Kembalinya Aaron Sorkin ke Layar TV  

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film Newsroom di HBO (2012)

    Film Newsroom di HBO (2012)

    Serial baru yang sudah dihebohkan jauh sebelum masa tayangnya di HBO, hanya karena satu nama yang dianggap Midas: Aaron Sorkin.

    THE NEWSROOM

    Kreator          : Aaron Sorkin

    Sutradara      : Greg Mottola

    Pemain          : Jeff Daniels,  Emily Mortimer, Sam Waterston, John Gallagher,Jr, Alison Pill, Thomas Sadoski, Dev Patel, Olivia Munn, Jane Fonda

    Tayang          : HBO setiap Rabu, pukul 20.00

    Ada istilah lucu di antara para penggemar serial TV: Sorkinisque. Istilah ini lahir setelah Aaron Sorkin melahirkan serial TV The West Wing (1999-2006). Semula Sorkin mulai dikenal menulis skenario drama dan (kemudian) film layar lebar  A Few Good Men (Rob Reiner, 1992), The American President (Rob Reiner, 1995) yang kelak memberi pengaruh besar dalam jalan cerita dan kesuksesan Sorkin dalam serial TV The West Wing. Dialog yang tergesa, cerdas, cerkas di antara dua atau tiga orang yang tengah berjalan di antara koridor (kini dikenal dengan ‘walk and talk’ ala Sorkin) karakter yang tidak sempurna, penuh problem tetapi selalu berhasil meraup simpati penonton justru karena kelemahannya; problem romansa yang kompleks dan jangan lupa monolog idealistik para tokoh-tokohnya yang membuat kita terpana (karena begitu panjang dan diucapkan dengan ritme yang sangat cepat), terkadang benar, tak jarang naif dan hampir selalu self-righteous alias merasa diri yang paling benar. Saking khasnya, maka adegan-adehan ‘walk and talk’ ini menjadi sidik jari Sorkin. Akibatnya ada ratusan parodi yang dibuat para pengagum maupun kritikus Sorkin yang bisa disaksikan di YouTube yang selalu dimulai dengan “Jika Sorkin membuat Harry Potter” atau “Jika Sorkin membuat dialog Twilight” dan seterusnya. Dialog dan monolog model khas Sorkin ini tersebar di semua karya Aaron Sorkin, baik The American President (di mana Sorkin adalah penulis skenario), serial The West Wing, serial TV Studio 60 on the Sunset Strip (2007); Charlie Wilson’s War (Mike Nicholls, 2007) dan yang dua terakhir adalah Social Network (David Fincher, 2010 )dan Moneyball (Bennett Miller, 2011).

    Serial TV baru yang sedang ditayangkan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia setiap Rabu malam adalah The Newsroom. Jauh sebelum ditayangkan, seluruh penggemar Aaron Sorkin sudah harap cemas menanti berdebar, para kritikus film dan TV yang rindu dengan dialog cerdas khas Sorkin tak sabar. Pilot pertama ditayangkan dengan judul The Fourth Pillar dimulai dengan adegan Will McAvoy (Jeff Daniels) di panggung auditorium sebuah universitas terkemuka yang tampak bosan mendengarkan debat partai politik kiri dan kanan. Mcavoy seperti juga banyak wartawan TV di dunia, sudah apatis dengan kekuasaan rating yang merupakan ‘raja’ dari keputusan, sehingga mereka tak bisa lagi bekerja berdasarkan prinsip jurnalisme. Apa saja yang bisa menjadi hiburan atau sensasional selalu terpilih menjadi berita utama, dan jiwa rating ini akhirnya menjadi jiwa para wartawan televisi di Amerik. Sinisme itu kemudian menjadi sebuah ledakan ketika seorang mahasiswa yang dengan polos bertanya “mengapa menurut Anda Amerika adalah sebuah negara yang dahsyat?” Para peserta diskusi lain ngoceh betapa Amerika adalah negara yang memperkenalkan kebebasan, demokrasi dan seterusnya sementara McAvoy yang merasa melihat kelebatan wajah Mackenzie McHale (Emily Mortimer), mantan tunangan sekaligus koleganya yang dikenal sebagai wartawan perang terkemuka. Dan terjadilah gebrakan itu:

    “Amerika bukan negara terdahsyat dan terbesar....”

    Seluruh ruang auditorium hening. Rasa nasionalisme mereka tergoret. McAvoy, sebagai alter ego Aaron Sorkin, lantas memberi sebuah pidato panjang, keras dan tegas mengapa Amerika yang sering membanggakan dirinya sebagai negara terbesar di dunia ini sebetulnya tidak dahsyat. Dia memberikan angka-angka statistik tentang bagaimana kemampuan matematika muridnya yang jauh di bawah rata-rata di dunia, pencapaian teknologi maupun estitika yang juga tidak membanggakan dibanding negara lain. Dengan kata lain, Amerika seperti juga jurnalisme TV, sudah melenceng dari lurusnya rel kereta api. McAvoy ngoceh seperti didorong segumpal adrenalin yang selama ini ditekan di bawah alam sadarnya.

