Serigala Bernama Leonardo

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film The Wolf of Wall Street.

    Poster film The Wolf of Wall Street.

    TEMPO.CO, Jakarta-Nampaknya Leonardo DiCaprio akan memperoleh semua penghargaan tahun ini untuk perannya dalam film ini. Dia sudah mulai memetik satu piala dari The Golden Globes.

    ***

    Leonardo DiCaprio adalah sang serigala. Leonardo DiCaprio adalah Jordan Belfort, seorang pialang saham yang memperkenalkan pada dunia bahwa hidup gaya Caligula di abad 21 masih sangat mungkin.

    Setelah tiga kali dinominasi oleh Academy Awards dan selalu saja dikalahkan oleh aktor lain, mungkin tahun ini sudah waktunya Leonardo DiCaprio memperoleh kehormatan itu.

    DiCaprio sudah berhasil menunjukkan dia adalah satu dari sedikit generasi aktor watak penerus angkatan Robert de Niro dan Al Pacino. Berkali-kali dia luput memperoleh penghargaan tertinggi Amerika itu meski sudah bersinar dalam film The Aviator (Martin Scorsese, 2004), The Departed (Martin Scorsese, 2006), J.Edgar (Clint Eastwood, 2011) dan bahkan Django Unchained ( Quentin Tarantino, 2012), DiCaprio selalu saja tersingkir oleh nomine lainnya.

    Di dalam film Wolf of Wall Street, DiCaprio masuk ke dalam tubuh tokoh nyata Jordan Belfort, seorang pialang saham yang karirnya naik secara meteorik, dan jatuh berdebam ke bumi setelah FBI menghajarnya dengan puluhan tuduhan pelanggaran termasuk penipuan dan manipulasi harga saham.

    Belfort sebetulnya datang dari keluarga biasa, bertempat tinggal di Long Island, New York dan menempuh pendidikan hingga mencapai  tingkat sarjana Biologi dan bekerja sebagai seorang salesman. Pada saat inilah film dimulai. Jordan Berlfort menjadi pemandu penonton seperti seorang pemandu wisata yang memperkenalkan obyeknya, kita melihat Leonardo Dicaprio berbincang pada kita dengan fasih.Belfort  bertemu dengan Mark Hanna (diperankan dengan bagus oleh Matthew McConaughey  ), bos perusahaan investasi L.F Rotschild, yang mengajarkan dia bahwa yang penting dalam transaksi adalah memasukkan sebagian uang ke dalam kantong pribadi. Dan jangan lupa, kata Hanna ngengir, sembari bekerja keras mencari klien,silahkan menyerot cocaine dan jumpalitan dengan pelacur. Pasti asyik.

    Semula Belfort agak gugup mendengar saran ini. Tapi kegugupan itu hanya berusia lima detik. Di dalam tubuh Belfort, ada  bakat wiraniaga yang mengalir dengan deras. Betul saja. Belfort menjadi salesman terkemuka dan yang paling meyakinkan. Bahkan ketika Wall Street dihajar  Black Monday dan Belfort kena kebijakan perampingan perusahaan. Dia bisa mengatasinya dengan bekerja di Investment Centre dan menjadi pialang saham ‘kacangan’ – biasa disebut ‘penny stock’ atau saham kelas tiga—dengan kepandaiannya merangkai kata-kata, mengelus-elus sebuah produk tanpa harga menjadi emas ke telinga calon pembeli. Hanya dalam setahun, Belfort dan partnernya  Donnie Azoff (Jonah Hill dengan gigi palsu dan penis palsu) berhasil membangun perusahaan Stratton Oakmont. Dengan mempekerjakan kembali kawan-kawan lama, Belfort menjalankan perusahaan pialang sahamnya seperti gaya kaisar Romawi berpesta: orgi di kantor (salah satu hobi Belfort adalah ramai-ramai menyaksikan karyawannya melakukan seks oral di lift kaca), menyerot kokain, menenggak puluhan pil; mengundang puluhan pelacur ke kantor atau kelompok band yang meluncur ke ruang pialang dalam keadaan telanjang.

