Gertak Sambal

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putu Setia

    Apa masalahnya sambal dikaitkan dengan kata gertak? Mungkin karena sambal identik dengan pedas. Gertak artinya mengancam dengan kekerasan. Itu menurut kamus. Jika ditambah sambal, artinya mengancam untuk menakut-nakuti. Unsur kekerasannya hilang. Kalau tak ada yang takut, ya, tak apa-apa juga. Bukankah rasa pedas itu hanya sementara?

    Agar mata pelajaran soal gertak sambal ini lebih dipahami, saya memberi contoh. Front Pembela Islam (FPI) mengancam menggulingkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono jika pemerintah berani membubarkan organisasinya. Ancaman itu dilontarkan karena SBY berpidato di Kupang dalam perayaan Hari Pers Nasional. Di situ SBY mengancam akan membubarkan ormas yang suka berbuat anarkistis. Pidato itu disambut tepuk tangan sebagai pertanda bahwa hadirin mendukung.

    SBY tak pernah menyebut FPI, tapi pimpinan FPI merasa sebagai sasaran. Maka, ancaman menggulingkan pemerintah itu disampaikan. Saya tak tahu apakah Presiden jadi takut atau tidak. Yang jelas, Menteri Dalam Negeri, yang menjadi pembantu Presiden, berdialog dengan pimpinan FPI dan hasilnya kita semua tahu, tak ada satu pun ormas yang dibubarkan. FPI pun nyaman karena targetnya sudah tercapai. Akan halnya penggulingan itu, barangkali jauh dari target karena, seperti halnya pidato SBY di Kupang, ini hanya gertak sambal dan bukan gertak.

    Contoh lain, SBY dengan wajah dan nada serius berpidato di Istana. Presiden menyebutkan akan ada evaluasi soal koalisi karena ada satu-dua partai yang mengingkari koalisi. Ucapan Presiden ini diterjemahkan sebagai ancaman untuk partai yang membangkang. Para elite politik yang dekat dengan SBY meneruskan ancaman itu lebih keras lagi: ada dua partai akan didepak dan jatah menterinya di kabinet akan dicopot. Bagaikan paduan suara, orang pun bernyanyi: reshuffle reshuffle.

    Dimunculkanlah nama menteri yang baru, seiring dengan nama menteri yang akan hengkang. Para pengamat semuanya yakin reshuffle dalam waktu dekat. Prof Tjipta Lesmana--nama ini perlu disebut karena yang diamati banyak, termasuk sepak bola--hakulyakin reshuffle akan terjadi tanggal 9 Maret (karena SBY suka angka sembilan), paling tidak tanggal 11 Maret (itu hari bersejarah, Supersemar).

    Tiba-tiba Menteri-Sekretaris Negara berpidato di Istana. Beliau menyebutkan, Presiden jangan dipaksa melakukan reshuffle. Tak ada reshuffle dan tak ada partai yang ditendang dari koalisi. Sidang pembaca tentu sudah lebih tahu dari saya, apakah saat berpidato tentang evaluasi koalisi itu SBY hanya menggertak atau menggertak sambal? Kita tahu sampai hari ini tak satu pun menteri yang diganti, malahan Presiden meminta bekerjalah dengan tetap konsentrasi pada tugas.

    Golkar dan PKS--dua partai yang dianggap membangkang--tahu betul apa definisi gertak sambal. Golkar tak dapat ditakut-takuti dengan merapatnya PDI Perjuangan ke SBY, karena mereka yakin hal itu seperti pungguk merindukan Mega. PKS selalu yakin tetap dalam koalisi karena partai ini punya senjata ampuh yang terpendam: menggerakkan massa ke Istana, dan itu ditakuti penghuni Istana. Kedua partai ini akhirnya tetap berkoalisi di pemerintahan sembari beroposisi di parlemen.

    Tiga setengah tahun menunggu 2014. Entah ada berapa lagi contoh gertak sambal. Capek sebenarnya, karena urusan ini hanya di seputar Istana dan Senayan. Yang mengurusi kemacetan di Merak tak ada, yang melindungi warga Ahmadiyah tak ada, apalagi mengurusi lumpur Lapindo. Rakyat seolah tanpa negara. Tapi mau apa kita, ikut menggertak pakai sambal?


  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.