Machiavelli, Marx, dan Mungkin

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ide-ide Niccolo Machiavelli sangat bermanfaat pendekatannya terfokus pada peran individu sebagai aktor mandiri yang memiliki, menciptakan, dan memanfaatkan sumber daya politik. Pendekatan ini berbeda sekali dengan fokus Marx dan pengikutnya yang amat membatasi atau malah menafikan peran individu selaku penyebab perubahan sosial.

    R. William Liddle, "Marx atau Machiavelli: Menuju Demokrasi yang Bermutu di Indonesia dan Amerika", Nurcholish Madjid Memorial Lecture, di Aula Universitas Paramadina, Jakarta, 8 Desember 2011.

    Machiavelli adalah kata kotor yang sulit dielakkan. Nama itu selalu dikaitkan dengan kalimat "tujuan menghalalkan cara". Tapi orang Italia ini juga menulis sebuah buku yang selama 500 tahun diperbincangkan, tentang manusia dan politik. Ia bukan pengarang dengan semboyan pendek.

    Tapi ia juga bukan filosof dengan teori besar. Ia berangkat dari pengalamanjalan yang ujungnya kegagalan. Bukunya itu, Il Principe, yang rampung di tahun 1516, ditulisnya di sebuah vila tua tempat ia mengundurkan diri. Setelah kalah.

    Tiga tahun sebelumnya, ia, pejabat tinggi Republik Firenze, tergusur karena perang dan politik. Ia kehilangan jabatan, sempat ditahan dan disiksa. Selepas itu, bersama istri dan empat anaknya ia menyingkir ke San Casciano, 15 kilometer di barat daya Firenze.

    Dari sini lahir "pamflet" itu: Il Principe, sebuah pedoman kekuasaan. Bila "teori politik" sebelumnya mengajarkan, seorang pemimpin baru mampu menggunakan kekuasaannya bila disertai moral yang benar, Il Principe tidak. Bagi kitab ini, politik adalah kiat untuk membentuk, merebut, mempertahankan, dan memperkuat negara, lo stato. Moralitas dan agama hanya penting sepanjang membantu politik.

    Buku itu dilarang Gereja pada 1559. Machiavelli memang tak berharap banyak dari agama. Baginya, agama, dalam hal ini Kristen, hanya mengagungkan manusia yang lembut hati dan kontemplatif, bukan manusia yang bertindak. Padahal dalam politik yang terpenting adalah virt.

    Virt berarti kejantanan, yang bertaut dengan tindakan: ketegasan, keberanian, kegesitan, kegarangan, kelicikansemua sikap yang perlu buat berkuasa.

    Dengan virt manusia melawan nasib, Fortuna. Machiavelli mengiaskan Fortuna sebagai "sungai yang destruktif", yang bila marah, membawa banjir. Tapi "sungai" itu, Fortuna, bisa dijinakkan, meskipun tak bisa dilumpuhkan. Dengan bahasa seorang misogynist, Machiavelli mengibaratkan Fortuna seorang perempuan yang perlu dipukul dan dihajar agar bisa "dikendalikan". Dengan virt.

    l l l

    Machiavelli hidup di zaman Renaissance yang meyakini manusia sebagai pusat pengukur semesta. Tak mengherankan bila dengan konsep virt ia dianggap membuka jalan bagi keyakinan yang kemudian jadi ciri dunia modern: manusia sebagai subyek yang tak gentar akan sihir alam. Dengan akalku, aku, subyek, mengatur nasib dan dunia.

    Saya kira ide tentang subyek yang solid itulah yang bergema dalam paparan Liddle: ia mengasumsikan pentingnya "individu" dalam pemikiran Machiavelli. Individu, kata Liddle, adalah "aktor mandiri" yang "memiliki, menciptakan, dan memanfaatkan sumber daya politik".

    Tapi sebenarnya premis ini tak kuat benar.

    l l l

    "Individu" sebagai "aktor mandiri" adalah sebuah ilusi. Sejak psikoanalisis Freud, tak mudah lagi orang berbicara tentang "subyek", "aku", sebagai sesuatu yang utuh. "Aku" sesungguhnya ungkapan diri yang didesakkan bahasa, dikondisikan oleh tata simbolik yang dikukuhkan struktur sosialtapi akhirnya tetap saja diri itu tak bisa transparan sepenuhnya.

