Katniss dan Peeta Menjelang Revolusi

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film The Hunger Games: Catching Fire

    Poster film The Hunger Games: Catching Fire

    TEMPO.CO, Jakarta -Bagian kedua dari trilogi The Hunger Games memasuki pertandingan yang jauh lebih keji dan berdarah. Peserta pertandingan veteran yang lebih berpengalaman,eksentrik dan berdarah dingin.
                  
                                ***

    Selamat datang ke pertandingan Hunger Games ke 75.
    Sebuah dunia yang kelam karena kau harus membunuh untuk bertahan hidup dan gerak-gerikmu diawasi oleh seluruh pimpinan dan warga Distrik.
        Kini, Srikandi kita, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence) pulang ke Distrik 12 menemui Ibu, adiknya Primrose  (Willow Shields) dan kekasihnya  Gale (Liam Hemswerth). Katnis kini digempur rasa marah, sedih, luka hati akibat seluruh pengalaman berdarah selama pertandingan Hunger Games ke 74. Ditambah lagi sandiwara cintanya bersama Peeta (Josh Hutcherson) yang sebetulnya semakin membingungkan-- karena kini dia merasa mencintai Gale dan Josh secara bersamaan-Katniss menjadi gadis yang bukan saja pemarah, tetapi penuh dendam dan pemberontakan terhadap pemerintahan Presiden Snow.
     Di dalam dunia novel trilogi Suzanne Collins,  Presiden Snow adalah Big Brother ala novel Georgel Orwell 1984. Rakyat yang  mengeritik, melawan dan memberontak Snow  akan disiksa dan ditumpas habis oleh tentara "Penjaga Perdamaian". Sang Presiden yang rambutnya memang seputih salju itu (diperankan dengan lezat dan menggigit oleh Donald Sutherland) dengan tenang menyampaikan dia mengetahui hubungan Katniss dengan Gale. Atas perintah Snow, Katniss harus meneruskan  sandiwara cinta dengan Peeta di hadapan warga sepanjang tur Victory yang menghampiri 12 distrik. Di beberapa distrik, pemberontakan sudah mulai memanas karena tersulut atas keberanian Katniss si Gadis Api.
        Reality show gaya di dalam dunia dystopia ini tentu saja bukan menyajikan gemerlapnya kisah cinta Katniss dan Peeta, menjadi perjalanan pemberontakan (diam-diam) Katniss. Diberi pidato yang sudah konsep sejak awal, Katniss malah menuturkan kepedihannya di hadapan Distrik 11 atas kematian Rue, si kecil yang sudah seperti adik sendiri yang tewas. Gara-gara skenario pidato itu melenceng, warga distrik 11 serentak mengacungkan tiga jari dan terdengar siulan mockingjay di udara. Inilah simbol antara Rue dan Katniss saat mereka bekerja sama bertahan diri pada pertandingan sebelumnya, dan  burung ini pula yang menjadi simbol perlawanan seantero 12 distrik. Bisa dibayangkan bagaimana murkanya Presiden Snow.
        Dengan sutradara  Francis Lawrence, sekuel ini adalah sebuah loncatan ke level yang lebih tinggi lagi. Film ini mempersembahkan babak berikut pertandingan yang jauh lebih keji dan garang. Kali ini, kepala pertandingan dijabat oleh Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) yang jauh lebih politis  dan penuh intrik daripada pendahulunya Seneca Crane yang sudah diganjar hukuman mati. Kali ini para peserta dipaksa bersekutu karena tantangan yang dihadapi jauh lebih mengerikan: kabut beracun; serombongan monyet jadi-jadian (tentu saja dengan bantuan CGI) yang ganas menyergap para peserta yang terdampar di sebuah pulau buatan. Jika pada pertandingan Hunger Games ke 74 para peserta adalah remaja, kini para peserta lebih variatif: ada pasangan ilmuwan, nenek sepuh, pasangan pecandu narkotik yang semuanya tak bisa dipandang enteng oleh pasangan Katniss dan Peeta. Tetapi yang paling menonjol adalah Finnick Odair (Sam Claflin) dan Johanna Mason (Jenna Malone).  Finnick adalah  jagoan tampan seperti burung merak yang tahu keanggunannya di daratan maupun di bawah laut; sedangkan Johanna adalah pembawa kapak, pemberontak anarkis yang tak jeri untuk memaki Presiden Snow di mana saja,kapan saja.
