Selajur Cahaya Bernama Temple

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film Temple Grandin

    Film Temple Grandin

    TEMPO Interaktif, Jakarta -

    TEMPLE GRANDIN

    Sutradara: Mick Johnson
    Skenario : Christopher Monger dan William Merritt Johnson
    Pemain   : Claire Danes, Julia Ormond, Catherine O’Hara, David Strathairn

    Temple Grandin adalah selajur cahaya harapan dalam hidup. Ia lahir di dalam sebuah dunia yang tak selalu dipahami, bahkan oleh para ahli medis di zamannya, di tahun 1940-an dan 1950-an. Di zaman itu autisme, dianggap sebagai bagian gangguan mental dan pasiennya lazimnya dirawat di rumah sakit jiwa. Tetapi ibu Temple Grandin, Eustacia, seorang orang-tua tunggal lulusan Unversitas Harvard, tidak mau menelan diagnosa itu.         

    Dia memutuskan untuk merawat dan membesarkan Temple seperti anak-anak lainnya, tentu dengan kepekaan yang luar biasa akan kebutuhannya.  Eustacia (diperankan dengan baik oleh Julian Ormond yang meraih piala Emmy tahun ini) memasukkan Temple ke dalam sekolah regular yang menyebabkan Temple (diperankan Claire Danes yang juga meraih piala Emmy untuk penampilannya yang bersinar) menderita karena dia menjadi bahan olok-olok rekan sekelasnya. Ketika dia bergabung dengan sebuah asrama se  kolah yang memperhatikan murid-muridnya dengan khusus, seorang guru science (IPA) Dr.Carlock (David Strathairn)  yang memperhatikan  keistimewaan Temple. Murid autistik ini memiliki photographic memory yang luar biasa. Apa saja yang dilihatnya langsung terekam secara visual.

    Temple memiliki kemampuan mengukur ruang dan memotret visual dalam kepalanya dengan tepat dan rinci, hingga Dr.Carlock kemudian menciptakan sebuah tugas fisika yang ternyata hanya bisa dipecahkan oleh Temple. Maka selesailah semua ejekan dan olok-olok rekan sekelasnya. Mereka baru paham, di antara mereka ada seseorang jenius yang selama ini mereka anggap “aneh”. Ketidaklaziman tingkah Temple: sukar melihat mata lawan bicaranya saat berdialog, merasa panik jika ada yang menyentuhnya dan sangat terganggu oleh suara berisik. Bahkan Temple membangun sebuah alat untuk menenangkan dirinya, semacam sebuah kotak panjang. Temple akan masuk ke dalam kotak ini dan menenangkan dirinya sebagai ganti dari “pelukan nyaman” manusia.          

    Film yang diangkat dari kisah nyata yang berhasil meraih beberapa penghargaan Emmy, menjadi bintang di antara film-film, serial dan miniseri televise tahun ini. Penampilan sosok Temple Grandin sesungguhnya di ata sapanggung memberikan harapan yang bergelora bahwa autisme adalah suatu situasi yang bisa diatasi; bahwa para orangtua –meski mengalami tantangan berat—selalu harus percaya bahwa anak mereka tetap istimewa dan bahkan memiliki kelebihan dari anak-anak lainnya.          

    Yang menarik saat Temple Grandin menanjak dewasa dan meneliti tentang ternak sapi. Adalah Temple yang menemukan fakta bahwa rombongan sapi—seperti juga binatang lain—memiliki kepekaan sendiri. Temple Grandin menciptakan sebuah sistem penjagalan yang lebih manusiawi dan yang disebut sebagai “kematian yang lebih terhormat” yang justru lebih efisien dan tidak berantakan. Tentu saja upaya Temple pada tahap awal dicemooh dan dihina oleh para koboi lelaki yang merasa terancam pekerjaannya.          

    Claire Danes menampilkan sosok Temple Grandin dengan cemerlang. Dengan suara yang pecah sember sn sorot mata kemana-mana tanpa fokus, tapi keinginan yang kuat untuk mencapai tingkat pendidikan S3, Claire adalah Temple Grandin yang menjadi kesayangan dan pahlawan kita. Julia Ormond  juga berhasil tampil sebagai seorang ibu protektif bak seekor induk  burung yang memayungi anaknya dengan kedua sayapnya. Dahsyat.         

    Temple Grandin adalah cahaya harapan di dunia yang sudah semakin kering dan kusam.

    Leila S.Chudori


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.