Sekali Lagi: Will Mcavoy!

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Film seri Newsroom (2012)

    Film seri Newsroom (2012)

    TEMPO.CO, Jakarta- Bahwa Jeff Daniels berhasil mendapatkan Piala Emmy pekan lalu bukan hanya mengejutkan dunia, tapi juga dirinya sendiri. Sebagai Aktor Terbaik  kategori Drama untuk serial televisi, Daniels mengalahkan aktor-aktor watak seperti John Hamm (Mad Men), Bryan Cranston (Breaking Bad), Hugh Bonneville (Downtown Abbey), Damian Lewis (Homeland), Kevin Spacey (House of Cards).

    Tetapi Jeff Daniels adalah salah satu alasan untuk tetap menyaksikan serial ciptaan Aaron Sorkin yang menjengkelkan. Musim tayang pertama The Newsroom sebetulnya bukan sebuah rangkaian serial yang gagal. Kehidupan wartawan televisi berita dan bagaimana mereka memperoleh berita, memilih dan mengembalikan idealisme di atas kepentingan rating tentu saja penting dan menarik. Tetapi musim tayang penuh dengan kecenderungan misoginistik Aaron Sorkin di mana tokoh-tokoh perempuan –betapapun cerdasnya—ditampilkan menjengkelkan, konyol dan selalu menjerit setiap 20 menit (ya tokoh Mac, Maggie, semua sama saja. Berteriak histeris adalah sebuah jalan keluar yang selalu dipilih perempuan; begitulah cara pandang Sorkin terhadap perempuan).  Belum lagi kecenderungan Sorkin yang gemar memberikan monolog panjang pada tokoh-tokoh utama, begitu panjangnya khotbah itu, kita yang menyaksikan malu sendiri karena rasanya dalam hidup nyata orang yang berpidato moralistik seperti itu pasti sudah ditimpuk telur busuk. Sesekali kita menikmati betapa cerdasnya pantun bersambut antar tokoh yang berlangsung begitu cepat dan saling potong-memotong kalimat. Semua tokoh doyan bicara terburu-buru dan mereka tak pernah membiarkan lawan bicaranya menyelesaikan kalimatnya, tetapi karena mereka semua begitu cerdas kita mulai berpikir, kemana larinya  orang-orang yang bodoh atau yang agak bodoh dalam dunia Sorkin?

    Pada musim tayang kedua, Sorkin mengakui bahwa dia merombak jalan cerita dan melakukan rekaman ulang, terutama saat membaca beberapa kritik yang dia akui memang sahih. Mungkin karena itu, plot musim tayang kedua—meski dasar dari kasus itu agak lemah--digarap lebih rapi dan menyajikan seni akting yang lebih meyakinkan.

    Sorkin memulai episode satu dengan adegan Rebecca Halliday (Marcia Gay Harden) mewawancarai seluruh wartawan ACN (Atlantic Cable News)-- stasiun TV berita fiktif yang jelas mengambil CNN sebagai model—tentang kasus Opera Genoa yang membawa institusi mereka pada sebuah keputusan jurnalistik yang fatal. Operasi Genoa, sebuah operasi yang diduga melibatkan senjata kimia yang konon disemprot tentara Amerika  di sebuah kampung di Afganistan.  Kasus ini menjadi plot utama sepanjang sembilan episode yang dinarasikan melalui  kesaksian setiapwartawan  dengan adegan kilas balik sekaligus melibatkan beberapa subplot.

    Apakah benar Amerika Serikat dengan segala arogansi dan pengangkatan diri sebagai polisi dunia itu justru menghembuskan gas sarin? Apa benar?

    Isyu itu mengoyak stasiun berita ACN gara-gara satu hal: persoalan ‘cinta remaja’. Inilah plot Aaron Sorkin yang biasa membuat kita kecewa. Sorkin adalah seorang penulis skenario jenius dengan jejak rekam hebat, mulai dari film drama serius serius seperti “A Few Good Men” (Rob Reiner, 1992) hingga komedi seperti “The American President” (Rob Reiner, 1995), yang kemudian berbuntut ke serial terkemuka “West Wing” (serial TV 1999-2006), Sorkin berhasil menyatakan dirinya sebagai seorang penulis skenario dan kreator yang memiliki sidik jari yang jelas:  ritme yang cepat, plot yang zig-zag , karakter yang berbicara begitu lekas dan walk-talk (para karakter yang berbincang sembari berjalan) yang kemudian ditiru banyak serial TV lainnya.

    Dalam film Social Network (David Fincher, 2010) yang mengisahkan kasus legal yang dihadapi pencipta sosial media Facebook, yang dalam dunia Aaron Sorkin hanya disebabkan Mark Zuckenberg kepingin masuk dalam klub mahasiswa yang ‘keren’ (sementara dalam kisah nyata Zuckenberg sama sekali tak tertarik klub ekslusif mahasiswa itu dan dia sudah punya kekasih yang cantik dan cerdas). Di dalam skenario Social Network, Sorkin mulai agak terbentur dengan plot. Sesuatu yang terlalu remeh—emosi remaja—menjadi dasar dari sebuah kerangka cerita besar.

