Seorang Soekarno untuk Indonesia

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktor Ario Bayu (kanan) beradu akting bersama aktor Lukman Sardi saat syuting film

    Aktor Ario Bayu (kanan) beradu akting bersama aktor Lukman Sardi saat syuting film " Soekarno Indonesia Merdeka!" di Kebun Raya, Bogor (26/7). ANTARA/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta -Tak mudah menampilkan sosok sejarah terbesar di negeri ini dalam sebuah biopik. Hanung menaklukkan berbagai kerumitan itu.

    SOEKARNO
    Sutradara : Hanung Bramantyo
    Skenario : Ben Sihombing dan Hanung Bramantyo
    Pemain : Ario Bayu (Sukarno), Maudy Koesnaedi (Inggir Ganarsih), Lukman Sardi (Hatta), Tanta Ginting (Sjahrir), Tika Bravani (Fatmawati), Ferry Salim (Sakaguchi)
    Produksi : Multivision Plus, Mahaka Pictures dan Dapur Film

    Soekarno di layar Anda adalah sebuah rekaan, sebuah konsep, sebuah kekaguman dan pesona Hanung Bramantyo terhadap seorang tokoh besar. Ini sebuah film cerita; bukan film dokumenter, apalagi buku teks sejarah. Pada akhirnya film ini adalah sebuah sebuah adaptasi; serangkaian imajimasi seorang sineas yang ditumpahkan untuk tontonan hiburan.
    Bahwa sosok yang diperankan Ario Bayu itu diciptakan berdasarkan seorang tokoh besar peletak batu negeri ini, orator ulung, agitator massa, presiden Indonesia pertama yang kelak juga dikenal sebagai pecinta keindahan (perempuan) sekaligus politikus yang akhirnya terasing di masa wafatnya, itu yang kemudian menjadi persoalan. Seberapa jauh seorang kreator memiliki lisensi untuk mengunggahkan imajinasinya? Dan seberapa jauh mereka yang merasa 'memilikki' dan 'mengenal dekat' sosok ini berhak mengklaim "itu bukan orang yang saya kenal"?
    Pertama-tama Soekarno (atau belakangan sang Presiden sendiri yang ingin menggunakan ejaan baru menjadi Sukarno) adalah milik publik. Itu tak bisa dihapus dan tak bisa diralat. Terlepas kecerewetan kita terhadap berbagai detil dalam film ini, kita harus tetap mengakui, ini adalah bayangan sang sutradara terhadap tokoh yang dikaguminya itu
    Hidup Soekarno sejak lahir hingga wafat bukan hanya panjang dan berliku untuk diceritakan hanya dalam satu film sepanjang dua jam , tetapi terlalu banyak peristiwa besar, Belanda, Jepang, Belanda lagi, lantas pengalaman luar biasa membangun negeri yang sangat Bhineka Tunggal Ika ini. Tidak heran jika Hanung memilih sebuah fokus: Soekarno kecil hingga kemerdekaan Indonesia. Pilihan yang pragmatis, tetapi ternyata tetap mengandung banyak tantangan: dari segi plot, tata-artistik, musik dan yang paling penting dan bakal (atau sudah) disorot dengan tajam adalah soal akurasi sejarah. . Dalam setiap film (Indonesia) yang mengambil setting masa lalu, pasti akan ada anakronisme : sesuatu (barang, kostum atau gerak tingkah laku) yang menjadi milik periode lain dan tak seharusnya menjadi bagian dari adegan itu.
    Anakronisme dalam sebuah film berlatarbelakang sejarah adalah sesuatu yang membuat mata penonton gatal-gatal, dan tentu Hanung tahu penonton bukan hanya terdiri dari sejarahwan tetapi juga penonton awam seperti saya.
    Soekarno yang nama aslinya Kusno kecil ( Emir Mahira) yang jatuh cinta pada seorang noni Belanda. Lantas karena ayahnya sang Noni dengan murka mengusir Kusno. Dari sini Kusno berpidato sendirian dengan suara menggelegar mencurahkan isi hatinya soal anti-kolonialisme di dalam kamar. Meski sejarah menyatakan betapa Soekarno seorang pembaca buku yang tekun dan mengasah intelektualitasnya dari berbagai buku filsafat yang dibacanya setiap saat, adegan awal soal cinta monyet ini menjadi problem, seolah bangkitnya anti-kolonial and anti-imperialis Soekarno berasal dari seorang noni Belanda.
    Hanung kemudian melompat pada masa muda Kusno yang sudah berubah nama menjadi Soekarno yang menjadi lebih menarik. Pada usia 24 tahun, Soekarno berdiri di atas podium mengaduk emosi massa. "Kita harus merdeka!" dan segala kata, gerak dan ucapan Sukarnopun menjadi sihir yang luar biasa. Dia ditangkap. Dipenjara. Pleidoinya yang kelak dikenal sebagai Indonesia Menggugat lantas menyebabkan dia dibuang ke Ende dan ke Bengkulu.
