Demos

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mengapa mereka harus dilenyapkan? Seorang penyair kurus kering, beberapa pemuda yang tak punya pengikut jutaan dan tak punya senjata, seseorang bertubuh kecil yang bersuara seperti seharusnya orang bersuara (yaitu menunjukkan terjadinya pelbagai kesewenang-wenangan). Mengapa mereka harus dihabisi?

    Sebuah rezim yang berkuasa dengan kekang dan kekerasan selalu berada dalam pusaran mimang. Ia tak yakin akan legitimasinya sendiri. Ia bertumpu dengan menginjak orang-orang yang takut, yang mungkin diam dengan hati yang marah. Dan kian cemas rezim itu akan kemungkinan marah rakyatnya, kian meluas ia menginjak. Dan kian luas menginjak, kian waswas dia. Demikian seterusnya. Orde Baru dengan sederet jenderalnya adalah rezim dalam pusaran itu.

    Maka orang-orang pun disingkirkan: Wiji Thukul dan Munir dan lain-lain. Mereka itulah yang tampak di bawah, ibarat catatan kaki di sebuah kitab tebal, ibarat nota kecil dalam tubuh narasi besartapi justru sebab itu berarti. Mereka, nota kecil itu, untuk memakai istilah Ranciere, adalah orang-orang "di-luar-hitungan" (hors-compte). Merekalah demos.

    Dalam buku kedua Iliad, cerita Perang Troya yang dikisahkan Homeros, personifikasi mereka adalah Thersites, seorang prajurit rendah yang dilukiskan berkaki pengkor dan berkepala sulah. Homeros hanya menyebut satu insiden pendek tentang orang ini. Tapi gemanya panjang.

    Syahdan, setelah beberapa tahun perang berlangsung alot melawan pasukan Troya, Raja Agamemnon bertemu dengan pasukannya. Tak disangka-sangka, Thersites berdiri. Ia mengumpat raja yang memaksa para prajurit bertempur terus-menerus itu. Ia tunjukkan bahwa sang Rajayang mengerahkan ribuan tentara hanya untuk merebut istrinya kembali dari Troyaorang yang rakus. Thersites berseru agar orang-orang pulang, meninggalkan sang Raja serakah sendirian. Ia tahi-kucing-kan semua heroisme konyol di medan tempur itu.

    Menyaksikan itu, seorang aristokrat perkasa, Odysseus, marah. Dipukulnya punggung Thersites dengan tongkat kebesaran raja hingga roboh. Lukanya berdarah. Prajurit itu menangis. Yang hadir menertawainya. Semua kemudian mendengarkan kata-kata Odysseus yang fasih, teratur, menggugah, hingga kembali hasrat akan kemenangan. Dan tak ada yang mengikuti Thersites.

    Tapi memang sudah sejak mula, Thersites ditetapkan "di-luar-hitungan". "Kau cuma sampah!" hardik Odysseus. Oknum itu, sang demos, diikutsertakan sebagai bagian dari himpunan, namun pada saat yang sama disisihkan untuk tak bisa ambil bagian. Dalam salah satu dari 10 thesisnya tentang politik, Ranciere menunjukkanseraya memakai Thersites sebagai acuanbahwa demos berarti "si miskin".

    Tapi di sini "miskin" bukan kategori orang yang tak berpunya. Mungkin ia melarat, mungkin ia penyair lapar yang hanya bisa menuliskan protes, mungkin ia pengungsi yang tak punya surat-surat, mungkin ia gay, mungkin ia Syiah di kancah Sunni, atau sebaliknyatapi apa pun, dalam partage du sensible, dalam pembagian yang menentukan mana "yang oke" dan "tak oke", letak sang demos nyaris di luar cerita.

    Tapi Odysseus terganggu. Itu menunjukkan betapa rapuh sebenarnya posisi Raja menghadapi nota kecil dari bawah yang semula tak berarti. Legitimasi Agamemnon guyah. Wacana tentang kekuasaannya dan citra keperkasaan bala tentaranya tiba-tiba nyaris serupa balon yang mengempis. Ada kebenaran yang menusuknya: kata-kata Thersites, gema keluhan pasukan yang letih.

    Itu sebabnya Odysseus membungkam Thersitestapi setelah itu, dalam pidatonya, ia ingin menunjukkan empatinya kepada para prajurit yang sudah rindu kampung halaman.

    Dan seperti kemudian dikisahkan Homeros, begitu perang usai dan Troya kalah, pasukan Yunani bukannya berlomba-lomba menjarah hasil kemenangan, tapi cepat-cepat naik ke kapal untuk berlayar kembali ke tanah air. Dengan kata lain, Thersitesdengan bahasa dan tampangnya yang dijauhi banyak orangsebenarnya "mengutarakan apa yang dipikirkan orang lain". Umpatannya adalah perasaan kolektif.

    Tentu, ia tak menang. Dalam cerita Homeros, Agamemnon tak lengser. Odysseus berhasil kembali ke kerajaannya. Thersites bahkan mati dibunuh Achilles ketika mencemooh pendekar perang ini.

    Tapi bukan kebetulan bahwa dalam seluruh kisah Perang Troya, Thersites satu-satunya nama prajurit rendah yang disebut Homeros. Meskipun diletakkan sebagai sesuatu yang hampir tak tampak seperti catatan kaki dalam epos itu, ia tak dapat diabaikan. Ia adalah "yang-lain" yang tak bisa diseragamkan. Bahkan seorang penafsir Iliad, Eustathios dari Thessalonike (yang hidup di abad ke-12), mengemukakan sebuah teori: Thersites yang tak bertubuh kukuh itu direkrut ke dalam pasukan untuk Perang Troya karena dikhawatirkan, andai kata ia lepas, ia akan menghasut pemberontakan.

    Thersites dicatat sebagai anarithmoi, ia yang tak lepas tapi tak layak dihitung: itulah indikasi paranoia. Paranoia adalah sebuah lubang gelap dalam mimpi buruk sebuah rezim. Paranoia adalah sebuah kerowak dalam kesadaran yang mengklaim dirinya organisme yang tak retakdan sebab itu waswas melihat sesuatu yang lain.

    Wiji Thukul pun harus hilang, Munir diracun, dan berikutnya, dan berikutnya. Namun tak bisa selamanya. Seperti dikatakan Badiou, manusia adalah "makhluk yang mampu mengenali dirinya sendiri sebagai korban". Tapi justru "situasi paling buruk yang ditimpakan pada manusialah yang menunjukkan dirinya kekal". Jerit dan protesnya menjadi universal. Suaranya bergema di semua ruang, di semua waktu.

    Di momen itu ia menolak jadi sampah. Ia bukan ada-menuju-mati. Ia ada-menuju-emansipasi.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.