Passarola

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • DI negeri di mana ratusan orang harus dibakar mati karena dianggap menyalahi ajaran Tuhan, manusia memerlukan Passarola.

    "Passarola" konon dalam bahasa Portugis berarti "burung besar". Dalam novel Jose Saramago, Memorial do Convento, "burung besar" itu adalah mesin kreasi Padre Bartolomeu Lourenço. Pesawat itu bisa terbang dengan kekuatan zat penggerak berupa "kemauan manusia". Padre Bartolomeu Lourenço seorang padri yang diam-diam tidak 100 persen percaya kepada apa yang dipercaya Gereja. Dengan kata lain, ia juga orang yang, apabila ketahuan oleh Dinas Suci Inkuisisi, harus dibakar. Di zaman di abad ke-18 itu—sebagaimana dilukiskan Saramago dalam karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai Baltasar and Bilmuna ini—tiap tuduhan bid'ah, tiap penyimpangan laku dan keyakinan, harus dibinasakan: artinya dihanguskan sampai mati dalam api di tengah plaza kota Lisabon, dalam sebuah auto-da-fé.

    Padre, apa yang Bapak takuti? Mendengar pertanyaan ini saja pastor itu gemetar, dan ia berdiri, menuju ke pintu, mengintip ke luar sebelum menjawab dalam bisik, Dinas Suci Inkuisisi.

    Ada beberapa sebab mengapa teror itu sampai ke ulu hati rohaniawan itu. Ia berada di persimpangan antara doktrin yang dipastikan oleh kekuasaan dan pengetahuan yang berangkat dari pikiran bebas. Berada di persimpangan berarti tak patuh - demikianlah setiap ajaran yang hidup dalam suasana totaliter, yang menuntut manusia berubah 100 persen dari keraguan menjadi percaya. Seorang manusia dari masa "Pencerahan" adalah laknat. Dan itulah posisi sang padri.

    Di akhir novel kita diberitahu bahwa Padre Bartolomeu Lourenço bukanlah tokoh imajinasi. Ia ada dalam sejarah. Ia lahir di Santos, Brasil, sekitar tahun 1685. Ia lulus dari seminari di Belém di Bahia. Di tahun 1708 ia berangkat ke Portugal dan menarik perhatian karena daya ingatnya yang menakjubkan dan kemampuan tekniknya. Di tahun berikutnya ia mengirim sebuah memorandum ke Raja João V, mengatakan bahwa ia telah menemukan sebuah alat "yang dapat berjalan melalui udara, melintasi laut dan darat". Ia dicemooh. Sebuah satire menyebutnya "O Voador" (Manusia Terbang). Ia memang tak membuktikan dirinya berhasil, tetapi di bulan Agustus 1709 ia menemukan kapal udara sederhana, dan karena bentuknya seperti seekor burung besar, diberi nama "La Passarola".

    Dalam novel Saramago, "Passarola" menjadi kiasan: dengan itulah sang padri terbang melarikan diri ketika para petugas Dinas Suci Inkuisisi mencarinya. Dalam sejarah, memang ia didesas-desuskan meninggalkan Gereja Katolik dan memeluk agama Yahudi - dan itu perlu dihukum mati. Dalam novel Saramago, dosa Padre Bartolomeu Lourenço hanyalah meragukan doktrin Trinitas, yang diungkapkannya dengan kalimat yang agak merayau.

    Barangkali ia memang sedikit gila. Tapi Tuhan, demikianlah novel ini menyebutkan, "lemah hati terhadap orang gila, orang yang cacat dan eksentrik, dan yang pasti tidak terhadap Dinas Suci Inkuisisi". Dalam gambaran Saramago, mereka yang lemah tidak akan ditinggalkan, juga mereka yang tidak berpikir lempang. Dalam novel ini, "Passarola" merupakan simbol tapi juga bukan simbol—benda itu memang ada, dan digambarkan dengan detail—tetapi permainan antara simbol dan bukan simbol ini juga menggarisbawahi nada bercerita novel ini: semuanya sedikit main-main, antara dongeng dan kenyataan, antara bualan dan keseriusan, antara waras dan edan. Apa salahnya? "Kita tak pernah bertanya kepada diri sendiri tidak mungkinkah ada kearifan dalam kegilaan, bahkan seraya mengakui hal itu kita semua pun sedikit sinting".

    Yang tidak sinting, yang tegar dan lurus dan berkuasa, memang bisa menakutkan. Pada suatu hari mendadak Padre Bartolomeu Lourenço datang ke tempat rahasia di mana pesawat "Passarola" dibuat selama enam tahun. Dinas Suci Inkuisisi telah mencium gerak-geriknya. Maka ia dengan setengah putus-asa melarikan diri ke sana. Di tempat persembunyian itu tinggal pembantunya yang setia, Baltasar, seorang bekas tentara yang kehilangan satu tangannya dalam berperang untuk Raja, dan pacarnya, Bilmunda, seorang gadis yang jadi "seperempat Yahudi" dan ibunya dibakar mati. "Kita harus lari," kata sang padri. Surat perintah penahanan sudah dikeluarkan. "Apa yang harus kita lakukan?" desak Baltasar, dan sang pastor berteriak, "Mari kita lari dengan mesin itu." Ia menunjuk ke "Passarola" yang tak pernah dicoba terbang.…

    Tapi ajaib, mesin itu bisa terbang. "Ke mana kita pergi?" tanya Bilmunda. "Ke tempat di mana tangan Inkuisisi tak dapat menjangkau kita," jawab sang pastor, jika memang ada tempat seperti itu.

    Akhirnya sang padri tiba di Spanyol, di mana ia tinggal sampai wafat. Baltasar dan Bilmunda pergi ke Mafra. Bekas tentara itu pun, untuk bisa makan, bekerja bersama ribuan petani yang dikerahkan dengan setengah paksa untuk membangun sebuah biara yang dijanjikan Raja kepada pihak Gereja apabila ia dapat punya anak. Hidup berat. Kisah jadi muram ketika menggambarkan kehidupan para kuli itu. Pada suatu malam, di depan pendiangan, seorang petani bertanya bagaimana seorang kuli bisa menjadi manusia. "Mungkin dengan terbang," sahut Baltasar.

    Baltasar dan Bilmunda belum putus harap. Mereka masih menyimpan "Passarola" di tempat persembunyian di Monte Junto. Akhirnya Baltasar jadi tua, dirundung kerja. "Misaimu penuh rambut putih, Baltasar. Dahimu penuh dengan kerut, lehermu berkeriput, Baltasar. Bahumu merosot…." Tapi ia masih punya sedikit "kemauan manusia". Maka Baltasar bisa menggerakkan pesawat terbang itu lagi. Entah ke mana. Bilmunda mencarinya sembilan tahun. Akhirnya ketemu, sebagai tahanan pada auto-da-fé, orang terakhir yang harus dibakar.

    Adakah akhirnya tempat yang bebas bagi orang yang dianiaya karena ganjil, tak sepaham dengan yang dikehendaki Sang Penjaga Iman? Ada. Dalam dongeng, atau dalam ketawa, atau dalam sesuatu yang liris seperti yang ada di hati Bilmunda.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.