Dorian Gray yang Tidak Liar  

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta -

    DORIAN GRAY
    Sutradara  : Oliver Parker
    Skenario    : Toby Finlay
    Pemain      : Colin Firth, Ben Barnes, Ben Chaplin

            
    Film yang diangkat dari satu-satunya novel karya penyair  Oscar Wilde ini seharusnya menjadi beban besar bagi sutradara Oliver Parker. Novel Oscare Wilde yang berjudul asli The Picture of Dorian Gray ini sudah berkali-kali diangkat menjadi pertunjukan drama, menjadi inspirasi berbagai lagu, termasuk salah satu lagu U2, maka Oliver Parker seharusnya mempunya sebuah tafsir yang baru dari novel yang kontroversial ini.

    Film ini, seperti juga novelnya menampilkan sosok Dorian Gray (Ben Barnes), seorang pemuda Inggris yang tampan, yang membuat semua lelaki maupun perempuan London terkesiap. Keindahan wajah Gray membuat pelukis Basil Hallward  (Ben Chaplin) tertarik hingga dia meminta Gray berpose untuk sebuah lukisan potret. Lukisan potret Gray inilah yang menjadi obyek kegairahan masyarakat kelas atas London.

    Syahdan Lord Henry Wotton (Colin Firth) yang tertarik keanggunan dan kepolosan Gray memperkenalkan pada gaya hidupnya: seks bebas, dengan siapa saja, opium dan menggunakan uang sesuka hati. Kehidupan hedonistik ini menyebabkan Gray kemudian dengan mudah membuang orang-orang yang mencintainya dengan tulus, termasuk tuangannya sendiri Sybil (RachelHurd-Wood), seorang aktris teater Shakespare.
            
    Sementara antara Hallward dan Gray terjadi ketertarikan  yang samar, Wotton tak pernah melepas cengkeraman pengaruhnya pada jiwa Gray. Dengan kehidupan seperti itu, Gray memutuskan menjual jiwanya. Setiapkali dia “menjual” jiwanya, maka terlihat bagian dari tubuh lukisan itu mulai rusak atau mengeluarkan imaji ulat-ulat.
            
    Novel karya Oscar Wilde ini menjadi kontroversi karena kehidupan hedonistik, pembunuhan dan seks dideskripsikan dengan rinci (untuk zamannya).  Sutradara Oliver Parker jelas ingin menggunakan konsep horor misteri. Bukan hanya warna gelap dan musik yang meraung-raung setiap kali ada adegan dramatik, tetapi juga visualisasi lukisan yang kehilangan jiwa itu ditampilkan harafiah. Adegan seks di rumah pelacuran, adegan ulat-ulat yang menggeliat dari ekor mata lukisan Gray sama sekali gagal menampilkan  rasa dekadensi sebuah masa. Untuk diperlakukan sebagai
    sebuah film hororpun, terlalu tanggung karena konsep film ini sama sekali tak bermaksud memberi rasa takut, meski mereka menyelipkan musik horor.

    Wilde adalah nama yang terlalu besar untuk sebuah film yang tak memiliki konsep jelas. Dengan aktor seperti Colin Firth—yang tampil bagus sebagai tuan bangsawan yang hedonistik dan dominan—sebetulnya sayang sekali jika Dorian Gray akhirnya jatuh pada kategori film ‘lumayan’.

    Leila S.Chudori


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.