Gatsby di Antara Fitzgerald dan Luhrmann

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktor Leonardo DiCaprio menghadiri world premier film 'The Great Gatsby' di New York pada 1 Mei lalu. REUTERS/Andrew Kelly

    Aktor Leonardo DiCaprio menghadiri world premier film 'The Great Gatsby' di New York pada 1 Mei lalu. REUTERS/Andrew Kelly

    TEMPO.CO, Jakarta - Itu semua terjadi pada musim panas 1922.

    Nick Carraway, sang narator film, memperkenalkan dunia Long Island, New York, sebagai sebuah periode ketika “gedung-gedung jauh mencapai ke langit, pesta-pesta jauh lebih besar dan megah, alkohol yang jauh lebih murah, dan moral merosot ke titik dasar”. Akibatnya, menurut Carraway, “kegelisahan menular ke mana-mana dan mencapai titik histeria”.

    Di mata Carraway (Tobey Maguire), dunia saat itu hanya terbagi antara East Egg dan West Egg. Nun di East Egg, adalah tempat menetapnya para keluarga penggenggam dunia, yang mewariskan kekayaan tak habis-habisnya hingga akhir zaman; yang di dalam darahnya mengalir kemanjaan, kemunafikan, dan kekejian yang tak tertandingkan. Mereka adalah orang kaya lama yang merasa bisa melampaui kekuatan hukum dan tak mengenal moral. Di sanalah hidup seorang nyonya sosialita Daisy Buchanan (Carey Mulligan), istri Tom Buchanan, seorang putra dari keluarga old money yang duitnya tak habis tujuh turunan.

    Dari seberang East Egg yang dipisahkan oleh sebuah sungai, Carraway menyewa sebuah rumah kecil untuk mencoba menulis buku sembari mencari duit sebagai seorang pialang saham junior. Ketika malam menyelimuti West Egg, Carraway menyaksikan seorang lelaki bertubuh tinggi, berambut blonda, menatap ke seberang, dan tak putus-putusnya menatap rumah mewah nun di seberang sembari tangannya mencoba meraih sinar cahaya hijau yang tak teraba. Kelak di sebuah pesta megah di istana besar miliknya yang terletak di sebelah rumah Nick, kita mengenal lelaki tampan blonda bermata penuh rahasia itu adalah Gatsby. Jay Gatsby.

    Gatsby (Leonardo DiCaprio) selalu mengadakan pesta megah dan besar-besaran dengan bergalon sampanye yang tak henti-hentinya mengalir, makanan kelas hotel yang berlimpah; ratusan tamu yang mengalir begitu saja seperti air bah, dan langit West Egg yang terang-benderang karena dihias oleh ledakan mercon yang tak berkesudahan.

    Perlahan-lahan Jay Gatsby mendekati Nick untuk menjadi sahabatnya. Dia mengundang Nick ke pestanya, mengajak Nick ke berbagai tempat. Tetapi, sejauh itu, Nick tak pernah merasa mengenal Jay sama sekali, kecuali dia mengaku pernah menempuh pendidikan di Universitas Oxford (entah apa yang dipelajari di sana) dan dia pernah ikut bertempur dalam perang. Tetapi tak jelas dari mana lelaki muda dan tampan itu memperoleh kekayaan yang keterlaluan itu. Belakangan kita mengetahui bahwa tujuan Gatsby mendekati Nick Carraway adalah untuk menjadikannya jembatan bagi Gatsby dan Daisy, pasangan romantis yang putus cinta lima tahun lalu. Karena Nick adalah sepupu Daisy, Gatsby berharap Nick bisa membantu untuk mempertemukan kekasih yang didambakannya itu. Karena kini Daisy sudah menjadi Nyonya Tom Buchanan, akhirnya Nick membantu terwujudnya reuni di rumahnya. Sebuah pertemuan jenaka, sedikit komikal, dan mengharukan.