        Bersama pasangan ilmuwan Beetee (Jeffrey Wright) dan Wiress (Amanda Plummer), Katniss dan Peeta, serta Odick dan Johana mencoba bertahan dan saling membantu memecahkan kapan dan di mana tantangan berikutnya akan ditumpahkan oleh Plutarch. Tetapi di antara kerjasama itu, mereka tahu mereka tak bisa saling percaya sepenuhnya karena pada satu saat mereka harus saling membunuh.
    Dari sisi teknologi, apalagi di bioskop Indonesia yang menggunakan sistem dolby yang menggedor-gedor dari seluruh sisi; ditambah penyuntingan yang  rapi dan plot yang jauh lebih intens, film ini lebih superior secara sinematografis dan seni peran dibanding pendahulunya.  Katniss berkembang menjadi perempuan muda yang penuh kemarahan dan dendam; alangkah asyiknya menyaksikan dia dengan busur dan anak panahnya beraksi menumpas serangkaian musuh bayangan saat latihan. Jennifer Lawrence mungkin satu dari sedikit aktris yang sama-sama dicintai pada layar film indie (Winter's Bone, 2010) maupun layar film komersial seperti serial Hunger Games. Dia hampir selalu mampu tampil bersinar pada setiap film yang dibintanginya.
        Josh Hutcherson sebagai Peeta,  pacar yang tidak berstatus pacar tapi berlaku seperti pacar versus Liam Hemsworth  sebagai Gale sang pacar resmi yang kali ini tampil sebagai korban yang disiksa tentara Penjaga Perdamaian, adalah cinta segitiga yang ditampilkan sewajar mungkin dan seperlunya sesuai dengan fitrah jalan cerita (baca: tidak memuakkan seperti cinta segitiga yang terus menerus dieksploitasi dalam Twilight Saga).
    Tentu saja film The Hunger Games  akan selalu melekat di benak kita, karena sutradara Gary Ross menghidupkan tokoh-tokoh Suzanne Collins itu untuk pertama kalinya. Ada gerak-gerik kecil yang seolah tidak signifikan, tetapi justru menguatkan adegan-adegan Ross: Peeta yang menyentuh kepang rambut Katniss ketika mereka memutuskan menelan berry beracun; Cinna (Lenny Kravitz) yang menyematkan pin burung Mockingjay pada baju Katniss atau rasa cinta Katniss luarbiasa pada adiknya, Prim. Ini semua hal-hal yang nampaknya biasa dan senantiasa muncul dalam seri The Hunger Games sebagai simbol: cinta, kebebasan dan perlawanan.
         The Hunger Games saya anggap sebagai novel dan film remaja (industri penerbit menyebutnya kategori young adults) yang berhasil memperkenalkan politik dalam bentuk sebuah kehidupan masyarakat yang tertekan di bawah pemerintahan otoritarian. novel dan film ini berhasil. Kekejian dan serangkaian pembunuhan dalam film ini memang tidak digambarkan dengan rinci dan grafik seperti film  Jepang Battle of Royale (Kinji Fukasaku, 2010). Tetapi itu bukan alasan anda membawa anak-anak di bawah umur untuk ikut menyaksikan film bunuh-bunuhan ini.
        Film yang diakhiri dengan kejutan luar biasa: siapa kawan dan siapa lawan terungkap dengan cara yang meledakkan emosi Katniss. Sebuah akhir yang sudah pasti akan membuat para penggemar fanatik serial ini dengan harap cemas menanti adaptasi novel yang terakhir: Mockingjay yang akan menggambarkan gerakan bawah tanah Distrik 13 dan ledakan revolusi.    

    Leila S.Chudori

    The Hunger Games: Catching Fire
                            ****
    Sutradara    : Francis Lawrence
    Skenario    : Simon Beaufoy dan Michael Arndt
    Berdasarkan novel kedua dari trilogi  karya Suzanne Collins
    Pemain    : Jennifer Lawrence, Liam Hemsworth, Josh Hutcherson, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Philip Seymour Hoffman, Stanley Tucci, Jena Malone, Elizabeth Banks,  Sam Claflin


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.