1900

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ia lahir di kapal, tinggal selama hidupnya di kapal, bekerja sebagai pianis di kapal, dan tak berkeberatan ketika ada yang menyebutnya sebagai "seseorang yang tak dapat bermain piano tanpa ada laut di bawah pantatnya".

    Namanya "1900". Lengkapnya "Danny Boodman T.D. Lemon 1900".

    Film The Legend of 1900 karya Giuseppe Tornatore (sutradara Cinema Paradiso) dimulai di SS Virginian, kapal penumpang yang menghubungkan kedua pantai yang dipisahkan Atlantik. Pada tahun 1900, di kapal itu ditemukan bayi. Seorang awak kapal pun memungutnya dan memberinya nama panjang ituyang merupakan gabungan namanya sendiri, angka tahun ketika si orok didapatkan, dan sebuah iklan yang tampak dalam kotak.

    Dan di geladak SS Virginian itulah 1900 berangkat dewasa, menyaksikan hidup, belajar hidup, dan berlatih bermain piano dengan bakat yang menakjubkan. Segera ia jadi pianis utama dalam orkes kapal.

    Itulah puncak pengalamannya. Ia bisa bertanding keterampilan dengan Jelly Roll Morton, "Bapak Jazz" dari New Orleans yang naik ke SS Virginian menantangnya, dan ia menang. Ia jatuh cintadari jauhdengan seorang gadis yang ditatapnya seraya ia bermain piano untuk sebuah rekaman. Di orkes kapal itu juga ia bersahabat dengan Max, si gemuk pemain trompet.

    Tapi pada suatu hari, 1900 ingin pergi. Ia sampaikan niatnya kepada Max. Ia ingin mendengar suara laut dari pantai, bukan dari buritan kapal. Ia ingin jadi manusia darat.

    Max mendukung niat itu, dan mereka berdua membayangkan 1900 hidup sebagai manusia lumrah, menikah dan beranak. Tenteram.

    Maka di sebuah pelabuhan, 1900 pun bersiap turun. Max memberikan mantelnya yang bagus kepadanya. Dengan mengenakan topi fedora hitam yang necis, 1900 pun menuruni tangga untuk meninggalkan negeri asalnya, SS Virginian.

    Tapi di tengah itu ia berhenti. Ia menatap ke arah kota: gedung-gedung jangkung, jalan berkelok silang menyilang, lampu-lampu.

    Ia tak melangkah lagi. Tiba-tiba ia mencopot topinya, melemparnya ke lautdan naik kembali ke kapal. Ia urung jadi manusia darat.

    "Bukan yang aku lihat yang menghentikan langkahku, Max, tapi apa yang tak kulihat," katanya menjelaskan.

    "kau lihat kau lihat jalanan itu, ya, jalanan itu? Ada ribuan! Bagaimana kita akan melakukan sesuatu di sana, bagaimana kita akan memilih satu saja satu rumah, seorang perempuan, sepetak tanah yang bisa kita sebut lanskap kita sendiri untuk kita pandang, juga satu cara mati?"

    Ia tak mau masuk ke wilayah yang beragam dan tak seluruhnya tampak itu. Ia ingin terpaku di kapal, sesuatu yang pas dan satu. Ia takut daratan. "Daratan itu sebuah kapal yang terlampau besar bagiku, ia perempuan yang terlalu cantik, perjalanan yang terlalu panjang, parfum yang terlalu wangi. Ia musik yang aku tak tahu menciptakannya."

    Keberagaman yang tak tepermanai itu, bagi 1900, sebuah horor. Mungkin The Legend of 1900 ingin jadi puisi tentang dunia kecil yang tak merengkuh ke mana-mana, seperti Cinema Paradiso menggambarkan Giancaldo. Dusun Sicilia dalam imajinasi Tornatore itu tak jauh berbeda dengan SS Virginian: orang saling mengenal, akrab, sama-sama gandrung kepada layar putih atau kamar musiksebuah hidup yang lain dari Roma, Paris, New York.

    Ada yang menyebut Cinema Paradiso sebuah ungkapan "postmodernisme yang nostalgik". Mungkin tepat, mungkin tidak. Ia bermula dari kisah seseorang yang dari Roma menengok kembali dusunnya dengan kenangan yang hangat. Memang nostalgia bermain di sini dan membuat masa lalu jadi Giancaldo yang memikat. Kita seakan-akan akan gampang menghuni dusun yang tak rumit itu dan bahagia. Yang kita lupakan, dalam tiap nostalgia bukan masa lalu yang melahirkan kerinduan, tapi kerinduan yang membuat masa lalu.

    Dan bila The Legend of 1900 merindukan sebuah masa ketika dunia lebih bersahaja, ia mengambil satu posisi yang tak menarik: ia memperpanjang rasa takut kepada kemerdekaan.

    Rasa takut kepada kemerdekaan itu (satu fenomen psikologis yang sejak 1941 dilihat Erich Fromm, penerus dan pengkritik psikoanalisis Freud) adalah patologi yang jadi akut karena zaman modern. Zaman ini membuat manusia jadi individu yang terpisah. Orang akhirnya gentar berdiri di atas kaki sendiri. Ia pun masuk ke dalam kelompok, berpegang kepada satu ajaran bersama, berlindung.

    Tokoh The Legend of 1900 mirip, meskipun sedikit lain.

    "Bukan yang aku lihat yang menghentikan langkahku, Max, tapi apa yang tak kulihat." Baginya, hanya dengan yang dapat dilihat ia bisa hidupmisalnya 88 bilah tuts piano itu. Ia merasa mencapai sesuatu karena dengan hal-hal yang terhingga (yang hanya 88) ia bisa melahirkan lagu, dan ia pun jadi "tak terhingga".

    Tapi ia lupa, yang melahirkan lagu justru sesuatu yang tak dapat dilihat: kemerdekaan. Kemerdekaan itu yang membuat perasaan hidup dan musik bergetar jadi baru. Tanpa kemerdekaan, lagu hanya suara beo, musik hanya bunyi mesin.

    Tampak 1900 takut kepada yang tak bisa diduganya. Tapi musik, juga musiknya, justru memukau karena selalu ada kejutan, lirih atau keras.

    Dan ketika ia akhirnya menyerah kepada yang hanya bisa diduganya, yang pasti, yang satu, yang tak berubah, ia memilih kematian. Sebab apa yang tak berubah? Kapal SS Virginian juga berubah jadi butut, sebuah dunia yang jadi rongsokan yang harus ditenggelamkan.

    Syahdan, 1900 tak beranjak ketika kapal itu diledakkan. Ia ikut terkubur di laut.

    Yang tragis, ia bukan orang darat, tapi juga bukan orang laut. Laut punya banyak yang tak terlihat; ia keragaman yang tak tepermanai. Suara laut adalah suara kemerdekaan. "Kemerdekaan adalah laut semesta suara/ janganlah kau takut kepadanya," kata sajak Toto Sudarto Bachtiar. Tapi 1900 tak mendengar.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.