    Baz Luhrmann bukanlah Luhrmann jika tak membuat penonton terjengkang karena interpretasinya yang mengejutkan. Karya William Shakespeare Romeo and Juliet yang diadaptasi menjadi Romeo + Juliet (1996) dengan menggunakan setting dan kostum yang lebih modern dan pistol serta mobil, membuat kritikus terkejut sekaligus terpesona meski banyak pula yang menghujat karena Luhrmann membuang banyak dialog puitis yang kemudian diadaptasi menjadi lebih sederhana.

    The Great Gatsby adalah sebuah novel klasik karya F. Scott Fitzgerald yang kemudian dicatat dan disebut sebagai “The Great American Novel”. Selain menjadi bacaan wajib sekolah di Amerika dan hingga usia kelahiran novel yang ke-88, plot dan karakter novel ini masih saja menjadi perdebatan yang tak putus-putusnya. Karya ketiga Fitzgerald ini sudah puluhan kali diangkat ke panggung teater, drama radio, TV, dan terakhir film layar lebar pada 1974 oleh sutradara Jay Clayton.

    Jika Jay Clayton bertumpu pada seni peran Robert Redford sebagai Jay Gatsby, Mia Farrow sebagai Daisy Buchanan, dan Sam Waterston sebagai Nick Carraway, maka Baz Luhrmann membuat film ini seperti sebuah pesta sinematik yang wajib kita hadiri: megah, meriah, berisik, dan bergelora. Luhrmann adalah Gatsby dalam soal citra dan penampilan. Tokoh Gatsby yang digambarkan sebagai lelaki yang ingin segala yang terbaik dan terkemuka di muka bumi: rumah sebesar istana, musik yang dimainkan harus karya terbaru Vladimir Tostoff Jazz History of the World, pakaian harus katun, sutra, dan wol termahal, dan gadis harus yang tercantik di dunia: Daisy Buchanan. Maka Luhrmann sang sutradara melemparkan semua warna, semua kelap-kelip, semua jenis musik meski jadi anakronistik karena dia mencampurkan jazz dengan hip-hop, yang pada masa itu belum ada, sekaligus teknik 3D yang menampilkan bait-bait tulisan Carraway mengawang-awang melejit ke pangkuan kita.

    Karena toh Luhrmann menggambarkan orang-orang kaya yang penuh pretensi, sebetulnya kehebohan dan riuh-rendah eksekusi modern ini untuk beberapa saat masih bisa kita nikmati. Pesta-pesta di rumah Gatsby, kostum para pemain dan figuran, adegan kebut-kebutan mobil mewah pada zamannya dikontraskan dengan penggambaran kehidupan West Egg yang diwakili oleh suami-istri sebagai area kelas pekerja yang kumuh, hitam, dan penuh debu, ditampilkan dengan baik.

    Tetapi salah satu kekuatan novel ini justru pada karakter-karakter ciptaan Fitzgerald. Jay Gatsby (yang bernama asli Jay Gatz) adalah seorang miliuner yang misterius, magnetik, dan kharismatik sekaligus sangat rapuh karena emosinya bertumpu pada sebuah masa lalu yang tak mungkin diraihnya kembali. Lantas Daisy Buchanan adalah tokoh perempuan yang di kemudian hari dikenang dalam sastra Amerika sebagai sosok yang paling dibenci pembaca. Perempuan blonda, cantik, langsing yang bergerak bagai angin dan suaranya seolah mengelus hati lelaki ini adalah seorang perempuan yang dangkal, manja, hanya mementingkan dirinya dan tak peduli dengan nasib siapa pun di dunia ini. Dia mampu tertawa genit menarik perhatian seorang lelaki di pesta sekaligus mencemoohnya hingga lawan bicaranya tak akan pernah paham apakah Daisy menyukainya atau tidak. Serangkaian keputusan Daisy yang menggerakkan plot cerita, untuk akhirnya terjun ke dalam perselingkuhan dengan Gatsby, dan kemudian belakangan membiarkan Gatsby dihajar oleh akhir yang tragis, adalah kekuatan Fitzgerald yang dahsyat dalam novelnya.

