Porno

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Berabad-abad lamanya orang cemas akan pornografi, memperdebatkan pornografi, memberangus pornografi. Berabad-abad lamanya pula pornografi terus dihasilkan, dipasarkan, dan dikonsumsidan negeri-negeri hancur, tapi bukan karena sejumlah tubuh yang bugil, tak senonoh, merangsang (dan sebenarnya juga membosankan), melainkan karena kekerasan dan kebencian.

    Kapan semua itu akan berakhir? Mungkin ia sebenarnya sudah berakhir sejak dimulai; selebihnya hanya pengulangan. Tapi tak semua orang mau mengakui itu.

    Hari-hari ini, di samping perang antiterorisme, pemerintah Bush memulai sebuah perang baru: melawan "porno". Barton Gellman, wartawan The Washington Post, dalam edisi 20 September mengabarkan: Jaksa Agung Alberto R. Gonzales (orang yang menganggap sah tindakan menahan orang yang belum tentu bersalah di kamp konsentrasi Guantanamo sampai waktu tak terbatas) kini memerintahkan FBI agar menyiapkan sebuah regu khusus. Pada akhir Juli kantor pusat agen rahasia itu mengedarkan siaran ke 56 cabangnya dengan pesan penting itu. Perang antiporno, demikian pesan itu menyebutkan, merupakan "salah satu prioritas utama" Gonzales.

    Tak jelas setarakah melawan "porno" dengan melawan Al-Qaidah. Tapi Kongres telah menyiapkan anggaran untuk perang melawan "ketidaksenonohan" itu pada tahun fiskal 2005. FBI diperintah menyiapkan 10 agennya untuk memeriksa "pornografi orang dewasa".

    Apa gerangan yang dihasilkan nanti? Bagaimana orang bisa tahu pemerintah menang atau kalah dalam perang melawan porno? Kaum "Kristen fundamentalis"yang membayang-bayangi pemerintahan Amerika Serikat sekarangcenderung akan menjawab bahwa persoalannya bukanlah sukses atau tak sukses, melainkan adakah Kitab Suci ditaati atau diabaikan.

    Yang tak diakui ialah bahwa ketika Kitab Suci diperlakukan sebagai kekuasaan di dunia, ia membawa dalam dirinya benih kegagalan. Kekuasaan muncul justru karena akibat yang diharapkan oleh si berkuasa tak dengan serta-merta terjadi, tak seotomatis detak jantung yang bergerak. Kekuasaan adalah tanda gagalnya membuat efek yang lengkap, lurus, dan mutlak. Kekuasaan lahir dari dan bersama resistansi mereka yang hendak dikuasai. Kitab Suci tampil sebagai kekuasaan karena ia merupakan titah, imbauan, bujukan, dan ancaman, dalam menghadapi kebandelan manusia. Di depan manusia di dunia, Sabda Tuhan tak berasumsi bahwa ia berada di wilayah yang gampang. Juga ketika ia dibantu 10 agen FBI (atau seregu FPI), sederet jaksa, hakim, dan polisi.

    Kita tahu para penjaga akhlak bisa dikerahkan untuk menghabisi pelanggaran atas sebuah tabu; tapi sebenarnya mereka juga indikasi gagalnya tabu itu sendiri. Tabu berperan menghadapi pelanggaran; ia justru lahir dari pelanggaran. Akhirnya tak ada yang bisa menguasai 100 persen perilaku manusia, termasuk menikmati dan memproduksi karya pornografis, lewat media yang kian lama kian tersebar ke ruang-ruang pribadi.

    Saya tak tahu bagaimana Presiden Bush akan berurusan dengan kegagalan yang tak terelakkan itu. Ia mungkin akan kembali kepada teks hukum, baik Alkitab ataupun undang-undang. Tapi di situlah soalnya: ketika tabu diubah jadi undang-undang, kekuasaan pun makin diperlukan, kegagalannya makin tak diakui.

    Yang juga tak dilihat ialah bahwa tabu dan hukum sebenarnya punya pretensi yang tak sama. Undang-undang memproyeksikan diri berlaku bagi siapa saja, kapan saja, di mana saja. Sebaliknya tabu: semula ia berlaku di lingkungan yang khusus. Jika mereka yang menamakan "Front Pembela Islam" menganggap karya Agus Suwageyang menampilkan laki-laki dan perempuan dengan sebagian tubuh terbukaadalah sesuatu yang "melanggar", bisakah mereka menilai dengan kesimpulan yang sama relief di Borobudur dan lukisan I Made Budi di Bali?

    Para kritikus seni telah lama mencoba menyelesaikan soal ini dengan mengatakan bahwa pornografi berbeda dari "erotika". Yang pertama lebih memfokuskan diri pada organ-organ kelamin, dengan syahwat sebagai satu-satunya cerita. Yang kedua merupakan ekspresi kehidupan hasrat di sekitar tubuh, sebagai bagian dari kehidupan yang utuh. Tapi di sini diperlukan sesuatu yang tak hanya Kitab Suci dan KUHP, tapi juga kritik senidan soalnya sejauh mana Kitab Suci dan KUHP, seraya mengakui benih kegagalannya sendiri, memberikan ruang kepada sebuah wilayah yang berbeda.

    Tak mungkinkah pornografi hilang perannya, justru ketika tabu diakui tak mampu berlaku? Saya ingat daerah Rossebuurt Amsterdam, lorong-lorong sempit antara Stasiun Sentral dan Nieuwenmarkt, tempat para pelacur memajang diri di etalase sempit, dan pejalan lewat setelah melintasi toko dan teater erotik seperti mereka lewat di depan restoran dan toko pakaian. Kepedihan, kemiskinan, rasa riang, rasa berdosa, ingin tahu, nafsu, mimpi, iseng, dan belas kasihansemua hilir-mudik, seperti sejarah manusia berabad-abad.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...