    Ini semua digarap dengan efektif. Penggerakan massa; penangkapan Soekarno, pembelaan dengan suara yang lantang yang kemudian diberikan serangkaian gambar yang memperlihatkan dia sejenak dibuang ke Ende lalu ke Bengkulu. Bagian dari hidup Soekarno yang sebetulnya panjang harus disingkat menjadi hanya beberapa menit dengan bantuan teks informasi di layar adalah pilihan Hanung, karena dia merasa peristiwa di Bengkulu lebih menarik diuraikan secara detil. Mengapa? Karena di Bengkulu Sukarno yang sudah beristeri Inggit Ganarsih itu bertemu dengan seorang gadis manis bernama Fatima (kelak dikenal sebagai Fatmawati).
    Demi pragmatisme pula Hanung memilih untuk langsung saja menamakan sang gadis dengan Fatmawati, "karena itulah nama yang sudah dikenal publik," kata Hanung kepada Tempo. Fatmawati yang manis, geulis sekaligus cerdas bertemu dengan Soekarno justru ketika Soekarno dipaksa Belanda untuk "menjauh dari politik". Mereka saling tertarik. Tentu saja Inggit Ganarsih cemburu dan terluka. Hanung sengaja tak menggali latar belakang bahwa Inggit semula adalah induk semang Sukarno saat kuliah di Bandung. Saat itu Inggrit berstatus sebagai isteri Sanoesi. Sukarno lantas bercerai dengan isteri pertamanya, Sri Oetari, puteri HOS Cokroaminoto; Inggit yang berusia 13 tahun lebih tua daripada Soekarno lantas bercerai dengan Sanoesi. Ini bagian yang juga menarik dari kehidupan romansa si Bung yang dihindari Hanung karena ia memilih untuk lebih mengabdikan bagian romansa Soekarno dan Fatmawati di Bengkulu.
    Sekali lagi ini memang sebuah pilihan, karena seorang kreator harus menyisir apa yang dianggapnya penting dan menarik baginya. Saat Soekarno dihadapi kemelut antara dua perempuan, Inggit yang terluka dan tak sudi dimadu sementara Soekarno sungguh jatuh cinta pada Fatmawati, Jepang meluncur ke Indonesia dan memekikkan peperangan Asia Timur Raya. Ini adalah puncak kerumitan visualisasi Hanung. Dia harus memperlihatkan konflik internal antara Soekarno (yang percaya bisa memanfaatkan Jepang untuk kemerdekaan Indonesia dan lepas dari Belanda) melawan Sjahrir yang bersikeras bahwa kemerdekaan itu harus total, tanpa bekerja sama dengan Jepang. Sjahrir berkali-kali menolak gaya kompromi Soekarno terhadap Jepang; tetapi belakangan akan terlihat jelas bahwa Sjahrir sesungguhnya seorang pembela Soekarno yang sejati.
    Sutradara harus bergulat dengan banyak adegan konflik. Adegan konflik menghadapi Jepang yang begitu banyak permintaan bahan makanan, tenaga kerja termasuk (termasuk suplai perempuan penghibur; perseteruan internal dengan Sjahrir dan pemuda lain yang anti kolaborasi dan konflik pribadi di rumahnya di mana dia akhirnya bercerai dengan Inggit dan menikah dengan Fatmawati.
    Justru saat menggambarkan kekalutan emosi, Hanung berhasil memberi gambar yang memikat. "Biarkanlah saya mengantarmu untuk terakhir kalinya," demikian Soekarno yang menatap Inggit yang berberes baju dan memasukkan ke dalam koper setelah surat cerai ditandatangani. Inggit menolak. Dia menjawab bahwa dia sudah mengantarkan Sukarno ke pintu gerbang (kemerdekaan Indonesia), dan tugasnya sudah selesai. Dan Maudy Koesnaedy memberikan seni perannya yang terbaik sepanjang karirnya. Hening, menyentuh dan kepedihan terasa di udara; tetapi Hanung tetap menjaganya untuk menjadi adegan pengurasan airmata.
    Ario Bayu memang menampilkan seorang Sukarno yang berbeda dari bayangan saya karena wajah Sukarno muda dari foto-foto Henri-Cartier Bresson sudah terlanjur terpateri kuat di benak saya. Namun, pada akhirnya, bukankah tokoh John F.Kennedy sudah pernah diperankan 22 aktor yang sangat berbeda antara satu dan lain? Bukankah seni peran Daniel Day- Lewis yang akhirnya menguasai layar dan jiwa kita saat menyaksikan, bukan lagi bentuk fisiknya (yang kebetulan juga digarap dengan cemerlang oleh penata rias). Dalam sejarah perfilman, Soekarno sebetulnya sudah pernah diperankan oleh beberapa aktor yang berbeda: aktor Filipina Mike Emporio (The Year of Living Dangeriously, 1982); Umar Kayam (Pengkhianatan G 30 S/PKI dan Jakarta 66); Frans Tumbuan (Api Cinta Antonio Blanco, 1997) dan Soultan Saladin (Gie, 2005). Tak ada satupun aktor itu yang secara fisik mendekati wajah dan tubuh Bung Karno, sehingga seperti Ario Bayu, aktor-aktor sebelumnya harus berupaya keras menampilkan seni peran semaksimal mungkin.
