang ada yang membuat kita risau dalam proses itu. Ada yang menggambarkan zaman modern yang menang ini telah membentangkan jalan yang bersinar-sinar, tapi tiap cahayanya menyembunyikan malapetaka. Para cendekiawan, para pemuda progresif, para rohaniwan prihatin dan entah siapa lagi telah berulang-ulang mengecam kemajuan borjuis itu, dan mengutuk Tuan Modal sebagai sesuatu yang jahat. Teriakan itu masih keras, tapi belum ada juga yang tahu bagaimana menghentikan kapitalisme. Marx, Lenin, Mao pernah mencobanya, dan pernah sosialisme merupakan cara orang meng-harap. Sosialisme adalah optimisme. Tapi kemudian kita tahu ia gagal. Yang pandai merencanakan pembagian kue yang sama-rata tak dengan sendirinya pandai membuat kue yang cukup.

    Maka apa yang tinggal, setelah tiap kali halaman terakhir kalender kita robek? Mungkin harapan dan iman dalam versi abad ke-21. Dengan kata lain, yang akan hadir adalah aku yang memandang "yang-akan-datang" dengan mantap, sebab aku adalah subyek yang terbangun oleh kehendak, niat, dan akal yang bertambah dahsyat karena aku punya kepastian?yakni kepastian yang diberikan agama. Persoalan yang akan timbul ialah bagaimana subyek-plus-iman yang menganggap diri dahsyat itu akan terhindar dari ilusi optimisme.

    Ada satu sajak menarik dari Iqbal yang menggambarkan dialog antara Tuhan dan manusia. Kita tahu bahwa Iqbal percaya, manusia adalah Khalifah Tuhan di atas bumi, dengan "kemerdekaan ego-insani" yang didapatnya dari sang Pencipta. Syahdan, manusia berkata, dengan bangga:

    Kau buat malam, aku buat lampu
    Kau buat lempung, aku bentuk cupu

    Tapi dalam sajak Iqbal itu pula Tuhan menjawab, mengingatkan manusia akan sisinya yang menakutkan:

    Dari bumi kusediakan baja sentosa
    Tapi kau menjadikannya pedang dan senjata

    Baris-baris terakhir itu adalah kritik kepada modernitas, tentu saja. Tapi bukan hanya modernitas yang "kufur". Siapa saja manusia yang mengerahkan diri untuk mengalahkan, menjinakkan apa saja yang di luar dirinya?malam, lempung, baja?pada akhirnya menobatkan diri sebagai maharaja alam: sang Khalifah menjadi berhala yang terasing.

    Salah satu kekeliruan subyektivitas yang demikian perkasa ialah tak melihat bahwa harapan punya sisi lain, yakni "muskil". Kepastian tak pernah ada. Manusia, juga bila ia seorang "pelopor" dalam pengertian Sayd Qutb?yang dianggap dapat menjaga arah perjalanan orang beriman ke masa depan yang bukan jahiliyah?adalah makhluk dengan tubuh dan sejarah yang tak terduga. Ia bertindak, dan menjadi subyek, karena ia kurang.

    Orang-orang alim, termasuk Thomas Aquinas, menyangka bahwa yang kurang akan dipenuhi dan yang tak terduga akan dapat ditertibkan dan harapan akan beres dalam bimbingan ilahi. Tapi ini abad ke-21: Tuhan tak tampak. Kita tak pernah tahu adakah Ia sedang "membimbing" atau kita saja yang mengkhayalkan-Nya. Tuhan, yang bahkan tak dapat dipikirkan, hanya datang meyakinkan kita di saat kita menemukan bayang-bayang-Nya?hanya bayang-bayang-Nya?dalam diri manusia yang kita temui sehari-hari. Itulah tanda bahwa manusia niscaya mulia, tapi dalam hidupnya dalam sejarah, kemuliaan adalah sesuatu yang mustahil.

    Optimisme mengabaikan ini, tapi harapan tidak: manusia adalah makhluk yang genting.

    *****

    Takut akan kecewa, kita memainkan ironi. Begitu banyak cita-cita gagal, maka lebih baik menerima apa yang sementara. Yang penting kita tak berdusta pada diri sendiri bahwa kita memang menyukai manusia, kebersamaannya, dan lingkungannya. Kita tak mungkin akan angkat tangan bila malapetaka terjadi pada semua itu. Kita tak putus asa bahwa ada yang diperbaiki?meskipun kita tak akan sepenuhnya tahu, apa arti "baik" yang tersimpan dalam pengertian "diper-baik-i" itu. Sebab ukuran beragam, silih berganti. Bahkan titah Tuhan tak selamanya jelas; para orang pandai menulis beribu-ribu buku untuk menafsirkannya.

    Tapi tahun 2005 datang, kalender telah dirobek, dan begitu banyak hal yang kita tahu tidak beres. Ironi saja tak akan membuat kita melangkah. Berpegang pada yang sementara dan titah kebaikan yang tak jelas, kita toh tetap memilih laku. Kita tak meng-harap. Kita ber-harap. Tanpa optimisme. Tapi kita tahu bahwa dalam hidup, gelap tak pernah lengkap, terang tak pernah sepenuhnya membuat siang. Di dalam celah itulah agaknya harapan: sederhana, sementara, tapi akan selalu menyertai kita jika kita tak melepaskannya.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.