    Deretan adegan kegilaan: seks, narkoba, orgi itu sesekali diselingi adegan rapat. Isi rapat bukannya membicarakan soal naik turun harga saham, melainkan bagaimana caranya mereka membuat pesta yang puncak acaranya adalah melempar-lempar orang kerdil sewaan agar bisa meluncur seperti bom. Di antara pesta orgi di kantor, sampanye, anggur bercampur keringat dan lendir yang sudah tak jelas asal usulnya. Martin Scorsese yang cukup patuh menggunakan plot dan dialog buku karya Jordan Belfort yang ditulisnya selama di penjara itu. Dia juga sangat patuh dengan semua adegan gaya hidup hedonistik Belfort dan anak-anak buahnya: sebuah gaya dan sikap yang sama sekali tak memperlihatkan rasa bersalah atau malu. Mereka begitu dikuasai kekuatan narkoba hingga sama sekali tak memiliki kesungkanan. Begitu persisnya seluruh plot dengan buku Belfort, kita bahkan bertanya-tanya apa mungkin sebuah kantor dijalankan dengan serombongan lelaki yang kerjanya menenggak karkoba dan melorotkan celananya melulu? Bagaimana bisa mereka berfungsi dalam keadaan teler?

    Yang mereka tenggak memang pil ‘upper’ Quadalude, yang konon membuat mereka jadi “semangat” dan penuh rangsangan. Itulah sebabnya mereka tak lagi memiliki urat malu.

    Tapi tentu saja pada paruh terakhir, Martin Scorsese akhirnya harus menginformasikan akibat overdosis pil ini kepada pemirsa. Belfort yang terpaksa menggunakan telepon umum untuk berbincang dengan detektif swasta yang disewanya, karena semua telepon di rumahnya disadap oleh FBI, pulang ke rumahnya mengendarai mobil mewah dalam keadaan teler. Mobilnya yang hancur lebur itu menabrak begitu banyak mobil dan tiang listrik hingga akhirnya polisi menangkapnya dan FBI yang sudah bekerja seperti sekumpulan elang di awan kemudian punya alasan untuk menyambar target yang sudah lama jago berkelit itu. Penipuan terhadap klien, terhadap keluarga, terhadap tubuh dan terhadap harga diri harus berakhir pada satu tiga huruf bernama FBI.

    Film ini sudah digadang-gadang akan menjadi nominasi dalam Academy Awards tahun ini melawan film lain yang juga sudah terdengar gencar seperti 12 Years a Slave (Steve McQueen); Gravity (Alfonso Cuarön), American Hustle (David O’Ruseel) dan Blue Jasmine (Woody Allen). Tetapi banyak juga pengeritik yang risih dengan glorifikasi kehidupan hedonistik Jordan Belfort dan kawan-kawan sekantornya.

    Untuk tiga jam yang berisi repetisi adegan-adegan orgi di dalam kantor, di atas pesawat terbang, di mana-mana , justru sutradara Scorsese memperlihatkan sebuah drama satiris yang menunjukkan kebodohan orang-orang yang merasa hanya bisa hidup dan berfungsi melalui narkotik dan pesta orgi. Mirip dengan gaya Scorsese memperlihatkan para anggota mafia di dalam Goodfellas (1990) yang berulang-ulang memperlihatkan adegan-adegan pembunuhan, penyiksaan, seks, narkoba yang memperlihatkan betapa jungkir baliknya logika para preman ini. Para tokoh dalam The The Wolf of Wall Street, seperti juga Goodfellas, begitu delusional hingga menganggap mereka sama sekali tak akan pernah tersentuh oleh hukum.

    Leonardo DiCaprio, sebagai ‘serigala’ yang sama sekali tak punya rasa sesal terhadap kelakuannya, kali ini menampilkan sosok yang sangat pas, yang membuat kita ingin muntah, sekaligus masih saja takjub bahwa ternyata ada spesies semacam itu di semesta kita. Kali ini, Academy Awards layak memberikan kerja kerasnya.

    Leila S.Chudori

    THE WOLF OF WALL STREET
    Sutradara         : Martin Scorsese
    Skenario            : Terence Winter
    Berdasarkan kisah nyata yang ditulis oleh Jordan Belfort
    Pemain              : Leonardo DiCaprio, Jonah Hill, Margot Robbie, Matthew McConaughey, Jean Dujardin, Rob Reiner



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.