    Ario Bayu memang tak bisa diobrak-abrik agar mirip Soekarno. Dia harus bertumpu pada seni peran belaka: gerak tangan, cara berbicara dan yang paling penting menjadi ciri khas Soekarno adalah caranya membakar hati rakyat melalui pidatonya. Untuk itu semua, Ario tidak mengecewakan. Tetapi tetap diakui justru para peran pendukung yang lebih mencuri perhatian.
    Lukman Sardi adalah aktor yang tak bisa tampil buruk dalam film seburuk apapun ,apalagi di dalam film seserius ini. Dia muncul sebagai Hatta yang tenang, cenderung introvert, berdebat dengan Soekarno sebagaimana seorang cendekiawan dan pada akhirnya dia mendukung siasat Sukarno sekaligus mencoba menengahi konflik Sukarno dan Sjahrir. Maudy Koesnaedi dan Tika Bravani juga menampilkan sosok yang meyakinkan. Pergumulan cinta segitiga, kerusuhan hati Inggit dan Fatmawati, sekaligus cinta mereka yang mendalam kepada Soekarno ditunjukkan dengan porsi pas ("ada beberapa adegan yang lebih dramatis saya potong," demikian Hanung. Untung saja dia potong, sebab porsi rumah tangga dan cinta ini sudah cukup besar).
    Tentu ada beberapa bagian dan adegan yang berlebihan. Pemeran Sjahrir (Tahta Ginting) tampak sukar berbicara tanpa gerak tubuh yang sibuk seperti sedang berteater di atas panggung. Beberapa adegan yang mengejutkan upaya perburuan dramatisasi, misalnya saat pertemuan delegasi Sukarno dan Hatta dengan delegasi Jepang. Bahwa salah seorang perwira menodong pedang samurai ke arah dua pimpinan Indonesia itu adalah dramatisasi yang aneh. Meski perwira itu, Imamura terkenal kejam, tentu kekejian itu lebih ditunjukkan pada peristiwa lain, bukan pada sebuah rapat negosiasi. Adegan Soekarno yang turun tangan sendiri dalam penyediaan perempuan penghibur yang kemudian disambut keplokan Sakaguchi (Ferry Salim) juga sebuah dramatisasi yang tak meyakinkan dan terlalu jauh.
    Lisensi artistik yang memberikan 'paspor' kepada kreator untuk membuat dramatisasi atau perubahanyang oleh sejarahwan dianggap distorsidari peristiwa sesungguhnya. Tetapi perubahan, perkembangan dan dramatisasi itu tentu harus menggunakan perhitungan dengan konteks zamannya dengan kedalaman riset yang pada gilirannya menghasilkan adegan yang cocok dengan peristiwa sesungguhnya.
    Kedua adegan ini lantas melahirkan pertanyaan penting: sejauh apa kita bisa menggunakan 'paspor' itu untuk mencipta sebuah cerita dari tokoh nyata? Apa mungkin seorang tokoh besar turun ke jalan sendirian mengurus soal perempuan penghibur?
    Beberapa hal 'kecil' akhirnya saya maklumi saja dengan pasrah, seperti kostum yang selalu nampak baru diseterika dan banyak tokoh dan figuran yang sungguh gemuk dan montok di zaman yang begitu susah. Tengoklah foto-foto masa kemerdekaan oleh fotografer IPPHOS, hampir semua tokoh nampak langsing ,necis dan tak berperut. Apa iya, tokoh Dr Suyudi, ketua PNI Yogya (diperankan Budiman Sujatmiko) tubuhnya sudah berperut? Hanung harus berani 'keras' pada aktornya untuk meminta mereka berdiet agar tak terjadi anakronisme.
    Belum lagi soal musik. Hanung yang selalu peduli dengan visualisasi dan teliti dengan kerja kamera, terkadang tak percaya diri dengan gambar yang dihasilkan hingga merasa harus memasukkan musik yang menggebrak telinga pada setiap adegan. Padahal banyak sekali adegan yang justru terasa 'bermusik' tanpa musik seperti pada adegan-adegan Ario Bayu dan Tika Bravani yang menampilkan kerjasama yang asyik dan meyakinkan. Tak perlu ada musik yang melolong-lolong setiap saat.
    Secara keseluruhan film ini tetap penting dan terasa digarap cukup serius. Ini bukan drama tiga babak yang konvensional. Hanung mengikuti alur hidup Soekarno sejak kecil hingga dewasa. Akibatnya film panjang ini tak memiliki klimaks besar, tetapi terdiri dari serangkaian klimaks kecil yang tetap mengejutkan.
    Bagi generasi muda yang sudah terlalu berjarak dengan nama Soekarno,Hatta dan Syahrir, film ini akan menjadi pembuka minat mereka untuk mengenal sejarah Indonesia lebih dalam. Apapun catatan di atas, film Soekarno adalah salah satu film Indonesia yang perlu disaksikan. Apalagi pada akhir film itu, suara sang Proklamator masih tetap menggetarkan.

    Leila S.Chudori


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.