Ledakan Dinamit Itu Bernama Berandal

Oleh :

Tempo.co

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Poster film The Raid 2: Berandal (Istimewa)

    Poster film The Raid 2: Berandal (Istimewa)

    Film The Raid 2: Berandal

    TEMPO.CO, Jakarta- Sebuah dunia ceritera. Ini bukan Jakarta. Bukan pula Indonesia. Katakanlah ini adalah dunia antah-berantah. Atau bayangkanlah ini dunia komik hasil goretan Gareth Evans di atas kanvas yang sangat luas bernama layar perak dengan tokoh-tokoh yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan pencak silat sebagai alat bela diri.

    Hanya beberapa jam setelah Rama (Iko Uwais) berhasil menggempur preman yang bercokol di satu gedung pimpinan Tama (Ray Sahetapi) pada film The Raid (2011), ternyata tugasnya belum selesai. Bos polisi Bunawar (Cok Simbara) menugaskan Rama menyusup ke dalam organisasi gangster pimpinan Bangun (Tio Pakusadewo). “Kota ini dibagi dua,wilayah geng lokal yang dipimpin Bangun dan wilayah Goto, keluarga Jepang,” kata Bunawar membuka suasana tidak nyaman itu. Setelah menemukan mayat para polisi yang habis dihajar (dalam film The Raid) di dalam sebuah truk, dan  setelah mengetahui Tama dan pasukannya habis dilibas Rama maka, “Reza dan anak buahnya akan bertindak,” kaya Bunawar mengingatkan Rama.  Reza adalalah pimpinan polisi yang korup yang  hidup mesra dengan para  gangster. “Kalau kita nggak segera bertindak, lu dan keluarga lu akan hilang,” kata Bunawar.  Rama merasa tak punya pilihan. Dia setuju untuk menyamar  menjadi seorang narapidana bernama Yuda dan menyusup ke dunia mafia mencari bukti bahwa Reza (Roy Marten), bos polisi rekan Bunawar.

    Langkah pertama: Rama alias Yuda masuk penjara untuk memperoleh kepercayaan Ucok (Arifin Putra), putera Bangun yang sedang bercokol di situ dan berupaya membangun ‘kreditasi’ kejantanannya di antara para preman dan jagoan.  Dengan menerabas puluhan narapidana sendirian dalam sebuah adegan pertarungan terpanjang dan terdahsyat dalam sejarah film Indonesia, Rama akhirnya berhasil menjadi kepercayaan dan  diangkat sebagai tangan kanan Ucok ketika mereka keluar dari penjara. Tentu saja Rama harus melalui uji-coba gaya preman kota: ditelanjangi, dicek setiap jejak dalam tubuhnya, siapa tahu ada kabel atau chip  yang terselip di organ tubuhnya yang bisa merekam atau melacak segala isi perut organisasi mereka. Setelah itu, beres. Rama berhasil masuk ke jantung organisasi. Dia mendapat sebuah apartemen keren, mobil dan pakaian yang mentereng.

    Problem dimulai ketika Ucok, si tampan anak manja yang merasa berhak memperoleh apa yang diinginkannya kapan saja di mana saja itu merengek.  Ucok menuntut kepercayaan yang lebih dari Ayahnya. Dia merasa tugasnya yang sungguh ‘ringan’ (menagih duit dari berbagai ‘pengusaha’ yang mereka berikan perlindungan, misalnya: rumah produksi film porno). Tetapi sang Ayah tahu temperamen anak tunggalnya. Permintaan itu ditolak. “Belum waktunya, Cok.” Lebih jauh lagi, si anak kolokan ini juga tak tahan melihat gaya si bokap yang bisa hidup dengan damai bersama kelompok Jepang pimpinan Goto (Kenichi Endo). Untuk anak yang belum tahu caranya membangun sesuatu dari nol, segala problem dia diselesaikan dengan merebut dan membinasakan. Sikap brutal inilah yang justru sedang dihindari Bangun  –seperti juga sikap Vito  Corleone dalam The Godfather—yang memilih untuk hidup berdampingan dengan damai dengan bos mafia lain adalah pilihan paling bijak.

