Grand Canyon

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bisakah agama menjawab semua hal? Bisakah ilmu?

    Pada akhir musim panas 2005, sebuah rombongan datang ke Grand Canyon, di timur-laut Arizona, Amerika Serikat: sebuah ceruk sedalam 1,5 kilometer, terbentang garang bagai samudra yang disihir membeku. Di permukaannya, seperti armada jung negeri hantu, ribuan bukit keras menjulang dari karang sembilan lapis.

    Di ngarai akbar ini, sinar surya akan membuka warna yang kasar: bentangan biru batu-kapur purba, merah lempung kedap yang jadi karang penebal tebing, dan di sana-sini, hijau perdu juniperus, daun-daun agave gurun.

    Apa gerangan yang terbit dalam pikiran Garcia Lopez de Cordeas ketika ia pertama kali menyaksikan tamasya seluas 450 kilometer x 29 kilometer itu? Di tengah abad ke-16 itu belum ada yang berbicara tentang batu-kapur Kaibab, lapisan Coconino, fosil hewan laut, dan bekas lahar yang menggaris. Belum ditulis orang bahwa ngarai itu palung laut yang dangkal, dulu, 500 sampai 1.000 juta tahun yang lalu. De Cordeas tak mengenal teori apa pun. Mungkin ia hanya takjub di atas kudanya, berbisik: "Padre nuestro."

    Tuhan yang ada di surga, "Padre nuestro que ests en los cielos", memang satu-satunya sumber penjelasan saat itu. Tapi bukan hanya pada abad ke-16. Ketika pada akhir musim panas 2005 ini rombongan yang saya sebut tadiyakni 30 orang Kristen yang salehturun ke Sungai Colorado yang mengalir di dasar ceruk, mereka ingin meneguhkan keyakinan bahwa hanya Tuhan yang bisa menjelaskan Grand Canyon. Hanya Alkitab, The Good Book, kata mereka, yang benar. Yang lain "hanya teori".

    Dengan khidmat seseorang menyentuhkan telapaknya ke dasar ngarai. "Disebutkan dalam Kitab Kejadian," katanya, sebagaimana dikutip The New York Times 6 Oktober 2005, "Tuhan berjalan di muka bumi. Mungkin jejak kaki-Nya di sini."

    Tampak, kata "berjalan" itu baginya bukan kiasan. Sama halnya ia yakin bahwa bumi diciptakan dalam enam hari (atau 6x24 jam). Bahkan bagi Tom Vail, sang pemimpin rombongan yang menulis buku The Grand Canyon: A Different View, ngarai yang mereka jelajahi itu bekas banjir Nabi Nuh yang disebut Kitab Kejadian.

    Vail dan rombongannya memang menolak kesimpulan para ilmuwan bahwa bumi berumur 4,5 triliun tahun dan lapisan Grand Canyon sekitar 20 juta abad. Dan orang-orang Kristen di Sungai Colorado itu tak sendirian. The New York Times menulis, sebuah poll pada November 2004 menunjukkan sepertiga orang Amerika percaya Alkitab adalah sabda Tuhan yang harus diartikan secara harfiah, dan 45 percaya Tuhan menciptakan manusia "seperti keadaannya sekarang"tak berubahsejak 10 ribu tahun yang lalu.

    Syahdan, hari-hari ini di pelbagai kota di 20 negara bagian Amerika, para pengajar teori Evolusi sedang didesak minggir para "Kreasionis" dan pendukung teori "Desain Cerdas", dua kelompok yang ogah menerima pembuktian Darwin bahwa bumi dan seisinya berkembang karena adanya "seleksi alam", ketika pelbagai organisme harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berubah.

    Bagi para pendukung "Desain Cerdas", alam adalah hasil sebuah rancangan yang sempurna. Yang Maha Pandai tak sekadar mencoba-coba.

    Tentu saja para ilmuwan memandang mereka dengan cemooh. Pada akhir musim panas yang sama, seperti dilaporkan Jodi Wilgoren dalam The New York Times, ke Grand Canyon datang pula serombongan lain: 24 orang yang seraya naik rakit bermotor di Sungai Colorado membahas bentukan karang dengan dasar teori evolusi dalam geologisebuah perjalanan seminar di alam terbuka. Mereka disponsori Pusat Nasional Pendidikan Ilmu. Separuh dari mereka bergelar doktor di bidang ilmu pengetahuan alam.

    Salah seorang dari mereka, Webb, seorang dokter di Rumah Sakit Colorado Springs, punya alasan. "Evolusi itu basis biologi," katanya, "dan biologi itu basis ilmu kedokteran. Kita mengacau sesuatu yang penting jika kita mengacau evolusi".

    Tapi bisakah ilmu menjawab semua? Para ilmuwan yang menyusuri karang-karang Grand Canyon itu memang bisa mengklaim bahwa teori evolusi disusun berdasarkan pembuktian empiris, dan kesimpulannya selalu diuji kembali. Darwin bukan kebenaran terakhir; semangat ilmu bisa menggugat kepastian lamasesuatu yang mustahil dilakukan mereka yang bertolak dari The Good Book kaum yang beriman.

    Maka paham "Desain Cerdas" ditampik; terutama karena di sana tak ada kebebasan menelaah, bertanya, dan membantah. Apa jadinya perkembangan ilmu dan pemikiran bila pintu tanya sudah dikunci?

    Di situ para ilmuwan benarmeskipun mereka juga sebenarnya berhenti bertanya di satu titik. Heidegger akan mengatakan, mereka tak memasuki "pertanyaan tentang Ada", Seinsfrage. Sebelum mempersoalkan perilaku alam dan membangun teori tentangnya, sebetulnya ada pertanyaan: mengapa di balik alam-benda yang "ada", tersirat "Ada"?

    Misteri ini menggetarkan sebenarnya. Ia tak bisa dijawab dengan satu causa efficiens, satu sebab yang dapat menentukan akibatnya dan/atau ditentukan oleh hasil akhirnya. Sayangnya, ilmu telah jatuh ke dalam godaan causa efficiens ini. Bahkan sejak masih berupa teori murni, fisika, kata Heidegger, "memasang alam agar menampakkan diri sebagai sebuah paduan kekuatan yang dapat diperhitungkan sebelumnya".

    Tapi apa lacur: godaan causa efficiens juga mendorong para pendukung "Desain Cerdas"bahkan umumnya agama dalam tradisi Ibrahimiuntuk melihat Sebab Yang Awal sebagai sebab yang dianggap menguasai hal-hal yang disebabkannya. Bahkan dianggap bisa menguasai Kata yang konon berasal darinya: Kata pun jadi seakan-akan bisa bak sinar laser: senantiasa terang, lurus, meskipun sempit.

    Di situ agama ternyata sama dengan ilmu: meringkus misteri jadi problem, memberi jawab tapi sebenarnya tak bertanya. Ketika Tuhan dibayangkan berjalan di Grand Canyon, apa yang terjadi? Ia jadi bagian dari hal ihwal yang "ada". Ia bisa diarahkan, Ia bisa diperhitungkan.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kue Bulan dalam Festival Tengah Musim Gugur atau Mooncake Festival

    Festival Tengah Musim Gugur disebut juga sebagai Festival Kue Bulan atau Mooncake Festival. Simak lima fakta unik tentang kue bulan...