Samarra

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alkisah, adalah seorang khadam di Kota Bagdad yang disuruh tuannya pergi ke pasar. Tapi ia kembali- tergopoh-gopoh. "Tuan, pinjamilah hamba kuda," begitu pintanya nyaris menangis.

    "Kenapakah kau?"

    "Hamba takut. Di pasar hamba lihat seseorang," jawab-nya. "Ia mendesak ke arah hamba. Ketika hamba perhati-kan wajahnya, hamba mengenalnya. Ia Maut, Tuan. Ia meng-----ancam akan mencabut nyawa hamba malam ini. Maka pinjamilah hamba kuda. Hamba akan berangkat ke Samarra sekarang. Di sana hamba akan terlindung."

    Maka tuannya pun meminjaminya seekor kuda, dan kha-dam itu pun langsung kabur ke Samarra.

    Segera sang tuan pergi ke pasar itu, dan benar, di sana ia- melihat seseorang yang aneh dan menakutkan. Tuan itu pun bertanya, "Kaulah Maut, yang mengancam khadam-ku?"

    "Benar. Tapi ia pergi terlalu cepat. Padahal aku masih ingin memberitahunya: malam ini aku tak jadi mencabut nyawanya di sini, di Bagdad, tapi di Samarra."

    Cerita ini, yang dikisahkan oleh W. Sommerset Maugham pada tahun 1933, agaknya sebuah sugesti tentang ajal yang tak terelakkan, hal yang kita sadari tapi tak selamanya kita pahami.

    Entah kenapa Maugham menyebut Samarra dalam kisah itu. Mungkin karena kota tua 105 kilometer agak ke arah barat laut Baghdad itu punya sejarah panjang tentang rahasia kemati-an, rasa cemas, dan harapan yang tak sampai. Ketika dua pekan lalu orang meledakkan ma-kam Imam Ali al-Hadi dan Al-Hasan al-As-kari, dan kubah emasnya hancur dan puluhan orang tewas, mau tak mau kisah tentang Samarra itu kembali teringat: di kota itu Maut me-nunggu, dan kita tak tahu inikah janji misterius masa depan.

    Jauh sebelum kubah selebar 20 meter dan setinggi 68 meter itu dipasangi 72 ribu petak-an emas pada tahun 1905, kompleks kuburan itu sudah me--nyiapkan pa-ra peziarah sejak ia dibangun pada abad ke-11. Sebab di sanalah drama kematian dan kegaiban berlangsung dalam khazanah keyakinan kaum Syiah.

    Pada awalnya adalah Al-Hadi, yang dipandang sebagai Imam ke-10 sejak ia berumur enam tahun. Ia lahir di Madinah. Ia dan putranya dibawa ke Samarra pada tahun 848, ketika kota itu berada di bawah kekuasaan Khalif al-Mutawakkil.

    Khalif ini, yang oleh orang Syiah digambarkan sebagai "tiran yang bergelimang darah", juga dikenang sebagai pe-nguasa Islam yang mengharuskan orang Kristen dan Yahudi berpakaian warna madu, boleh naik kuda asal de-ngan sanggurdi kayu, dan memasang dua kancing di topi. Diskriminasi tak hanya di situ. Makam bukan-muslim tak boleh dibangun lebih tinggi ketimbang makam muslimin; gereja dan sinagog yang didirikan setelah Islam datang ke Samarra harus dihancurkan.

    Di bawah kekuasaannya pula Imam al-Hadi wafat, konon diracun, dan penggantinya, Imam ke-11, Al-Askari, tetap dalam tahanan rumah sampai wafat pada tahun 874. Pada saat itulah putranya, Muhammad al-Mahdi, dalam usia tujuh tahun, menghilang. Dialah Imam ke-12. Ia dikisahkan raib di gua di bawah masjid di Samarra itu, yang kini ditutup dengan gerbang Bab-al Ghayba. Umat pun me-nunggu, yakin yang hilang akan kembali pada suatu hari, dan dunia akan jadi baik, jadi adil, mungkin 1.100 tahun lagi.

