Pilkada

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • "You got to make it out of Badness.... And you know why? Because there isn't anything else to make it out of"

    Willie Stark, dalam All the King's Men.

    Sebuah pilkada, di sebuah musim yang gerah pada 32 C. Ekonomi muram dan timpang, korupsi setengah bersembunyi, dan kemarahan si miskin setengah ditelan. Ini Louisiana tahun 1930-an: hari-hari depresi, zaman hal-hal yang radikal berkecamuk, ketika Willie Stark datang, berteriak, dan menangseorang dengan niat baik yang bergelora dan akal yang brutal yang menjamah apa saja. Orang ini akhirnya mati ditembak seorang yang lurus hati, tapi kematian itu tak menyebabkan apa yang kotor dalam proses politik tertebus.

    Novel Robert Penn Warren, All the King's Men, telah membuat cerita Willie jadi contoh klasik tentang bagaimana politik, juga di sebuah demokrasi di Amerika Serikat, datang dari harapan tapi bisa tak memungkinkan tumbuhnya harapan.

    Willie dipilih dengan dukungan yang antusias. Ia dikenal sebagai seorang yang memprotes, ketika sebuah gedung sekolah roboh. Ia orang berani yang menunjukkan bahwa pemerintah daerah membuat bangunan itu dengan menunjuk seorang kontraktor yang curang. Semula protesnya tak didengar. Tapi beberapa tahun kemudian, tatkala sebuah tangga kebakaran roboh dan beberapa anak luka parah, orang ingat benarnya kata-kata Willie. Ia langsung jadi tokoh yang diharapkan, dan sejumlah operator politik daerah menyiapkannya untuk jadi calon gubernur.

    Yang tak disangka-sangka para operator itu ialah bahwa Willie ternyata bisa tak tergantung kepada mereka. Dengan keyakinan bahwa ia adalah si jujur yang berani bicara dan bertindak, dengan kemampuannya memposisikan diri senasib sepenanggungan dengan para hicks yang miskin dan dibohongi, ia bisa bicara langsung dengan orang ramai itu, memukau langsung dan didukung langsung oleh mereka.

    Dari politik populis ini Willie kian yakin akan keluhuran niat baiknya bagi orang banyaksebuah keyakinan yang begitu terang benderang hingga menyebabkan pandangnya silau. "Cahaya terang yang menerpa matanya membutakannya," kata Jack Burden, sang pembawa cerita dalam novel ini. Kekuasaan dan keyakinan yang membuatnya jadi perkasa akhirnya membuat Willie kebal, juga terhadap rasa sakit orang lain. Willie menyuruh Jack membongkar masa lalu Hakim Irwin yang menentang rencana politiknya. Ketika Jack berhasil menemukan sesuatu yang kotor di masa lalu itu, hakim tua itu bunuh diri.

    Baru kemudian Jack tahu, Hakim Irwin adalah ayah kandungnya sendiri. Tapi anak muda ini tak berhenti mengabdi pada Williebahkan ketika Willie mengambil Anna jadi gundiknya. Anna gadis yang bagi Jack sejak masa sekolah telah membuat dirinya seperti diciptakan kembali dari lempung.

    Sepasang manusia telah membuat novel ini memukau secara muram. Keteguhan Willie untuk tak tersentuh oleh rasa sakit orang lain bertaut dengan pandangan Jack tentang tak pentingnya subyektivitas dalam laku dan pilihan moral. Anak muda yang pernah ingin menulis sejarah hidup seorang tokoh ini pada perkembangannya percaya bukan kepada manusia, melainkan kepada apa yang disebutnya the Great Twitch. "Kedut agung" ini, dalam pandangannya, adalah yang menentukan hidup. "Semua kata yang kita ucapkan tak berarti apa-apa dan hanya ada degup darah dan kedutan saraf, seperti kaki seekor katak yang mati di tempat eksperimen ketika setrum listrik itu menjalarinya."

    All the King's Menjika novel yang ditulis seorang penyair ini agak disederhanakanadalah catatan yang memaparkan nyaris hilangnya harapan. Kedua tokoh utamanya berbicara dan berlaku dengan keyakinan bahwa tak ada kapasitas manusia buat memihak Kebaikan, apa pun maknanya. Jack, yang percaya akan kuasa "the Great Twitch", menafikan tanggung jawab seseorang dalam perbuatan baik dan buruk.

    Ini tentu saja semacam nihilisme, tapi juga determinisme: nilai-nilai, seperti halnya bahasa, dianggap tak berarti apa-apa, sebab manusia tak merdeka, sebab ia ditentukan oleh sesuatu yang lebih besar ketimbang subyektivitasnya. Willie juga demikian: manusia ada dan tak bisa bebas dari Keburukan. Badness, dan tak ada yang lain dari itu, mendasari semuanya. Duniajuga kemuliaannyadibangun oleh manusia-manusia yang culas dan korup.

    Dengan pandangan itulah politik mereka jalankan di Louisiana. Bisa dikatakan All the King's Men adalah sebuah gugatan kepada politik, juga politik demokratis, yang ternyata tak membuat kehidupan bersama bebas dari nihilisme. Baru di akhir novel Willie Stark dalam keadaan luka tertembak hampir mati berbisik kepada Jack bahwa keadaan sebenarnya bisa diubah; dengan kata lain, saat itu ia ingin berbisik: manusia sebenarnya bisa memilih.

    Jack sendiri akhirnya tahu: ada yang lebih tahan menggerakkan hidup ketimbang the Great Twitch yang seperti mesin sejarah itu. Bukan rumusan baik dan buruk, bukan ajaran bukan agama, melainkan sesuatu yang lebih awal ketimbang itu semua: ketika manusia ternyata bisa menangis dan bertindak mengulurkan tangan ketika yang tak berdaya, yang kelaparan, yang dipermalukan dan dihinakan terkapar di halaman.

    Politik memang sering menganggap bela rasa itu hanya instrumen. Tapi ada selalu kebutuhan praktis sebuah kota, sebuah polis, untuk terus-menerus melawan, mencegah, agar orang seperti Willie Stark, yang hanya tertarik kepada dirinya sendiri dan hanya percaya akan Keburukan, tak terus-menerus menguasai hidup dan percakapan. Di situ politik berarti sebuah kerja, ketika engkau mengajakku memulihkan kembali harapan: meskipun Kebaikan tak selamanya jelas, Keburukan bukanlah dasar segalanya.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.