PON

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Putu Setia

    Mari lupakan sejenak masalah teroris. Biarkan urusan teroris itu menjadi pekerjaan polisi dan pengamat intelijen, yang lain tak usah terlalu banyak cuap-cuap. Semakin banyak cuap semakin membingungkan masyarakat. Ikhlaskan pula terduga teroris yang telanjur ditembak dan sudah dikubur itu.

    Mari kita ke Riau. Di sana ada hajatan besar, Pekan Olahraga Nasional (PON). Namun, status perhelatan akbar ini masih "terduga", untuk sementara "terduga PON". Disebut begitu karena sejatinya kita belum tahu benar, apakah pesta olahraga atlet-atlet seluruh Nusantara ini jadi dibuka atau tidak. Kalaupun dibuka, apakah para "terduga atlet" bisa menempati wisma yang diduga belum rampung, atau bisa bertanding di lapangan yang diduga belum kelar.

    Provinsi Riau lagi kena teror, diduga oleh alam semesta. Pada saat penduduk desa di Jawa kesulitan air bersih karena kekeringan dan kebakaran melanda berbagai hutan, di Pekanbaru muncul hujan lebat. Kanopi venue lapangan tenis langsung ambruk karena hujan lebat itu membawa "terduga badai"--belum ada penyidikan apakah ini badai atau sekadar angin kencang.

    Ambruknya kanopi ini seolah-olah membuktikan ada persaingan antara Komisi Pemberantasan Korupsi dan alam semesta. Seperti yang kita tahu, prestasi besar yang dicapai pada PON ini adalah beberapa pejabat daerah menjadi tersangka--bukan lagi terduga--karena menggarong sebagian dana PON. Alam semesta seperti ingin menantang KPK bahwa yang dikorup itu masih lebih besar daripada yang diduga, berbagai proyek dikerjakan asal-asalan yang tak memenuhi syarat karena biaya digelembungkan. Lihat saja, begitu ada angin yang diduga (belum tersangka) badai, bangunan roboh.

    Namun, lupakan pula soal ini, karena para pejabat kita sudah menyebutkan hal seperti ini masalah biasa, kejadian tak terduga, atau dinamika sosial. Kita terbiasa bekerja terburu-buru. Misalnya, perbaikan jalan yang terburu-buru dikerjakan menjelang mudik Lebaran, akibatnya perbaikan tak tuntas dan banyak jalan bergelombang, tetapi sudah dipakai mudik. Ada sekitar 900 nyawa melayang, entah berapa yang diduga karena faktor jalan yang tak memenuhi syarat.

    Seperti halnya perbaikan jalan, kenapa harus buru-buru dikerjakan sebelum Lebaran, kenapa tidak jauh-jauh hari tanpa menghitung Lebaran, begitu pulalah pembangunan sarana PON di Riau. Provinsi ini ditunjuk menjadi penyelenggara PON pada 12 Agustus 2006. Enam tahun sudah ditetapkan, tapi pembangunan sarana tidak dicicil, dikebut pada tahun terakhir. "Dinamika sosial" ini membuat sarana tak kunjung selesai pada saat atlet datang.

    Ah, lupakan lagi soal ini. PON soal olahraga, mari kita bicara atlet, bukan sarana. Beberapa provinsi berebut atlet nasional agar "berjuang" untuk daerahnya, demi gengsi. Iming-imingnya bonus. Si atlet nasional juga "terduga silau bonus", banyak tingkahnya. Awalnya satu medali emas dihargai Rp 50 juta di Bali. Kecil, begitu komentar berseliweran, diduga diembuskan sang atlet. Lalu naik jadi Rp 100 juta. Eh, daerah lain seperti Yogya juga menaikkan bonusnya. Medali emas di Aceh sudah dihargai Rp 150 juta dan konon Jakarta lebih gede lagi, tapi tak diumumkan.

    Lalu, untuk apa ada PON? Harusnya ada aturan main. Misalnya, atlet ini targetnya Olimpiade, atlet itu Asian Games, yang ini SEA Games. Atlet papan atas ini tak boleh ikut PON. Provinsi tak usah pakai gengsilah dalam arena PON. Mau gengsi apalagi kalau PON amburadul seperti ini, semuanya sudah jadi "terduga". Masih syukur kalau PON berlangsung tanpa ada atlet yang cedera tertimpa kanopi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Negara-negera yang Sudah Melakukan Vaksinasi Anak di Bawah 12 Tahun

    Di Indonesia, vaksin Covid-19 baru diberikan ke anak usia 12 tahun ke atas. Namun beberapa negara mulai melakukan vaksinasi anak di bawah 12 tahun.