Takhayul

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Setiap kita diam-diam merindukan hantu dan mambang, pelesit dan peri, dan takhayul yang tak terkendali. Saya ingat masa kanak yang kadang melihat bayangan jin di tembok gudang atau di antara lebatnya daun nangka. Saya ingat akan ibu yang bercerita bahwa bapak sering mendatangi pohon sawo di pojok halaman di larut senja, untuk berunding dengan para roh halus agar anak-anak tak diganggu sebelum tidur. Di saat seperti itu, keris sering terbang malam dari sarungnya, dan gandaruwa duduk mengisap lisong di dahan jati. Kita takut, tentu. Tapi kita juga asyik dalam dunia yang lebih ramai dengan yang tak terduga-duga, sebuah dunia yang tiap hari disingkirkan oleh siang, ditutupi oleh malam.

    Kemudian kita dewasa, dan itu artinya jadi lebih praktis. Takhayul pun jadi bagian dari semangat hidup yang mencari dan memperoleh manfaat. Setan konon dipergunakan untuk menambah kekayaan, dan para jin dikerahkan untuk mengawal rapat NU. Hantu, tuyul, wewe-gombel, kuntilanak, jananabadra—dan segala makhluk dunia lain yang entah dari mana mendapatkan nama mereka—jadi roh instrumental. Kita jadi dewasa. Kita mungkin masih berasa takut, tapi dunia roh halus telah jadi satu dataran belaka—dataran di mana ada berarti berguna.

    Atau kita dewasa karena hantu-hantu terusir oleh cara baru kita mengetahui alam. Kita belajar tentang logam yang memuai karena panas, magnet yang bisa ditularkan ke sebuah batang besi, rembulan yang gersang dan berkawah, dan apa sebenarnya pelangi. Dari gelap terbitlah terang, dan apa yang belum terjawab pun jadi problem, dan problem menggantikan misteri. Lalu kita pun membaca Stephen King atau menonton film horor. Rasa takut dan asyik kita pindahkan ke dunia fiksi.

    Di zaman ini takhayul memang bisa merepotkan, mungkin mencelakakan. Seorang anak bayi mati di saat lahir. Dulu kita dengar ia diculik oleh sundel bolong yang lari telanjang ke hutan bambu seraya tertawa menggeletar di dalam gelap. Orang tak hendak menelaah bahwa sebabnya mungkin si ibu kekurangan gizi, atau si paraji bertangan kotor. Yang malang hanya tinggal malang, dan tak akan ada perubahan.

    Takhayul juga bisa membuat rancu. Mana sebenarnya yang lebih mempesona atau ditakuti dan dihormati: Tuhan, atau orang yang sakti dan suci, atau penghuni dunia gaib? Yang Mahatunggal tak bisa dikatakan "esa", bila ia nyaris diperlakukan setingkat dengan para roh halus dalam soal misteri dan kekuatan supernatural. Itu sebabnya monotheisme dengan mudah melahirkan gerakan "pemurnian": doktrin Protestan menafikan kelaziman orang Katolik di Italia Selatan yang memasang gambar Maria di dalam ceruk di sudut dinding, ajaran Wahabi melarang kelaziman orang muslim di Jawa Tengah yang datang ke makam suci untuk mencari berkah. Yang disembah hanya Allah. Dalam hal ini, gerakan "pemurnian"—seperti sering dikatakan—sama semangatnya dengan gerakan modernisasi: takhayul dianggap mengacau, sebab theologi harus tertib, iman harus lurus, apa yang dituju harus jelas. Seperti rencana pembangunan ekonomi: ada pemikiran dasar, ada target yang akurat, ada hasil yang bisa dipastikan.

    Tapi akan di mana akhirnya rasa tergetar oleh yang tak terduga-duga? Akan di mana rasa gairah terhadap apa yang tak terkendali? Bila semua harus dikontrol, juga khayal dan pesonanya, yang akan terhampar hanya sebuah gurun.

    Itulah yang akhirnya dihadirkan oleh Rahib Thérapion dalam salah satu cerita Timur karya Marguerite Yourcenar. Rahib yang teguh itu hidup di tebing Sungai Cephise. Ia tinggal di kalangan para petani yang memuja Yesus tapi juga "tetap bersikeras memuja dewa-dewi penghuni pohon atau yang muncul dari dalam air menggelora". Setiap malam, para petani itu meletakkan sepinggan susu di bawah pohon platan, sebagai persembahan bagi para peri.

    Thérapion tak menyukai ini. Para peri itu baginya ibarat sekawan serigala betina atau segerombolan pelacur. Mereka lapar dan menggoda. Tentu, mereka tak memanaskan syahwat sang Rahib, tapi mereka punya dampak lain: akhirnya sang Rahib "tergoda untuk mempertanyakan kearifan Tuhan". Sebab, dengan menciptakan "makhluk-makhluk tak berguna dan mencelakakan", penciptaan seakan-akan hanya "sebuah permainan jahat yang disukai-Nya".

    Sang Rahib pun waswas. Ia bertindak. Ia gergaji pohon platan tempat tinggal para peri. Ia bakar sebuah pohon zaitun tua. Ia basmi pohon cemara muda bersisik. Para petani tak berani memprotes. Mereka takut berselisih dengan Sang Bapa di surga. Namun, mereka cemas bila para peri akan pergi dan membawa raib sumber air. Mereka sedih pohon peneduh lapangan tempat mereka menari telah hilang, dan daerah sekeliling desa yang telah dibersihkan itu kian lebar dan kian membisu.

    Tapi para petani itu patuh, juga ketika Thérapion menyuruh mereka menyumbat gua tempat persembunyian terakhir para peri.

    Syahdan, di depan lubang gua itu kemudian didirikanlah sebuah tempat ibadah. Tapi benarkah Tuhan lebih menyukai sebuah konstruksi yang stabil dan sistematis, ketimbang hidup yang bergejolak dengan gelombang yang tak seragam? Benarkah Ia menghendaki tertib, pembersihan dan pemurnian, dan kepada-Nya kita bisa bicara, seperti yang dikeluhkan oleh sebuah sajak Amir Hamzah, "Engkau ganas, Engkau cemburu"?

    Jangan-jangan tidak. Dalam cerita Yourcenar ada sebuah antitesis. Bunda Maria datang ke dusun itu dan berkata kepada Thérapion, "Siapa bilang kedamaian ilahi tidak menyentuh para peri, seperti halnya kijang-kijang betina dan kawanan domba?" Dan perempuan suci itu pun masuk ke dalam gua, menjemput para peri yang tertindas di bawah, dan kembali. Dari balik jubahnya beterbanganlah ratusan burung layang-layang, penjelmaan baru para peri yang diselamatkan, dimerdekakan.

    Setiap kita diam-diam merindukan keajaiban seperti itu. Bukan untuk sebuah pertunjukan kekuatan, tapi semacam pengakuan bahwa ada selalu yang tak terduga, ada yang selamanya tak terkendalikan, dan kita asyik, dan kita terpesona.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.