Cermin

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tahun adalah cermin. Di depannya, setiap sehabis 31 Desember, akan saya lihat: guratan umur makin keras. Keriput makin banyak. Pori-pori kulit membesar. Rambut rontok.

    Dan waktu kembali jadi angka: jika tahun ini kau rayakan ulang tahun ke-50, atau ke-60, atau lebih, kita tahu jangka waktu hidup yang sama tak akan tercapai lagi. Ujung jalan itu sudah tampak.

    Dalam arti itulah masa depan jadi lebih tertentu: hidup akan berakhir. Saya pasti tak akan menyaksikan 7.000.000 batang muda yang ditanam tahun lalu tumbuh jadi pohon tinggi dan rimbun, seperti deretan pokok asam dan mahoni di tepi jalan di kota saya masa kecil. Saya tak akan melihat tanah air kaya kembali dengan hutan tropis yang lebat. Saya pasti tak akan merasakan jalan-jalan tak lagi macet, polusi udara berkurang karena bensin tak lagi dipakai, dan bulan tak kusam ketika malam purnama, dan di Jakarta, di ibu kota, sesuatu yang lebih manusiawi hadir bahkan di rumah sakit umum, di penjara, di kaki lima, dan museum dan teater dikunjungi, bangunan baru terawat dan bangunan lama selesai dipugar, dan stasiun kereta api gaya Art Deco di wilayah Kota yang sudah lama tak terawat itu mempesona kembali. Ya, banyak sekali yang pasti tak akan saya alami.

    Tapi siapa yang dapat mengatakan, hal-hal indah itulah yang akan terjadi. Bagaimana bila sebaliknya? Bagaimana jika kelak ribuan dusun dan kota hilang tenggelam oleh laut yang menggelegak karena kutub utara jadi cair? Bagaimana jika yang terjadi adalah bentrokan berdarah yang tak henti-hentinya, karena masyarakat jadi amat timpang antara kaya dan miskin, dan sumber-sumber alam kikis, dan orang marah kehilangan rasa keadilan? Bagaimana jika mereka yang lemah terus tertekan oleh kemahakuasaan uang, ketidakjujuran pejabat negara, dan sifat represif dari lembaga-lembaga adat dan agama?

    Saya, seperti Anda, tak tahu bagaimana menjawab itu. Orang mampu menyusun statistik, membuat prediksi, memperkirakan probabilitas. Tapi kita tahu hidup tak bisa distatistikkan, karena yang tak lazim selamanya bisa terjadiatau memang selalu terjadi.

    Ada sebuah sajak Chairil Anwar:

    Kalau datang nanti topan ajaibmenggulingkan gundu, memutarkan gasingmemacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalanaku sudah lebih dulu kaku

    Ketika aku jadi kaku, ketika kematian itu datang, itu adalah "ketika" yang probabilitasnya praktis 100 persen. Tapi tak urung, ada kemungkinan yang menakjubkan akan terjadi: "topan ajaib" yang "menggulingkan gundu, memutarkan gasing".

    Bahwa kita bisa merasakan yang ajaib itu sebetulnya sebuah keajaiban tersendiri. Bahwa kita bisa menghayati, bahkan menghasilkan, sesuatu yang tak disangka-sangka, itu menunjukkan betapa hidup tak semuanya buah sebab dan akibat, tapi juga kejutan demi kejutan.

    Determinisme selamanya meleset. Ada yang dalam filsafat kini disebut sebagai "kejadian", setidaknya semenjak Heidegger menyebutnya sebagai Eregnis: sesuatu yang terjadi di luar hubungan kausal. Seperti ketika sederet nada muncul dalam sebuah komposisi musik: nada yang satu tak disebabkan, atau menyebabkan, nada yang di sebelahnya; masing-masing hadir, terdengar, entah dari mana. Di situ kita tahu, hidup bergerak didorong oleh elan vital yang kreatif, dan yang tak terduga-duga datang, memukau, bukan oleh satu titik yang kukuh di ujung sana dari sebuah garis lurus. Tak ada garis lurus. Kita tak tahu dari mana sajak Chairil, komposisi Cornel Simanjuntak, dan kanvas Zaini mulai. Semuanya "kejadian". Itu sebabnya dalam pemikiran Deleuze, "kejadian" sama saja maknanya dengan "penciptaan".

    Maka tahun tak hanya ibarat cermin tempat kita berkaca melihat proses keuzuran. Tahun juga sebuah tanda waktu yang tak sempurna, "titimangsa" yang hanya satu sisi.

    Sebabjika kita teruskan meminjam uraian Deleuze (yang mengembangkan buah pikir para filosof sebelumnya)ada waktu sebagai Chronos, ada waktu sebagai Aion. Yang pertama adalah waktu yang merupakan satu rangkaian "kini" yang bisa diukur, diingat, dan disusun sebagai urutan. Yang kedua adalah waktu kreatif, waktu "kejadian", waktu kejutan. Dikatakan secara lain, itulah "waktu yang copot dari sendi", time out of joint, untuk memakai kata-kata Hamlet kepada sahabatnya, Horatio, setelah (demikianlah tersebut dalam lakon Shakespeare) hantu ayahnya datang memberi tahu rahasia yang mengerikan di takhta Denmark.

    Waktu yang "copot dari sendi" memang terasa mencemaskan. Tapi rasa cemas itu tak melumpuhkan manusia. Dalam waktu sebagai Aion, manusia seakan-akan terlontar. Ia mengalami kebebasan dari hukum sebab dan akibat, tapi dengan itu ia masuk di momen "kejadian". Seperti nada B minor yang muncul dalam harmoni, "kejadian" tak berlangsung dalam waktu yang sudah disusun; ia justru membuka waktunya sendiri. Bahkan pada akhirnya "kejadian" atau "penciptaan" tak bisa selamanya berada dalam harmoni. Deleuze melukiskannya dengan membandingkan musik Baroque dan neo-Baroque: sebuah peralihan dari penyelesaian atau cakupan harmonis ke dalam sebuah susunan yang macam-macam nada, termasuk yang sumbang, atau, dalam kata-kata komponis Boulez, "sebuah polifoni dari pelbagai polifoni".

    Hidup adalah sebuah polifoni, bergerak, memencar, multi-lipatan yang tak henti-henti. Kematian hanyalah salah satu momen di dalamnya. Haruskah saya sesali, jika itu terjadi? Tiba-tiba saya temukan lagi satu kutipan yang ditulis Deleuze: "Yang terbaik dari semua dunia yang mungkin bukanlah dunia yang mereproduksi yang abadi, melainkan yang jadi tempat di mana ciptaan baru diproduksi".

    Yang abadi tak akan di sini. Di depan cermin tetap akan tampak rambut rontok dan kulit mengeriput. Juga napas kian lemah. Tapi entah di mana dalam evolusi hidup, ada "topan ajaib" yang seakan-akan menggerakkan bahkan mainan yang mati: "memutarkan gasing, memacu kuda-kudaan, menghembus kapal-kapalan."

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.