    Mungkin saja seorang "aktor" politik yang merasa mandiri sebenarnya dikendalikan berhala yang dibangunnya sendiri, baik berupa benda, sistem, tradisi, maupun agama. Sejauh mana ada "kemauan bebas" dalam dirinya, itu masih sebuah persoalan.

    Dan dalam hal Machiavelli, saya ragu bahwa ia yakin "kemauan bebas" itu termasuk hakikat manusia. Mungkin ia malah tak yakin ada yang bisa dirumuskan sebagai hakikat manusia. Yang ia saksikan, manusia tak merdeka penuh dari Fortuna. Nasib itulah, tulis Machiavelli, yang memutuskan sebagian yang kita lakukan. Kita hanya bebas mengendalikan sebagiannya lagi.

    Sebab itu ia sebenarnya tak memastikan peran individu dalam politik. Risalahnya, yang berjudul Latin De principatibus (bahasa Inggrisnya: principalities), lahir dari keprihatinan membangun keutuhan wilayah dalam satu negara yang kukuh; Machiavelli ingin Italia perkasa. Bila ia menghendaki sesosok individu yang teguh, sang Raja, saya kira itu karena baginya penguasa itu adalah proyeksi lo stato. Maka kita tak melihat bahwa Il Principe sebenarnya meletakkan Raja, seorang individu, hanya alat memperkuat lo stato. Ia harus mengikuti diktat tertentumisalnya mengabaikan dorongan hatinya sendiri, demi tugas memimpin. Ia terbelah: ia subyek, ia obyek.

    Mungkin itu sebabnya dalam bukunya yang lain, Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio, Machiavelli tak yakin sang Penguasa sosok yang solid dalam merawat Republik. "Orang banyak (la molitudine)," tulisnya, "lebih arif dan lebih konstan ketimbang Raja." Dalam hal berhati-hati dan menjaga stabilitas, "Rakyat punya pertimbangan yang lebih baik." Maka, "Bukan tanpa alasan jika dikatakan, suara rakyat adalah suara Tuhan." Sebab, kata Machiavelli, "opini yang universal" bisa menghasilkan hal yang mengagumkan.

    Bukan berarti Machiavelli seorang demokrat jenis abad ini. Ia tak menegaskan rakyat sebagai penyangga utama kekuasaan Republik. Tapi ia tak juga meletakkan pemimpin sebagai sumber tunggal kekuatan. Pandangannya lahir dari keprihatinan yang terus-menerus tentang kemungkinan seorang Raja gagal menjaga kelanjutan hidup negara. Virt perlu tegak. Juga hukum. Juga sistem untuk tak bergantung pada satu Pemimpin.

    Keprihatinan Machiavelli terbit karena baginya kehidupan politik adalah antagonismemirip pandangan Schmitt, Laclau, dan Moufle di abad ke-20. Kekuasaan negara niscaya tumbuh dari benturan. Ketika ia anjurkan sebuah Republik agar merevitalisasi diri dengan "kembali ke dasar awal"-nya, Machiavelli mencontohkan prosedur di Firenze pada 1434-1494: tiap lima tahun dilakukan ripigliare lo stato, seakan-akan negara kembali ditegakkan, dengan membangkitkan rasa jeri (kepada musuh) seperti ketika di awal dulu.

    Artinya, bagi Machiavelli, kekuasaan tak datang dengan manisdan bukan dari sesuatu yang sudah hadir di luar gerak sejarah. Ia tak mengikuti teori Plato. Ia tak anggap Republik dibentuk dari ide.

    l l l

    Mungkin itu sebabnya Machiavelli pernah dianggap sebagai "pendahulu pendekatan materialisme terhadap sejarah". Dalam Political Thought from Machiavelli to Stalin: Revolutionary Machiavellism (Palgrave Macmillan: 2004), E.A. Rees mengutip kesimpulan itu dari ensiklopedia yang diterbitkan Akademi Komunis di Uni Soviet di tahun 1925-1926. Di sini Machiavelli dirapatkan ke Marx, seperti pernah dicoba pemikir Marxis Italia terkenal itu, Gramsci.

