Bensin

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Toriq Hadad
    @thhadad

    GARA-gara meriang, saya jadi kurang bersemangat menyambut Dul Simo, kawan lama. Saya dengar ia merancang bisnis baru, setelah gagal nyaleg. "Lancar usahanya, Dul?"

    Lancar apanya, Mas, gatot..., gagal total. Nyaleg gagal, bisnis gagal, negeri ini tak bersahabat dengan saya, Mas,h ujarnya murung.

    Kamu sih masuk partai abal-abal, belum apa-apa sudah bayar jutaan. Tapi bisnismu kenapa?h

    Gagal sebelum mulai, Mas. Hancur berantakan. Pemerintah yang menghancurkan,h ujarnya, serius. Saya terkejut. gJangan sembarangan, Dul. Memangnya kamu siapa, kok pemerintah sampai perlu menghancurkan segala. Apa yang kamu bisniskan?h

    "Saya bisnis pasokan BBM,h katanya. gMas tahu, saya masih punya sisa uang dari jual rumah untuk nyaleg dulu. Sisa uang itu saya belikan motor. Cukup untuk lima motor. Seandainya pemerintah jadi menetapkan dua harga BBM di bulan Mei ini, bisnis saya akan meledak,h katanya antusias.

    Demam membuat saya malas berpikir, apalagi mikir bisnis yang tak jelas. Saya tak bereaksi. Dul meneruskan "presentasi"-nya.

    "Begitu pemerintah menaikkan harga Premium mobil pribadi menjadi Rp 6.500 seliter, sementara untuk motor tetap Rp 4.500, lima motor akan saya isi penuh, dan bensinnya dijual kepada pemilik mobil pribadi. Calon pelanggan sudah ada, saya punya daftar. Mereka mau beli dengan harga Rp 6.000 seliter, lebih murah dari harga resmi. Artinya, seliter saya untung Rp 1.500, Mas. Motor bebek isi tangkinya 4,5 liter. Kalau saya perintahkan adik-adik saya mondar-mandir sepuluh kali saja, saya bisa dapat jatah 45 liter sehari," ujarnya berapi-api.

    Ia melanjutkan kalkulasi bisnisnya. gSaya bisa untung sehari Rp 67.500, sebulan Rp 2.025.000, setahun sudah punya duit Rp 24,3 juta. Kalau saya punya lima motor, setahun untung saya lebih dari Rp 120 juta. Motor lama yang umurnya baru setahun itu saya kasih gratis ke adik dan kawan, biar mereka tarik saudara atau kawannya untuk ngojek, itu akan menciptakan lapangan kerja lebih luas. Saya akan langsung ikut membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan,h kata Dul Simo, membanggakan ide gkreatifh-nya.

    Saya tercengang mendengar gagasan gila memanfaatkan celah rencana dua harga BBM itu--yang entah dari mana diadopsi Dul. Jangan-jangan ia terinspirasi oleh para penyelundup kelas berat, yang menjual BBM bersubsidi berkapal-kapal. Dalih pengentasan kemiskinan yang diusung Dul sungguh membuat kopi jahe yang saya sruput tiba-tiba terasa pahit. Roti bluder Surabaya yang masuk mulut mendadak sepo, hambar, di lidah saya.

    Melihat saya cuma bisa melongo, Dul malah bergairah. gDari keuntungan motor, saya bisa nyicil mobil penumpang umum dengan tangki kapasitas 40 liter. Mobil itu tugasnya cari bensin subsidi, bukan penumpang. Kalau lima kali bolak-balik saja, sudah 200 liter bisa disedot. Sebulan saya hitung dapat Rp 9 juta. Hitung sendiri kalau mobil itu beroperasi setahun,h kata Dul, girang.

    Tapi mendadak wajahnya mendung. gGagasan kreatif, kejelian melihat peluang bisnis, tak dapat tempat di negeri kita, Mas. Jiwa entrepreneur mati gara-gara pemerintah maju-mundur seperti undur-undur. Tahun lalu bilang harga bensin naik untuk mobil 1.500 cc ke atas. Tahun ini merancang dua harga bensin, lalu balik satu harga, lalu tak jadi. Pemerintah meminta kewenangan menetapkan sendiri harga BBM tanpa izin DPR. Begitu diberi, lho kok malah mundur. Sekarang bantuan langsung tunai jadi alasan. Apa sih maunya pemerintah ini,h Dul terus nyerocos.

    Saya tak dapat lagi menahan kesal. gMaunya pemerintah jelas, Dul. Supaya spekulan gendheng seperti kamu tak seenaknya nyedot jatah bensin orang miskin.


  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.