Cinta dalam Semangkuk Udang  

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • imdb.com

    imdb.com

    TEMPO Interaktif, Jakarta -

    I AM LOVE

    Sutradara : Luca Guadagnino

    Skenario : Luca Guadagnino, Barbara Alberti, Ivan Cotroneo, Walter Fasano

    Pemain : Tilda Swinton, Gabriele Ferzetti, Pippo Delbono

    Ini kisah yang bermula dari sebuah rumah yang menjulang hingga langit Milan. Keluarga Recchi pemilik pabrik tekstil terkemuka Italia berada tepat di pucuk teratas struktur kelas kalangan borjuasi Eropa.

    Rumah yang megah itu milik anak sulung dari Klan Recchi, yaitu Tancredi Recchi (Pippo Delbono). Malam itu, rumah yang berselimut salju itu tengah mempersiapkan perayaan ulang tahun sang patriark, pemilik dan pemimpin perusahaan keluarga Edoardo Recchi Sr (Gabriele Ferzetti). Itu juga sebuah malam penting bagi seluruh keluarga besar.

    Sang patriark yang sudah renta dan digerogot kanker akan mengumumkan siapa penggantinya yang duduk di pucuk pemerintahan.

    Pengumuman itu mengejutkan, dia menyebut dua nama: Trancredi, anak sulungnya (yang ini tak mengagetkan) dan Edoardo, cucunya (yang ini sungguh di luar dugaan). Tetapi, "untuk menggantikan saya, dibutuhkan dua orang," katanya tertawa terkekeh menyelipkan keangkuhan dengan gaya yang elegan.

    Di antara aroma perebutan kekuasaan dan harta di dalam keluarga, pusat cerita sebetulnya ada pada Emma Recchi (Tilda Swinton), isteri Trancedi yang berasal dari Rusia dan mampu menyatukan diri dengan kultur kelas atas Italia.

    Dia seorang nyonya rumah yang memperhatikan setiap kebutuhan keluarga, dari piring yang tepat untuk makan malam hingga siapa yang harus duduk di sebelah sang ibu mertua.

    Dia juga seorang ibu yang sangat protektif pada anaknya, Edoardo -yang baru saja ditunjuk sang Opa untuk menggantikan tahtanya-dan Elizabetta (Alba Rohrwacher) yang diam-diam mengakui bahwa dia mencintai seorang perempuan.

    Tak ada yang mengira, malam yang kelihatan begitu tertib dan beradab itu bakal terguncang oleh kedatangan seorang koki bernama Antonio Biscaglia (Edoardo Gabbriellini) yang membawa sepiring kue buatannya.

    Antonio si lembut hati itu merasa sungkan karena mengalahkan Edoardo dalam sebuah pertandingan. Malam itu, Antonio menjadi sahabat baik Edoardo. Dan malam itu juga Edo memperkenalkan kawannya itu pada sang ibu.

    Di sanalah terjadi titik "cilaka".

    Antonio yang diminta untuk memasak dalam sebuah acara keluarga Recchi, menyajikan menu andalannya: beberapa ekor udang yang duduk dengan anggun di atas ratattouille. Lalu, tiba-tiba kita melihat Emma dengan gaun merah yang dicium selajur cahaya tengah menikmati potongan udang itu hingga mencapai titik orgasmik. Siapa yang tak ingin mencicipi hidangan itu? Sang koki pasti dahsyat sekali.

    Tetapi hiperbolisme ini memang dibutuhkan, karena seorang nyonya dari stuktur kelas yang begitu puncak dipastikan akan jatuh cinta pada sang koki yang 'bersahaja', yang menyampaikan rasa cinta dan birahi melalui masakannya.

    Dan Emma, yang selama ini merasa tak memiliki identitas apapun karena "sejak menikah dengan Trancedi, aku bukan lagi orang Rusia." Bahkan ia sendiri lupa nama asli Rusianya. Emma adalah nama yang diberikan suaminya agar sang isteri menjadi bagian dari lingkungan kelas atas kehidupannya.

    Plot cerita film ini sebetulnya tak jauh dari plot opera sabun: cinta, tragedi dan pengkhianatan dalam keluarga besar. Tetapi sutradara Luca menggunakan elemen-elemen artistik: musik John Adamn yang selalu muncul hanya jika dibutuhkan-berdentam keras dan agak intrusif-pada adegan tragis, dan mengalun lembut pada adegan pecintaan.

    Kamera yang merekam panorama Milan dan San Remo yang mengagumkan dan adegan saling intercut antara percintaan Emma dan Antonio dengan serangga yang menyeruput sari bunga di pegunungan.

    Hubungan ini memang gelap; tetapi segalanya terbuka hanya karena makanan. Antonio memasak sup kesukaan Edo yang resepnya hanya diketahui sang ibu. Bahasa film ini bukan hanya bahasa tubuh , tetapi juga bahasa aroma dan rasa.

    Ketika makanan kesukaan Edo disajikan, maka kotak Pandorapun terbuka selebar-lebarnya. Hubungan gelap sang ibu dan sahabat anaknya terungkap.

    Mungkin ada problem plot yang berbelok dengan ajaib pada akhir film. Setengah jam akhir film ini menjelma menjadi "opera sabun" . Ini sungguh tikungan yang mengejutkan dan sangat tidak cocok dengan awal kisah yang dibangun dengan begitu anggun.

    Bayangkan, bagaimana bisa akhirnya pasangan terlarang ini berasyik masuk di gua yang gelap? Kita tak akan pernah faham. Kalaupun adegan itu ingin dijadikan simbol -apapun arti simbol itu-sutradara Luca tidak berhasil mengakhiri film ini dengan subtil.

    Tetapi Tilda Swinton-yang sudah lama menyusun cita-cita pembuatan film ini bersama produser lainnya selama 10 tahun-memang tampil seperti sumber energi yang tak berkesudahan.

    Garis wajahnya yang unik dan purba, dengan kulit berwarna pucat itu justru menjadikan dia seperti seorang asing yang bercahaya di tengah keluarga Italia yang terdiri dari lelaki tampan dan perempuan jelita itu.

    Di luar persoalan plot film yang berakhir mengecewakan, film I am Love adalah satu dari banyak film yang berhasil membuat koneksi antara kegairahan makanan dan kegairahan cinta.


    Leila S.Chudori


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.