Reformasi

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Toriq Hadad
    Wartawan Tempo

    Batuk-pilek berat menghilangkan semangat saya berbincang dengan kawan Dul Simo, yang tiba-tiba saja nongol di pintu rumah.

    "Tumben, Dul, kamu pakai blangkon? Dari mana?"

    "Dari Solo, Mas. Menyaksikan sejarah dibuat, Kongres PSSI. Tidak diduga-duga, dari organisasi yang sering dihina-hina seperti itu bisa lahir reformasi besar. Kekuasaan lama tamat, kaum reformis menang telak. Barisan pemenang membuka lembaran baru sepak bola kita. Sebentar lagi, lupakan atur-mengatur pertandingan, suap wasit, suap pemain, tak ada lagi anggaran daerah dipakai klub bola, tak ada berantem di lapangan. Tak ada wasit dikejar-kejar dan dikeroyok pemain. Tak ada Ketua PSSI yang berkantor dari penjara lagi. Semua berubah. Berubah! Reformasi luar-dalam sudah datang," kata Dul sangat antusias.

    Saya tak tega membunuh kegirangannya. Saya juga tak sampai hati membantah beberapa pernyataannya yang kelewat bersemangat. "Tapi reformasi itu ditebus dengan duit yang besar kan, Dul?"

    Wajah Dul mendadak serius. "Ini soal sensitif, jadi perlu jelas. Pemimpin barisan penggerak reformasi memang orang kaya, pengusaha minyak. Ketimbang menyuap pengurus klub, sekalian saja klub itu dia beli. Ya, semua klub dia beli, jadi klub tak perlu menggerogoti anggaran pemerintah daerah. Klub itu dimodali sekian tahun, sampai bisa hidup. Kalau sudah jalan, klub bisa dibeli pengusaha daerah yang berminat. Jadi ini bisnis, Mas, bukan sedekah. Model bisnis yang canggih," ujar Dul mencoba meyakinkan.

    Batuk saya datang, bergelombang panjang, tapi jelas bukan akibat kalimat-kalimat Dul itu. "Jangan terlalu memuji dulu, Dul. Nanti kamu kecewa."

    "Saya paham, Mas. Tapi saya kira reformasi PSSI akan lebih berhasil daripada reformasi politik. Coba lihat. Setelah mahasiswa dan rakyat menggulung Orde Baru, partai-partai yang tinggal meneruskan perbaikan malah mengulangi watak orde yang ditumbangkan itu. Partai yang mengaku jujur dan bersih, eh, ternyata sangat "profesional" menangguk proyek-proyek kementerian. Yang gemar bilang "jangan korupsi" ternyata prakteknya menjadi "jangan tidak korupsi". Reformasi PSSI akan lebih hebat, Mas. Paling tidak, klub yang tak bagus tak akan bisa lolos ke liga utama. Ini jelas berbeda dengan reformasi politik, dengar-dengar ada orang yang tak cukup suaranya malah lolos ke Senayan.

    Tenggorokan kering membuat saya malas berdebat.

    "Dul, belum tentu yang kamu katakan itu semuanya benar. Sudahlah, jangan bicara politik. Sensitif. Nanti banyak orang marah. Walaupun barisan reformasi menang, penyakit PSSI itu banyak, perbaikan akan makan waktu lama."

    "Setuju, Mas. Kuncinya ada pada pemimpin. Selain tahu bola, bijaksana, dia perlu tegas. Pemain yang menabok wasit, hukum minimal dua tahun. Pengurus klub yang menyuap tak boleh memimpin sekian tahun, klubnya langsung degradasi ke divisi bawah. Kepemimpinan tak boleh lembek seperti cincau, gampang goyang-goyang seperti agar-agar. Keputusan perlu cepat dibuat, jangan semua ditunda dan diendapkan, akhirnya karam dan sulit diangkat untuk dibicarakan lagi. Ibarat lumpur menumpuk, akhirnya menyumbat apa saja. Organisasi segera lumpuh kalau banyak sumbatan."

    Saya sesungguhnya punya banyak keberatan atas keyakinan Dul. Tapi saya tak berselera mendebatnya. Lagi pula saya ingin dia cepat pulang, supaya saya bisa tidur, meredakan batuk ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.