'Mr. A'

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putu Setia

    Semalam suntuk saya menebak-nebak, belum juga menemukan siapa Mr. A yang menghebohkan jagat politik ini. Mr. A penting untuk dilacak karena pastilah identitasnya ada, bukan makhluk jadi-jadian. Apalagi orang--saya yakin orang dan bukan hantu--yang diinisialkan dengan A itu dilontarkan oleh Ramadhan Pohan, politikus dan sekaligus anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Tentu memalukan kalau wakil rakyat yang digaji oleh uang rakyat sampai membuat guyonan yang mengada-ada.

    Selama ini saya akrab dengan Mr. X. Jika ada mayat terapung yang belum dikenali identitasnya, media dengan gampang menulis Mr. X. Jika sudah jelas diketahui, X berubah menjadi nama seseorang. Kenapa X dan bukan Y atau Z atau A, misalnya? Mungkin supaya lebih misterius. Bukankah nama yang berawal huruf X jarang ada di negeri ini?

    Artinya Mr. X itu ada orangnya tapi namanya belum diketahui. Setelah juntrungannya jelas, namanya bisa berawal huruf A, B, C, dan seterusnya. Tapi, kalau sudah menyebut Mr. A, pasti namanya sekitar Akbar, Abu, Andi, Achmad, Anas dan bukan Bambang atau Idrus.

    Lalu siapa Mr. A yang dimaksudkan Ramadhan itu? Hanya dia yang tahu--selain Tuhan, kalau Tuhan pun tidak dibohongi. Jika teka-teki ini dianggap meresahkan persatuan Indonesia--sila ketiga Pancasila--Ramadhan bisa dimintai keterangan. Tapi, ya, kita maklum, jangankan Ramadhan, begitu banyak elite partai yang bikin resah tak pernah dimintai keterangan.

    Karena itu, semalam suntuk saya menebak teka-teki Mr. A. Saya mulai dari apa tuduhan kepada Mr. A. Disebutkan Mr. A menjadi operator serangan kepada Partai Demokrat, termasuk melalui penyebaran pesan pendek (SMS) berisi ancaman M. Nazaruddin. Ini dianggap memecah belah Demokrat.

    Apa iya Akbar Tandjung atau Aburizal Bakrie salah satu dari Mr. A itu? Saya ragu, karena Akbar santun berpolitik. Aburizal mungkin tak melakukan serangan "seremeh" pesan pendek. Terlalu sederhana untuk mengobrak-abrik partai sekoalisi.

    Jangan-jangan orang dalam Demokrat sendiri. Achmad Mubarok, misalnya. Dia paling depan meminta Nazaruddin diberi sanksi, pada saat koleganya membela Nazar. Kini dia paling terbuka menyebutkan Nazar ngumpet di Singapura, pada saat koleganya mengatakan Nazar berobat. Sikap begini kan bisa memecah belah partai.

    Atau Andi Nurpati? Dia masuk ke Demokrat membawa etika buruk dengan mundur sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum sebelum waktunya. Ternyata dia membawa "bom" atau "mercon" ke Demokrat karena dituduh memalsukan surat Mahkamah Konstitusi--sebuah tuduhan luar biasa berat kalau saja polisi kita profesional. Ini kan merusak partai pula.

    Atau Anas Urbaningrum? Politikus kalem dan sangat jujur--begitu kesan awal saya--ini boleh jadi merusak partai dari dalam. Alasan saya, untuk partai sebesar Demokrat dan untuk Anas yang intelektualnya meyakinkan, kenapa memilih Ruhut Sitompul sebagai juru bicara? Saya tak menyebut Ruhut pelawak atau es kopyor--biarlah itu diucapkan Mahmud Md.--tapi setiap Ruhut muncul di televisi, langsung istri saya mematikan TV. Istri saya tak tahan dengan gaya bicaranya, apalagi saat memuji Susilo Bambang Yudhoyono. "Kasihan SBY-nya," kata istri saya. Jika begitu, bukankah Anas merusak image Demokrat?

    Capek juga begadang, tak menemukan siapa Mr. A. Kesal sendiri, saya pun berkesimpulan: untuk apa memikirkan Mr. A, termasuk memikirkan Demokrat dan partai lainnya? Kalaupun semuanya pecah atau hancur, apa sih ruginya bagi rakyat? Toh, yang mereka kerjakan baru hal-hal remeh, seperti mengurusi pesan pendek, bukan mengurusi perut rakyat.


  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.