    Masalahnya, apakah Baz Luhrmann berhasil membuat para aktor besar ini menjadi tokoh dalam karya yang sudah terlalu dikenal ini.

    Leonardo DiCaprio, dengan segala keanggunan, karisma, dan magnet yang tertanam di seluruh tubuhnya, berhasil menghisap kita untuk terus-menerus menyaksikannya tanpa jeda. Dia mendominasi layar. Dia adalah Gatsby. Carey Mulligan, dibanding Mia Farrow, lebih mampu mengangkat kompleksitas Daisy. Dia seorang sosialita cantik dan semampai, yang menyadari petualangan seks suaminya, yang keputusan akhirnya malah menjebloskan Gatsby. Dalam dunia sastra Amerika, Daisy dianggap sebagai tokoh yang paling tidak manusiawi di jagat ini. Sedangkan Tobey Maguire yang seharusnya berperan sebagai lelaki dewasa yang paling stabil dan “normal” di antara semua tokoh gila itu ternyata terlalu remaja, terlalu Spider-Man dan kehilangan wibawa Carraway. Nick adalah perwakilan moral peradaban. Dialah yang kemudian menyadari dan menyatakan betapa Tom dan Daisy Buchanan adalah orang-orang tanpa hati. Dialah narator sekaligus penunjuk peta bagi penonton tentang dunia F. Scott Fitzgerald dari sudut pandang Luhrmann. Tobey Maguire gagal menunjukkannya.

    Tetapi Baz Luhrmann yang sangat mementingkan gaya dan warna memang memperlakukan layar lebar seperti sebuah kanvas. Dia menerjemahkan tokoh Gatsby milik Fitzgerald menjadi Gatsby miliknya. Akibatnya, emosi dan keharuan yang kita peroleh saat membaca menguap dan tenggelam oleh riuh-rendah kemegahan warna-warni dan gemerlap kanvas Luhrmann.

    Leila S. Chudori

    THE GREAT GATSBY
    Sutradara : Baz Luhrmann
    Skenario   : Baz Luhrmann dan Craig Pearce
    Berdasarkan novel karya F.Scott Fitzgerald
    Pemain     : Leonardo DiCaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, Joel Edgerton, Isla Fisher

    BOKS : Hemingway, Fitzgerald, dan Sastra Amerika

    Dengarlah kisah Ernest Hemingway tentang sahabatnya, Scott Fitzgerald:

    Menurut Hemingway, suatu hari Scott Fitzgerald meminta Hemingway menemui Scott di Restoran Michaud, Paris. Pesannya adalah Scott perlu menanyakan sesuatu yang mahapenting, dan Hemingway wajib menjawab sejujur-jujurnya.

    Sembari menikmati makan siang dan anggur, Hemingway mengaku deg-degan, mengira ada sesuatu yang begitu gawat, sementara Scott baru meluncurkan pertanyaan setelah makan siang licin tandas. “Tahukah kau, sebelum menikah dengan Zelda, aku tak pernah berhubungan intim dengan siapa pun,” kata Scott sembari menenggak anggur.

    “Tidak, saya tidak tahu,” kata Hemingway polos.

    “Inilah yang harus saya tanyakan.... Zelda mengatakan dengan bentuk dan ukuran tubuh saya seperti ini…, katanya, saya tak akan bisa membuat perempuan bahagia. Kata dia, ukuran itu penting....”

    Demi mendengar kegelisahan sahabatnya itu, Hemingway, sastrawan paling maskulin pada zamannya itu, tak banyak cingcong dan mengajak Scott ke belakang untuk membuktikan sendiri apa yang diributkan Zelda. Dia harus melihat “bukti” untuk mematahkan ucapan Zelda.

