Eropa

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari menara lonceng setinggi 100 meter di Balai Pasar, tanda waktu berkeloneng di udara Bruges tiap 30 menit. Dulu, di kota ini tengara jam adalah potongan melodi Eine Kleinenacht muziek. Kini melodi lain yang terdengar, bukan Mozart, mungkin bukan dari abad ke-18. Tapi kota yang dulu tampak kusam sekarang kian seperti museum yang apik—indikasi bahwa sejarah yang rumit berliku kian ditata dan dirapikan, seperti jalanan batu, kanal, dan jembatan-jembatan itu. 

    Empat puluh tahun yang lalu saya mengenal "Eropa" pertama kalinya di Bruges ini—kota dengan penghuni 100 ribu yang kemudian, pada tahun 2002, dijuluki "ibu kota budaya" Eropa. Di Jalan Dyver, di seberang kanal dan deretan rumah tua, ada Collège d'Europe. Di situ para mahasiswa hampir tiap hari mendengarkan para guru besar membahas soal-soal di sekitar "ide Eropa", sebuah ide yang datang dari sejarah yang rumit berliku, yang seperti sejarah Bruges, dicoba ditata dan dirapikan. 

    Salah satu sang penata sejarah adalah rektor pertama sekolah tinggi itu, Henri Brugman. Ia bukan hanya seorang akademisi yang ulung. Ia juga seorang aktivis yang yakin. "Eropa" baginya adalah penanda sebuah satuan budaya yang menurut sejarah mengatasi batas-batas nasional di daratan itu. "Eropa", bagi Brugman, adalah seperti mantra yang membawa harapan perdamaian. Baginya, "negara-bangsa"—seperti terbukti dari Perang Dunia I dan II—adalah kekuatan yang menebarkan perang. "Eropa", sebuah bangunan supra-nasional, harus lahir.

    "Selama dogma tentang kedaulatan nasional yang suci itu tak dibuang," begitulah ia berpidato di depan Kongres Eropa di Den Haag pada 7 Mei 1948, 12 tahun sebelum Collège d'Europe didirikan, "… tak ada yang akan terjadi [dalam usaha ke arah perdamaian dunia]." 

    Di asrama yang terletak di St. Jakobstraat 41 (kini telah berubah jadi Best Western Premier Hotel Navarra), tempat sang Rektor tinggal bersama para mahasiswa, makan siang tak pernah kosong. Brugman akan duduk di sudut. Ia terkadang ditemani satu-dua tamu dan lebih sering dengan beberapa mahasiswa. Dia akan berbicara panjang, dalam bahasa Prancis atau Inggris yang tanpa cacat, menunjukkan pengetahuan dan pengalamannya yang kaya terutama tentang masa lampau. Ia memang anak yang setia dari sejarah pemikiran Eropa. Ia memulai tradisi Collège itu untuk membuka tiap tahun ajaran dengan satu kuliah umum tentang buah pikiran seorang filosof atau seorang negarawan "Eropa". Kuliah umum itu menyusul setelah ia mem-"baptis" tiap generasi mahasiswa dengan nama tokoh itu.

    Pada tahun 1965 itu, saya termasuk dalam angkatan yang membawa nama "Thomas More", penulis Utopia, sebuah kritik dalam bentuk satire terhadap keadaan Inggris pada abad ke-16 dan juga sebuah kandungan cita-cita.  

    Adakah Brugman melihat Utopia pada gagasan tentang "Eropa"? Adakah "Eropa"-nya sebuah kritik? Atau cita-cita yang tak akan tercapai? Saya tak ingat. Yang saya ingat pada tahun 1965 itu "Eropa" baru berbentuk "Pasar Bersama". Tapi orang tahu bahwa "pasar" itu awal sebuah desain yang besar. Jean Monnet membangun "Kerja Sama Batu Bara & Baja Eropa" pada awal 1950-an sebagai kombinasi antara harapan yang muluk dan pragmatisme yang rendah hati: Jerman dengan Prancis yang bertahun-tahun lamanya bermusuhan dipertalikan dalam satu usaha ekonomi, tapi dengan keyakinan akan tumbuhnya sesuatu yang lebih "Tak sedikit pun saya ragu," kata Monnet, "proses penyatuan Eropa ini kelak akan membawa kita ke satu jenis Negara Eropa Serikat—tapi saya tak ingin membayangkan sebuah struktur politik."

    Monnet sadar: tiap diskusi tentang bagaimana "struktur politik" Eropa yang sedang dibangun itu akan menimbulkan pertikaian. Ia pun menunggu.

    Pada tahun 1979 ia meninggal. Sementara itu "Kerja Sama Batu Bara & Baja" telah berubah jadi "Pasar Bersama", dan "Pasar Bersama" jadi "Uni Eropa". Di daratan antara Nederland dan Republik Chek, tapal batas nasional praktis lenyap, kantor imigrasi dan bea cukai telah dibongkar, dan mata uang euro beredar. Tapi "Negara Eropa Serikat" tak kunjung terbentuk, dalam jenis apa pun.

    Ketika pekan lalu lewat referendum rakyat Prancis dan Belanda menolak rancangan konstitusi Eropa, orang pun bertanya: tidakkah "Eropa" digugat oleh legendanya sendiri? Bukankah legenda, juga mitologi, yang sarat dengan ambiguitas dan anasir bawah-sadar manusia, membuat sejarah tak mudah ditata dan dirapikan, juga oleh para "Eurokrat"?  

    Syahdan, kata mitologi, dahulu di Phoenicia hidup seorang putri. Matanya besar bersinar-sinar (europos konon berarti "bermata besar" atau "berpandangan jauh"). Terkesima, Dewa Zeus pun mengubah dirinya jadi lembu jantan. Ia menangkap sang putri dan dibawanya Eropa ke Kreta. Tapi lima saudara lelaki sang putri pergi mencari si adik yang hilang. Di tiap sudut dunia mereka bertanya, "Di manakah Eropa?"

    Tak ada yang tahu. Cadmos, salah satu dari saudara lelaki itu, pun tiba di Delphi. Ia bertanya kepada orakel, dan inilah jawab yang didapat: "Kau tak akan menemukannya. Tapi ikutilah seekor lembu, doronglah ia tanpa henti. Di tempat ia berhenti, kau dirikanlah sebuah kota."  

    Tampaknya "Eropa" tak akan ketemu jika ia dicari dengan nostalgia, rasa rindu pada si upik yang jadi bagian dari hidup yang dulu. Eropa ada selalu sebagai konstruksi baru. Apalagi masa lampau itu tak pernah serapi jalan dan kanal Kota Bruges. Kita tak usah percaya John Laughland, yang menulis The Tainted Source: The undemocratic origin of European Idea, bahwa gagasan persatuan Eropa bermula di kalangan Nazi dan Fascist. Tapi setidaknya benar: ada banyak mula, ada banyak "Eropa", dan itulah yang sering dilupakan.  

    Juga oleh Brugman, ketika ia bicara tentang "kesatuan budaya", sebuah identitas yang berintikan warisan Yunani-Yahudi-Kristiani.  

    Bukankah konon identitas itu ibarat bawang: sesuatu yang tampak utuh, tapi jika dibuka, yang ada hanyalah lapisan kulit demi lapisan kulit, tanpa inti?

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.