Visnu

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Visnu tidur dan manusia memasok mimpi ke dalam kantuknya. Visnu tidur di atas lautan yang tanpa batas, dan ia akan membiarkan mimpi berkecamuk, karena ia ingin selalu mengingat apa saja yang indah dan apa yang tak nista dari dunia.

    Itulah yang harus dikerjakan manusia, demikian menurut salah satu kepercayaan Hindu: kita harus melakukan dharma kita, hingga yang indah tidak punah, dan jadi kenangan tentang kehidupan manusia. Kenangan itulah yang akan merupakan bagian penting dalam mimpi Visnu. Dan dengan mimpi yang baik, kelak, setelah alam semesta hancur, sang dewa pembangun akan bisa membentuk sebuah alam semesta lagi yang tak mengecewakan.…

    Ada kecemasan dalam cerita Hindu itu, ada juga harap. Problem kita dewasa ini ialah bahwa kita semakin jauh dari keyakinan seperti itu—keyakinan bahwa akan ada sebuah perubahan yang apokaliptik, sebuah kehancuran habis-habisan yang akan disusul oleh dunia yang lebih baik. Barangkali dunia bertambah tua dan capek. Telah bertumpuk catatan yang menceritakan revolusi-revolusi yang ingin menjebol dan membangun kemudian ternyata mirip sebuah epos yang hambar: yang dijebol tidak seluruhnya hancur dan yang dibangun tidak mengesankan. Kini kita mungkin masih bisa membayangkan Visnu yang tidur, tapi kita tidak yakin adakah sebuah lautan yang tanpa batas. Yang kian jelas ialah bahwa mimpi itu yang terbatas.

    Bukannya tak ada lagi orang yang marah dan menuntut perubahan. Bahkan semakin banyak. Dulu kaum Marxis menduga bahwa karena kapitalisme menguasai seluruh dunia dan mencengkeram seluruh segi kehidupan, maka transformasi yang akan terjadi akan dilakukan oleh sang penuntut dan perombak tunggal, yakni kaum proletar. Bukan karena kelas ini telah jadi makhluk dongeng sebagai sang pelopor yang suci, tapi karena—dengan cakar kapitalisme yang menjangkau ke mana-mana—praktis semua orang menjadi manusia yang dihisap tenaganya. Dengan demikian amarah dan tuntutan buruh jadi amarah dan tuntutan siapa saja: sesuatu yang universal.

    Tapi kini zaman memasuki sebuah tahap yang lain, dan Marx sudah lama pergi: modal memang merasuk ke mana-mana, tetapi orang seakan-akan telah kehilangan yang universal itu. Protes buruh hanya salah satu dari protes yang terdengar. Ada juga pekik peperangan perempuan, teriak orang hitam, cokelat, dan kuning, petisi pelbagai kelompok agama dan klaim atas hak sebuah ekspresi budaya yang tersisih. Riuh rendah. Politik telah jadi sebuah persaingan kehendak yang terpisah-pisah. Yang hendak dihancurkan dan hendak ditegakkan tidak lagi satu. Yang universal telah digantikan oleh yang partikular.

    Tidak mengherankan jika di dalam arena yang riuh rendah itu, bukan saja orang semakin ragu benarkah "humanisme universal" memang ada, tapi juga adakah sebenarnya sistem yang akan tumbang dan perubahan terjadi? Lihat saja di sekitar kita: Indonesia seakan-akan mengalami transformasi tetapi juga seakan-akan tidak—sebab mungkin Indonesia (seperti pernah dikatakan V.S. Naipaul tentang India) telah menjadi "sejuta pembangkangan", dan "sejuta pembangkangan" pada akhirnya tidak akan menunjukkan ada reformasi yang mahabesar. Bahkan di bagian dunia di mana kapitalisme menjadi sistem yang tak bisa lagi diungkit, Revolusi (dengan "R") tak disebut lagi. Pemberontakan yang terpisah-pisah itu ditanggulangi satu demi satu. Hari Senin tuntutan hal-hak buruh dihadapi, mungkin dipenuhi, mungkin tidak. Hari Selasa protes kaum perempuan didengar, diterima atau diabaikan. Hari Rabu, sang sistem mendengarkan klaim dari X, dan hari Kamis dari Y… Di ujung tahun, sang sistem tetap tak kunjung tumbang.

    Saya tak tahu inikah yang disebut sebagai "perjuangan politik post-modern"—dengan kata lain: partikularisme dengan mimpi yang terbatas? Saya tidak tahu bisakah saya, yang hidup di Indonesia, sama-sama mengeluh seperti Slavoj Zizek, pemikir Slovenia yang banyak berbicara ke Eropa Barat itu, bahwa dengan itu tak ada lagi perlawanan terhadap "totalitas dari Kapital". Saya sendiri ragu benarkah manusia hanya bisa mengubah dunia sebatas dalam cakrawala yang mengungkungnya kini, sebab cakrawala itu akhirnya toh terbentuk dari langkah kita sendiri dalam menduga besarnya ruang. Dengan kata lain: keterbatasan mimpi kita akhirnya adalah hasil konstruksi kita sendiri.

    Memang ada yang merisaukan dalam keterbasan, dan keributan, "sejuta pembangkangan". Saya risau bukan karena mereka beragam dan nyaring dan ramai. Saya risau karena ketika kita tak putus-putusnya merayakan yang partikular, kita akan meniadakan sebuah pertalian yang membuat politik menjadi punya nilai: pertalian antarkorban. Ada seorang sejarawan yang mengeluh bahwa yang menyatukan manusia dewasa ini justru kesadaran bahwa manusia bukanlah satu—dan saya kira tak ada yang lebih menyedihkan ketimbang itu. Ketika seorang anak Palestina yang terbunuh tidak punya pertalian lagi dengan seorang tua Israel yang tewas, dan seorang Muslim yang dibantai tak punya nasib yang sama dengan seorang Nasrani yang dipancung, bukan saja yang universal yang hilang, tetapi kehidupan itu sendiri yang ditiadakan.

    Kita memang masing-masing bukan Visnu, dewa yang membangun dari mimpi di lautan yang tak terbatas. Kita terbatas, dan kita tahu sejarah tak dimulai dari yang universal, melainkan yang berangkat dari nasib yang partikular. Tapi dunia tak pernah berubah oleh suara yang tercekik sendirian, bukan?

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.