Gelanggang

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Indonesia adalah sebuah sosok yang dimulai dengan kata kami. Dan itu terjadi pada 17 Agustus 1945. "Kami bangsa Indonesia"kalimat pembuka Bung Karno tatkala memaklumkan lahirnya sosok baru itu ke dunia.

    Kata kami berbeda dengan kitakosakata yang tak ada padanannya dalam bahasa Eropa. Kami adalah penanda satu himpunan orang yang meletakkan diri di hadapan liyan yang diposisikan "di luar" himpunan itu.

    Tapi ada paradoks. Di satu pihak, sebagai identitas, kami membuat batas untuk menjadikan diri beda. Kami mengeluarkan liyan dari dalam perbatasan itu. Tapi di lain pihak ia jadi beda justru karena ada liyan kepada siapa ia diperbandingkan. Indonesia adalah Indonesia karena ia bukan Cina, bukan Malaysia, dan seterusnya. Pada saat yang sama: Cina bukan Indonesia, dan seterusnya. Yang "luar", liyan, memberi bentuk kepada kami, tapi sebaliknya kami membentuk yang "luar".

    Kita tahu, pembedaan tak akan pernah selesai; pelbagai hal dalam jumlah yang tak terhingga memberi bentuk sosok X. Derrida menyebut peran l'exterieur constitutif. X selamanya X yang belum definitif. Identitas ("X", "kami") adalah pengertian yang selalu tertunda.

    Ini tecermin dalam sebuah dokumen yang bertanggal 18 Februari tapi terbit pada 22 Oktober 1950 di majalah Siasat di Jakartateks yang sampai kini masih dikenang, meskipun jarang ditelaah: Surat Kepercayaan Gelanggang.

    Saya kutip sebagian besarnya:

    Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.

    Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.

    Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.

    Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.

    Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.

    Penghargaan kami terhadap masyarakat adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.

    Seperti Proklamasi Kemerdekaan, subyek teks itu kami, bukan kita: penanda sebuah kelompok sedang berbicara kepada orang di luar kelompok itu. Ada kesan, pernyataan ini tengah berhadapan dengan pendirian lain.

    Maka sering disebut, Surat Kepercayaan itu satu antithesis bagi Mukadimah Lekra, organisasi yang dibentuk pada 17 Agustus 1950 dengan inisiatif M.S. Ashar, A.S. Dharta, D.N. Aidit, dan Njoto (kedua yang terakhir ini pemimpin PKI). Tapi saya ragu. Yang saya lihat, kedua teks itu malah punya perspektif penting yang sejajar.

    Sementara Mukadimah Lekra "membantah pendapat bahwa kesenian dan ilmu bisa terlepas dari masyarakat", Surat Kepercayaan juga mengatakan adanya "saling pengaruh antara masyarakat dan seniman". Sementara Surat Kepercayaan menolak "melap-lap hasil kebudayaan lama" dan bercita-cita ke arah "dunia baru yang sehat", Mukadimah juga "menerima dengan kritis peninggalan-peninggalan nenek moyang kita" dan berniat aktif "memenangkan sesuatu yang baru maju". Sementara Mukadimah menegaskan peran "rakyat" sebagai pencipta kebudayaan, Surat Kepercayaan menyebut, dari rakyatlah "dunia baru yang sehat dapat dilahirkan".

    Jika terasa ada perbedaan, itu karena Surat Kepercayaan lebih sadar diri dalam menghadapi dunia luar. Kalimat "Revolusi di tanah air kami" dalam teksnya tampak ditujukan kepada pihak yang bukan bagian dari tanah air itu.

    Mungkin di sana ada gema zamannya: Indonesia, yang baru lima tahun memaklumkan kelahirannya, merasa hadir setara dalam kancah internasional. Surat Kepercayaan terbit hanya 24 hari setelah republik baru ini jadi anggota PBB, 28 September 1950.

    Dalam kancah itulah teks ini menegaskan "ke-Indonesia-an". Meskipun menyatakan diri "ahli waris kebudayaan dunia", teks itu menambahkan: kebudayaan dunia itu "kami teruskan dengan cara kami sendiri".

    Tapi kami di sana tak diwakili oleh sesuatu yang tetap. Kami diwakili "pernyataan hati dan pikiran"sesuatu yang berlapis-lapis dan terus-menerus baru. Juga ketika beberapa tahun berikutnya, Indonesia makin aktif memperkenalkan diri ke luar negeri, sebagaimana dikisahkan dalam buku yang disusun Jennifer Lindsay & Maya H.T. Liem, Ahli Waris Budaya Dunia. Tak ada Indonesia yang tunggal dan final.

    Yang tampak, "dunia", kian penting. Tapi di sini juga ada paradoks. Justru ketika apa yang diasumsikan sebagai "ke-Indonesia-an" dikemukakan sekuat tenaga ke dunia, identitas itu rapuh. Kekhasan ("beda") Indonesia yang ditegas-tegaskan mudah untuk jadi "beda" yang dirumuskan sebagai "unik"atau "eksotis". Penciptaan pun terjebak dalam nilai-nilai yang jadi penting demi ke-"unik"-an itu.

    Untunglah, Surat Kepercayaan menolaknya. "Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia."

    Artinya kami jadi percakapan yang kreatif dengan dunia dan zamannya. Kami jadi proses yang arahnya tak ditentukan lebih dahulu"identitas" yang tak hendak selesai, ditempa kemerdekaan, melanjutkan kemerdekaan.

    Goenawan Mohamad


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.