    Maka dari Samarra ada yang tragis dan nostalgis dalam keyakinan Syiah. Ada luka dan kepekaan yang tumbuh dari hidup di bawah penindasan. Dalam doktrin tentang Ghayba tersirat kesadaran religius tentang apa artinya ke-tidak-hadiran dan ketiadaansesuatu yang mengingatkan saya kepada yang dikatakan Caputo tentang "the phenomenology of non-appearing". Apa yang tak muncul bukan kekosongan, tapi bayang-bayang halus (specter) yang menggugah. Kita pun menyambutnya dengan "gelora hati, doa, dan confiteri, dengan keyakinan akan sesuatu yang tak kita pahami tapi hanya dapat kita alami".

    Caputo bicara tentang segi "religius" dalam pemikiran Derrida, tapi kita agaknya dapat menggunakan uraiannya untuk menjelaskan sifat "messianis" doktrin Raj'a, yang men-janjikan kembalinya Imam Mahdi ke dunia. Dengan kata lain, sebuah kerinduan pada keadilan dan kebaikan yang tak tepermanai.

    Dunia memang tempat yang telah kehilangan- itu, seba-gaimana ia kehilangan Yang Kudus.- Di sini eskatologi Syiah lebih dramatis ke-tim-bang ganjaran surga di akhirat nanti yang di-kenal- kaum Sunni. Mereka yang percaya sang Imam adalah keadilan dan kebaikan yang ber-sembunyi- akan mudah terbuka pada kemung-kinan: tiap detik adalah "pintu sempit lewat ma-na Sang Messiah mungkin datang", untuk memakai kata-kata Walter Benjamin. Kebaik-an dan keadilan bukan sesuatu yang bisa diramalkan, mungkin mustahil dipenuhi, tapi ke-duanya bukan hal yang asing; keduanya bagian dari kemungkin-an saat ini, meskipun artinya selalu luput dirumuskan. Personifikasinya adalah sang Imam yang selalu ditunggu.

    Bahwa Imam ke-12 dikabarkan menghilang di Samarra,- itulah misteri ketak-hadiran. Sang Adil raib tapi tak mati-mati; ia gaib. Memang ketak-hadiran itu bisa disulap jadi kehadiran, dalam bentuk kekuasaan yang meng-klaim di-rinya "adil" dan "benar". Konon Khalif al-Mutawakkil- yang secara bengis hendak menegakkan Islam sering naik keledai mendaki tangga spiral menara masjidnya; ia hendak bicara dengan Tuhan. Padahal Tuhan adalah ketak-hadiranyang menunjukkan bahwa "Yang Baik" sungguh melebihi "yang ada".

    Hanya mereka yang tahu bahwa "Yang Baik" tak bisa se--penuhnya diwakili yang "ada"hanya merekalah yang ingat bahwa kekuasaan politik dan ajaran selalu ada di ambang ketakaburan.

    Tak berarti seorang Syiah yang berkuasa dengan sendi-rinya bebas dari ketakaburan itu. Tapi sejarah kaum Syi-ah dimulai dengan perasaan sebuah minoritas yang dika-lah-kan: mereka mukminin yang tafsirnya atas Quran di--tampik oleh yang berkuasa, kaum yang kehilangan dan merindukan "Yang Baik" dan "Yang Adil", dan yang da-lam penantian itu tak henti-hentinya terancam.

    Bom di kompleks makam suci itu sekali lagi mengingatkan kita: Maut menunggu di Samarra, manusia tak berdaya, dan sebab itu keadilan sangat berarti.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspada, Penyakit Yang Terabaikan Saat Pandemi Covid-19

    Wabah Covid-19 membuat perhatian kita teralihkan dari berbagai penyakit berbahaya lain. Sejumlah penyakit endemi di Indonesia tetap perlu diwaspadai.