    Memang ada titik temu: sebagaimana bagi tiap pandangan sejarah materialistis, bagi Marx dan Machiavelli tak ada kehadiran yang transendental dalam hidup yang mengalir berubah. Tak ada rekayasa dari Langit atau "Aku" di luar proses ruang & waktu. Subyek dan identitasbaik sebagai Raja dengan virt-nya, sebagai rakyat yang militan untuk kemerdekaannya, maupun proletariat dalam revolusinyajustru baru muncul menegas dalam perjuangan politik.

    Tapi titik temu itu tentu tak tepat benar. Marx lebih optimistis; baginya kelak akan lahir dunia baru yang lebih baik. Bagi Machiavelli, corak dunia tak secerah itu.

    Dari abad ke-16 yang diguncang-guncang politik, ia memang peka terhadap ketidakajekan. Ia kutip banyak cerita dari sejarawan Livio tentang negara yang terletak genting di antara stabilitas dan kejatuhancerminan kondisi manusiawi yang fana.

    Marx juga melihat kondisi manusiawi itu sebagai "basis" dari kekuasaan politik yang berganti-ganti. Tapi ia hidup di abad ke-19 yang mempercayai kepastian ilmu; sosialismenya pun disebut "ilmiah". Dengan metode ilmu, Marx melihat sejarah menuju ke akhir yang jelas dan kekal: masyarakat yang tanpa konflik dan pengisapan.

    Kini kita tahu ilmu bisa salah dan dunia tak kunjung lepas dari kapitalisme dan krisis-krisisnya. Kini sejarah berjalan tak pastidan debar jantung Machiavelli bergema lagi.

    Di titik inilah Althusser, filosof terkenal dan anggota setia Partai Komunis Prancis, menulis Machiavel et Nous. Naskahnya terbit pada 1990, setelah ia meninggal. Mikko Lahtinen menguraikan dengan bagus perkembangan pikiran tokoh Marxisme ini dalam Politics and Philosophy: Niccolo Machiavelli and Louis Althusser's Aleatory Materialism (Koninklijke Brill NV: 2009)salah satu sumber tulisan saya ini.

    Althusser sepakat, Machiavelli adalah "pemikir materialis terbesar dalam sejarah". Tapi pandangan materialisnya terbentuk oleh praxis politik, hasil pergulatan dengan keadaan di suatu saat, mengikuti kaki yang bergerak terus di atas tanah. Ini materialisme tanpa perspektif yang punya arah. Berbeda dengan Marxisme.

    Althusser menyebutnya materialisme aleatoiredan ia mengadopsinya sebagai pengembangan materialisme Marx. Akar katanya, alea (Latin), berarti dadu. Materialisme ini bertolak dari konsep "materi" yang tak cenderung berbentuk; ia ibarat lempung meleleh yang tak menjurus ke sebuah wujud karya keramik. Dalam sejarah politik, "materi" ala Machiavelli adalah percaturan sosial-politik sehari-hari, dunia kehidupan (Lebenswelt) yang bergerak acak. Tanpa desain. Bentuk akan muncul dari pergeseran "materi" itu sendiri bersama energinya, tapi tak terduga, seperti jatuhnya dadu di ruang kosong. Tak ada rumus dan otoritas yang mengaturnya. Serba-mungkin.

    Selama itu, persaingan terus. Tak ada satu subyek politik pun yang bisa mengklaim hak untuk menang. Gelombang yang membentuk dinamika sejarah akan tetap mengempas: perjuangan mereka yang tak masuk hitungan melawan mereka yang menentukan hitungan. Tiap bentuk kekuasaan (juga "demokrasi liberal" kini) tak bisa mengelakkannya. Dan kita tak tahu apa selanjutnya. Mungkin A, mungkin X.

    Itulah sejarah demokrasi: cerita tegang untuk memilih satu di antara pelbagai "mungkin". Pilihan itu tak akan "benar" selamanya. Bagi Machiavelli, yang bisa diharapkan memang bukan "benar" yang kekal, tapi "benar" dalam arti efektif: verit effettuale della cosa. Tentu saja tak cukup. Juga dalam zaman yang tak pasti ini, politik demokratisasi hanya akan bersungguh-sungguh bila mengusung "benar" yang universal, dan sebab itu terus berkobar: cita-cita ke arah hidup yang tanpa penindasan. Cita-cita Marx.

    Jakarta, 15 Desember 2011
    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.