    “Kamu baik-baik saja,” kata Hemingway tegas, “tak ada yang kurang pada dirimu,” kata Hemingway meyakinkan Scott. Untuk membuat sahabatnya tenang, dia menganjurkan Scott ke Museum Louvre dan melihat patung-patung telanjang. “Kau lihat ukuran penis mereka, dan pulanglah dan kau bandingkan dengan milikmu.”

    “Tapi ukuran punya si patung bisa saja tidak tepat,” kata Scott masih gelisah.

    Hemingway akhirnya mengantar Scott ke Museum Louvre agar Scott bisa melihat sendiri semua patung telanjang itu dengan teliti. Scott masih saja tak tenang dan memikirkan kata-kata istri yang sangat dicintainya itu. Hemingway mulai jengkel dan menyentak, “Jangan dengarkan kata-kata Zelda. Dia gila!”

    Tulisan Hemingway yang dijadikan satu kumpulan dalam buku A Moveable Feast (Arrow Books, 2011)--sebuah buku yang diterbitkan sesudah Hemingway wafat, berisi kisah sehari-hari saat dia dan para sastrawan lainnya menetap dan berkarya di Paris—adalah salah satu cerita bagaimana besarnya cinta Scott Fitzgerald kepada Zelda, istrinya.

    Sebagian orang menerjemahkan tokoh Daisy Buchanan dalam The Great Gatsby adalah perwujudan Zelda. Sebagian yang lain menganggap Daisy diinspirasi oleh Ginevra King, seorang sosialita dan kekasih Scott di masa muda. Ada juga yang menganggap kedua perempuan ini menyatu dalam sosok Daisy Buchanan menjadi seorang tokoh perempuan yang berhasil mengikat dan memenjarakan hati Gatsby sekaligus menyiksanya untuk selama-lamanya.

    Hemingway secara terang-terangan dalam tulisan-tulisan A Moveable Feast menyatakan bahwa dia tidak cocok dengan Zelda karena dia merasa Fitzgerald yang luar biasa berbakat itu karier kepenulisannya terhadang oleh kerewelan dan kemanjaan Zelda. Menurut Hemingway, Scott tak bisa berkonsentrasi karena setiap kali Scott sedang menulis, Zelda pasti merengek mengajak bepergian. Karena Zelda cantik dan manja, dan Scott sangat mencintainya, Scott akan menomorsatukan Zelda. Konsep ini sungguh asing bagi Hemingway yang selalu saja menikah dengan perempuan yang pengertian dan takluk padanya (kecuali Martha Gellhorn, seorang wartawan perang yang mandiri yang justru meninggalkan Hemingway).

    Woody Allen yang menyutradarai film Midnight in Paris mengambil beberapa bagian dari buku A Moveable Feast yang memperlihatkan hubungan antara sastrawan Ernest Hemingway, Scott, dan Zelda Fitzgerald yang selalu tegang.

    Ketika akhirnya novel The Great Gatsby lahir, Hemingway mengaku Scott meminta Hemingway membacanya. “Dari cara dia membicarakannya yang tersipu dan begitu rendah hati, sukar untuk membayangkan ini novel sebetulnya bagus.” Hemingway mafhum, sahabatnya sungkan memuji karya sendiri, karena Scott Fitzgerald adalah--menggunakan bahasa Hemingway--seorang “a non-conceited writer”, seorang penulis yang tidak angkuh.

    Hingga akhir hayatnya, meski ia mendapatkan resensi positif dari berbagai kritikus, Fitzgerald kecewa karena hasil penjualan novel The Great Gatsby tak memenuhi harapannya seperti hasil komersial kedua novel sebelumnya. Namun, hanya beberapa saat setelah kematiannya, novelnya mulai laku keras, menjadi best-seller, dan bahkan salah satu novel Amerika yang sering diadaptasi ke panggung teater dan film.

    LSC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.