Connie

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tubuh bisa membuat getar, tapi juga gentar, seperti lautan.

    Saya ingat satu pasase dalam Lady Chatterley's Lover: perempuan itu mengalami ajaibnya gairah dalam persetubuhan. Dalam pagutan berahi kekasihnya, ia merasa diri "laut". Ia deru dan debur, samudra dengan ge-lombang gemuruh yang tak kunjung putus. "Ah, jauh di bawah, palung-palung terkuak, bergulung, terbelah."

    Apa yang masuk menyusup ke dalam dirinya ia rasakan kian lama kian dalam. Bertambah berat empasan, ber-tam-bah jauh pula ia jadi segara yang berguncang sampai di sebuah pantai. Baru di sini deru reda, laut lenyap. "Ia hilang, ia tak ada, dan ia dilahirkan: seorang perempuan."

    Saya tak sanggup menerjemahkan seluruh pasase ini. Di sini D.H. Lawrence sungguh piawai: ia uraikan suasa-na erotik dalam novelnya dalam kalimat dengan ritme yang naik-turun, membawa kita masuk ke paduan imaji-imaji yang, seperti gerak laut, tak putus-putus, berulang-ulang.

    Agaknya Lawrence, seperti kita semua, harus mengerahkan seluruh kemampuan bahasa untuk menggambarkan sesuatu yang tak mungkin tergambarkan: pengalaman tubuh ketika kata belum siap, gejolak zat-zat badan ketika bahasa belum menemukan pikiran.

    Seorang sastrawan memang selalu dirundung oleh bahasa yang ingin ekspresif tapi juga ingin komunikatifdua dorongan yang sebenarnya ber-tolak belakang. Yang pertama dituntut untuk mengungkapkan langsung apa yang berkecamuk di lubuk kesadaran, yang tak selamanya jelas dan urut. Yang kedua diminta agar berarti: sesuai dengan kesepakatan sosial dan membawa hasil.

    Lawrence mampu menggabung kedua dorongan itu di bagi-an yang dikutip tadi, tapi bagi saya sebagai novel Lady Chatterley's Lover terasa lebih digerakkan keingin-an un-tuk menyatakan sebuah pendirian. Kalimatnya lebih ko-munikatif ketimbang ekspresif. Pertautannya dengan bahasa (untuk tak menyebut ketaatannya pada pesan dan tema) berbeda dengan misalnya Cala Ibi Nukila Amal atau Menggarami Burung Terbang Sitok Srengenge, dua novel yang, dengan bahasa yang puitik, tak hendak meng-ubah pandangan kita tentang hal-ihwal.

    Lady Chatterley's Lover memang sebuah kritik sosial; ia hendak meyakinkan kita tentang muramnya masyarakat Inggris sehabis perang di tahun 1920-an. "Zaman kita pada hakikatnya zaman yang tragis, maka kita menolak untuk menyikapinya dengan tragis," begitulah novel ini dimulai. "Kita ada di tengah puing, kita mulai memba-ngun habitat baru kecil-kecilan, untuk mendapatkan harap baru sedikit-sedikit."

    Dalam novel itu, puing itu sampai ke pedalaman. Masya-rakat terjebak lapisan-lapisan kelas, dan industriali-sa-si yang mulai merasuk, juga peran uang, membuatnya lebih buruk.

    Kritik novel ini tersirat dalam tokoh Constance Chatterley. Ia kawin dengan Sir Clifford, tuan tanah dan bangsa-wan pemilik tambang. Lelaki ini luka dalam perang. Ia bukan saja lumpuh, juga impoten, dan hanya menunjuk-kan kelebihannya bila ia mulai memimpin bisnisnya. Tam-paknya perang, industrialisasi, kapitalismedan patriarkimenebarkan racunnya dan membuat hidup perempuan itu, Lady Constance ("Connie"), terpojok. Kesepian, b-osan, hampa, dan tertindas, ia akhirnya menemukan kembali gairah hidup sebagai perempuan ketika ia disetubuhi Mel-leors, game keeper Sir Clifford, lelaki yang tinggal menyendiri di sebuah gubuk di tanah luas itu, mengurusi burung-burung yang esok pagi akan dilepaskan terbang untuk jadi sasaran tembak sang majikan.

    Connie hamil dari hubungan gelap itu. Tapi ia tak t-a-kut. Ia memang menghendaki seorang anak, mesk-ipun per-cinta-annya dengan lelaki kelas bawah itu bukan di-maksud-kannya hanya untuk beroleh keturunan. "Aku bu-kan hendak memperalatmu," bisiknya di tempat tidur. Mereka saling mencintai. Pada akhirnya Connie meminta cerai dari Sir Clifford, tapi ditampik. Kisah ini selesai se-perti tak selesai: Connie dan Melleors menanti.

    Agaknya apa selanjutnya tak penting lagi: protes sudah disampaikan, bahkan dijalani dengan perbuatan, dan tak se-orang pun dihukum. "Bukan salah perempu-an, bukan salah percintaan, bukan salah seks," begitulah novel ini bicara. "Kesalahan itu di sana, di luar sana, dalam sinar keji cahaya listrik dan gemeretak iblis mesin-mesin. Di sana, di dunia di mana kerakusan bergerak se-perti mesindan kerakusan menghasilkan m-esindi sanalah terhampar mala yang luas itu, siap untuk menghancurkan apa saja yang tak mau menyesuaikan diri. Ia akan segera menghancur-kan hutan, dan bunga kecubung ini tak akan bersemi lagi."

    Dibaca pada awal abad ke-21, protes seperti iniketika yang erotik, yang lemah, dan yang halus dalam diri manusia diancam dunia moderntak mengejutkan lagi. Bahkan bahasa Lawrence juga segaris dengan kehendak dunia modern yang ditentangnya, yang serba meng-utamakan pikiran dan hasil, bukan persentuhan yang melibatkan tubuh dalam pengalaman. Tapi juga ketika di-baca pada awal abad ke-20: Lady Chatterley's Lover ha-nya dianggap karya pornografis. Ditolak di mana-mana, pada tahun 1928, hanya seorang penerbit Italia yang menerimanya; ia tak begitu paham bahasa Inggris.

    Dengan segera novel ini laris dan dikejar-kejar. Yang paling ramai di AS, dengan warisan puritanisme Kristen yang awet dan semangat kapitalisme yang, seperti digambarkan Lawrence, "rakus... seperti mesin" itu, yang melihat tubuh perlu berdisiplin baja dan gairah seks sebagai "dosa", yakni energi yang tak produktif.

    Maka pemilik toko buku yang menjual Lady Chatterley's Lover pun dibui, kantor pos menolak mengirimkan novel itu, dan Presiden Eisenhower menganggapnya baca-an yang "dreadful". Baru pada akhir tahun 1950-an peng-adilan menganggap karya itu tak pornografis.

    Anehkah bila bertemu agama dan kapitalisme, juga komunisme, yang rezim-rezimnya melarang Lady Chatterley's Lover? Tidak. Bagi mereka, tubuh kita hanya penting sepanjang bisa dibuat berguna bagi yang mahakuasa, apa pun namanya.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.