    Dan pada saat itulah dia menyadari bahwa pemberitaan selama ini yang dilakukan di stasiun ACN—tentu saja ini adalah  versi fiktif dari CNN—harus segera dirombak. Pemikiran itu ternyata bersambut dengan keinginan Charles Skinner (Sam Waterston) yang diam-diam merencanakan menyingkirkan tim yang selama ini dianggap terlalu menghamba pada rating dan menghidupkan kembali pemberitaan berdasarkan prinsip jurnalisme. Dengan cita-cita itu, Skinner juga diam-diam merekrut McKenzie McHale sebagai produser baru McAvoy. Problem personal pun mencuat (si perempuan meninggalkan si lelaki; si lelaki masih sakit hati dan seterusnya).

    McAvoy semakin nyolot.

    Saat gonjang-ganjing soal bagaimana McAvoy bisa berkompromi dengan bekas pacar yang diangkat sebagai produsernya,  Jim Harper (John Gallagher), tangan kanan McKenzie mengabarkan sebuah berita besar: ledakan ladang minyak di Teluk Meksiko. Dan pada saat itulah  gebrakan tim baru duet anchor McAvoy dan produser McKenzie dimulai.

    Tentu saja mereka yang menggemari gaya Sorkin yang fanatik akan melahap habis seluruh adegan debat cerdas antara James Harper yang naksir Maggie Jordan (Alison Pill), asisten yang kemudian diangkat menjadi associate producer; atau antara Charles Skinner versus Leona Lansing (Jane Fonda), pemilik seluruh kerajaan media yang sudah tidak betah dengan gaya McAvoy yang dianggap ‘sok memberontak”; atau antara McAvoy yang melahap habis Nina Howard (Hope Davis), wartawan gosip yang ditugaskan menghancurkan reputasi McAvoy atau bahkan saat  Sloan Sabbith (Olivia Munn), doktor ekonomi yang diangkat menjadi anchor yang mengganyang narasumber Jepang yang diwawancaranya dalam bahasa Jepang.

    Tetapi ada satu hal yang menjadi problem. Semua karakter itu, terutama saat berdebat dengan ritme cepat, lebih seperti suara Aaron Sorkin yang sedang merepet. Hingga episode ke 7 yang menampilkan berita penangkapan Osama bin Laden, ciri khas setiap karakter masih saja didominasi bayang-bayang Aaron Sorkin yang tengah berpidato.

    Problem lain adalah, meski serial The West Wing juga tak jarang menampilkan khotbah , tetapi karena diselipkan humor dan sosok yang cerkas maka pidato ala Sorkin masih sering dimaklumi. Serial baru The Newsroom mungkin sebuah reaksi terhadap begitu lamanya kekuasaan Kaisar “Rating” dalam nyawa pertelevisian dunia, hingga Sorkin tak bisa mengontrol adegan khotbah setiap 15 menit dalam durasi satu jam episode.

    Panjang,panjang, pedantik dan nyaris membuat kita ingin menekan tombol saluran lain.

    Tetapi, ini adalah karya Sorkin. Saat kita sudah mual dengan pidatonya, maka muncul adegan atau sosok lain yang lucu. Dan kita kembali terkunci pada drama ini.

    Sorkin sengaja menggunakan berita besar nyata –seperti ledakan ladang minyak di Teluk Meksiko, gerakan kubu Republikan untuk menggondol kursi Obama hingga penangkapan Osama bin Laden—sebagai latar belakang dari setiap episode. Kisah nyata itu sendiri tidak tampil. Yang menjadi nukleus seluruh drama setiap episode adalah “bagaimana” mereka memutuskan sebuah berita dan bagaimana berita itu dikejar. Lebih penting lagi, bagaimana mereka sebagai wartawan bersikap terhadap kasus yang mereka beritakan.   

    Jeff Daniels tampil meyakinkan sebagai anchor ACN yang arogan, cerdas dan sekaligus menjadi andalan stasiun mereka. Bahwa dia seorang wartawan yang memilih partai  Republikan dan temperamennya yang naik turun—dia pernah melempar Blackberry ke arah kamera karena jengkel—tidak menghalangi kita untuk menyukainya karena dia tetap obyektif dan bahkan menggebrak narasumber Republikan yang sering dungu dalam menjawab pertanyaan. Tetapi Emily Mortimer lebih seperti guru SMA daripada seorang wartawan perang dan produser TV. Bukan hanya karena suaranya yang melengking seperti jeritan ibu guru yang menghalau muridnya masuk ke kelas, tetapi karena gaya seni perannya yang gemar melayangkan tangannya ke mana-mana itu. Sulit untuk membayangkan sosok ini berkelebat dan dengan gagah meliput di Irak dan Afganistan. Marisa Tomei,yang semula akan direkrut untuk menjadi tokoh McKenzie akan jauh lebih meyakinkan.

    Sam Waterston sebagai pimpinan divisi pemberitaan atau Jane Fonda yang tampil sesekali sebagai sosok pemilik seluruhnya cukup mewakili bayangan kita tentang orang-orang di balik bisnis televisi Amerika.

    Serial ini mungkin bukan karya Sorkin yang terbaik—sejauh ini—tetapi kita masih berharap episode-episode mendatang pidato dan khotbah dikurangi, dan peliputan jurnalistik ditambah sehingga judul serial ini memenuhi mandatnya: sebuah cerita jurnalistik.

    Leila S.Chudori

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.