    Itu pula yang menjadi dasar dari plot besar musim tayang kedua.Dalam The Newsroom kedua, produser Jim Harper ( merasa cintanya pada tokoh Maggie (Allison Pill) yang blonda itu tak akan pernah terwujud. Menyaksikan Maggie bermesraan setiap hari di ruang redaksi membuat hati Harper hancur berkeping-keping. Didorong rasa galau, Jim Harper—yang pada musim tayang perta ngotot pada atasannya, Mackenzie (Emily Mortimer) agar dia diberi penugasan mengikuti bis wartawan peliput kampanye capres partai Republikan Mitt Romney. MacKenzie yang faham dengan ‘urgensi’ ini segera mengabulkan permintaan dan memanggil produser cabang Washington untuk sementara menggantikan posisi Harper. Jerry Dantana (Hamish Linklater) ,seorang produser/wartawan TV muda yang luar biasa ambisius dan sejak awal sudah dipasang Sorkin sebagai tokoh antagonis.

    Adalah Dantana yang menemukan kabar burung penggunaan zat sarin oleh tentara AS di Afganistan. Tentu saja klaim ini tak dipercaya oleh Mac dan Charlie (Sam Waterston),bos tertinggi Divisi Pemberitaan ACN. Mereka langsung melakukan verifikasi kepada petinggi militer yang menggunakan bahasa yang  implisit tentang penggunaan zat kimia tersebut.

    Karena ini berita yang terlalu berat dan besar, tentu saja lazim mereka membentuk apa yang disebut “red team”, anggota redaksi yang sejak awal tidak dilibatkan dalam peliputan ini dan pada akhir peliputan akan ditanya pendapatnya, agar mereka bisa mendengarkan opini dan kritik dari mata dan suara yang masih segar dan lebih obyektif. Hasilnya bisa ditebak, hampir semua—terutama Jim Harper yang saat itu sudah pulang dari liputan di lapangan—tetap meragukan klaim itu.

    Penggunaan teknik kilas balik ini lebih menekankan “bagaimana” sebuah instituasi besar seperti ACN bisa membuat kesalahan fatal dalam memilih berita yang ternyata sebuah jebakan besar. Lebih sinting lagi, ternyata wawancara yang dilakukan pengacara ACN Rebecca Halliday adalah persiapan menghadapikarena Jerry Dantana, ya si pembuat malapetaka itu justru yang menuntut ACN, bukan sebaliknya.

    Dalam musim tayang kedua, Sorkin nampak mendengarkan kritik penonton dan kritikus—yang sesungguhnya menggemari karya-karyanya—bahwa penggambaran perempuan dalam serial ini sungguh buruk. Karena itu kesembilan episode ini sungguh melegakan karena Mac tak lagi menjerit-jerit di tengah ruang redaksi dan penampilan Sloan Sabbath (Olivia Munn) sebagai wartawan ekonomi semakin menarik dan cerdas. Subplot Maggie yang ditugaskan mengalami trauma di lapangan hingga dia memotong dan mengecat rambutnya mengharukan dan justru lebih menarik ketika dia tak lagi dicemplungkan ke dalam cinta segitiga.

    Lalu bagaimana dengan Jeff Daniels yang berhasil memperoleh penghargaan Emmy sebagai Aktor Terbaik dalam serial drama? Memang sekilas sulit untuk menghargai Daniels karena kita terlanjur jengkel sekaligus candu pada serial ini. Tetapi Daniels sebetulnya seorang aktor yang berhasil menjadi bunglon. Ingat film Dumb and Dumber (Peter Farelly, 1994)? Ya itu adalah Jeff Daniels. Di sini dia menjadi seorang anchor terkemuka yang mengaku sebagai anggota Republikan yang moderat yang justru kritis terhadap kelakukan partai Republikan yang konservatif. Dia mengatakan dia membenci mereka yang konservatif dari partai Republikan karena mereka “membenci gay dan membenci segala yang wajar dan logis.”

    Dialog Sorkin memang sering tajam , tapi lebih sering lagi bernada khotbah. Dalam musim tayang kedua, khotbah itu agak berkurang, meski masih saja meluncur dari mulut tokoh Will McAvoy atau MacKenzie McHale.

    Bahwa semua persoalan diselesaikan secara paksa pada akhir cerita bahkan sampai menuntaskan hubungan Will dan Mac, nampaknya Sorkin merasa belum pasti nasib masa depan serial ini. Sebetulnya jika serial ini diteruskan dengan tambahan perbaikan—karena nampaknya Sorkin mendengarkan kritik—mungkin musim tayang ke 3 akan mengembalikan ingatan pada penonton, mengapa kita dulu begitu mencintai Sorkin di masa-masa kejayaan serial West Wing.

    Leila S.Chudori


    THE NEWSROOM


    Musim Tayang Dua

    Kreator             : Aaron Sorkin

    Skenario           : Ian Reichbach, Aaron Sorkin

    Pemain              : Jeff Daniels,  Emily Mortimer, John Gallagher Jr., Alison Pill, Thomas Sadowski, Dev Patel, Olivia Munn, Sam Waterston, Jane Fonda

    Produksi            : HBO

                                                                ***


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ini Daftar TNI-Polri yang Pernah Menjabat sebagai Plt Gubernur

    Penunjukan anggota TNI-Polri menjadi Plt Gubernur sudah sempat terjadi beberapa kali. Penunjukan itu diputuskan oleh Mendagri saat itu, Tjahjo Kumolo.