    The Raid 2: Berandal mungkin lebih layak disebut sebagai spin-off daripada sekuel karena film ini sebuah film yang mandiri  yang menggunakan karakter yang sama. The Raid 2  tidak sepenuhnya menjadi lanjutan dari film The Raid, kecuali tokoh Rama tetap protagonis, seorang polisi berhati putih, seorang jagoan yang bisa melumat  segerombolan penjahat  sendirian cukup dengan ilmu silat. Pisau, golok, machette, pemukul baseball, palu, pistol , kerambit, itu bisa dikalahkannya. Dia masih jagoan kita. Isteri Rama juga muncul sebentar. Kini kini dia sudah melahirkan bayi dan hanya bicara sekalimat melalui telepon. Masih ada sang Bapak (Henky Sulaeman) yang menggendong sang  cucu. Juga ada abangnya Andi  ( Donny Alamsyah) meski hanya sekelebat.

    Selebihnya kita bertemu para penguasa dunia remang kota antah berantah. Sebuah kota yang dikuasai kelompok Bangun dan kelompok Goto, sementara’generasi baru’ bernama Bejo (Alex Abadd) berambisi membantai kedua pemimpin dan menjadi satu-satunya yang penguasa kota. Bejo dan anak-anak buahnya mendekati Ucok, memberi segala senjata dan kesempatan untuk menyelinap, berbalik mengkhianati siapa saja yang menghalangi jalan pada kekuasaan. Untuk Ucok, Bejo yang dikenal memiliki kebrutalan tanpa tandingan, adalah paspor menuju kejayaan, meski itu berarti dia harus meninggalkan kerajaan Ayahnya.

    Kali ini, sutradara dan penulis skenario Gareth Evans memberikan 148 menit  yang padat dengan drama, lebih dari tiga lusin karakter baru (dan ratusan figuran dan mobil-mobil yang hancur ditabrak) dan tentu saja menu penting untuk mencapai puncak ‘sinemagasme’ –ini cuma istilah karangan saya saja—adalah pertarungan silat yang panjang dan penuh dengan rangkaian gerakan baru.

     Evans  menyadari bahwa dia tak lagi terkungkung di dalam gedung seperti dalam film sebelumnya. Kini dia bisa menjelajahi pertarungan di udara terbuka. Tapi bukan Gareth Evans jika dia tak membuat adegan perkelahian menjadi serangkaian gambar estetik. Adegan perkelahian Rama dan Ucok melawan serombongan narapidana –yang kemudian ditambah lagi sepasukan polisi—di lapangan penjara yang penuh lumpur adalah salah satu adegan kolosal yang  dahsyat, keras sekaligus  estetis. Para lelaki yang diselimuti lumpur itu tetap berkelahi bak di lapangan Kurusetra dan kamera menyorot mereka dari berbagai sudut. Ketika kamera menyorot  tubuh-tubuh penuh lumpur itu dari atas, layar seolah menyajikan serangkaian patung  tembaga yang bergerak dan bergulat. Epik!

    Evans nampaknya selalu tertantang untuk menciptakan adegan perkelahian dalam ruang yang sempit dan klaustrofobik. Kali ini, bukan hanya di dalam lorong-lorong  gedung rongsok, tetapi kini para tokoh harus berkelahi di dalam toilet, di dapur , di warung mie, di restoran (ya, salah satu penjahat wajahnya hancur karena dipanggang di atas oven) dan yang paling mengesankan adalah adegan tujuh menit perkelahian di dalam mobil yang sedang berjalan.  Sementara Eka (Oka Antara), tangan kanan Bangun,  sibuk kejar mengejar dan tembak menembak   melawan musuhnya, Rama  menghantam tiga begundal di dalam mobil sementara mobil tetap berjalan. Adegan ini bagai ledakan dinamit.  Bukan hanya karena saling tabrak dan kejar mengejar itu bisa terjadi di jalan protokol seperti jalan Sudirman, tetapi adegan ini melibatkan adegan runtuhnya sebuah terminal busway hingga hancur berantakan.

    Di dalam semua adegan gedebak gedebuk ini, kita mengenal para penjahat baru yang sesekali mengingatkan kita pada gaya Quentin Tarantino menciptakan karakter-karakter penjahat: keren, jagoan dan mempunyai latarbelakang yang bisa digali menjadi satu sub-plot tersendiri.  Bejo, seorang anak muda penuh ambisi yang selalu mengenakan jas panjang, sarung tangan kulit dan kacamata hitam itu gemar mengiris dengan pisau cutter; Abang adik Hammer Girl (Julie Estelle, satu-satunya perempuan dalam pesta testosteron ini), cewek jagoan yang bisu,  yang bersenjata dua palu dan Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman) yang  menghajar musuhnya dengan pemukul baseball dengan brutal.  Ada Sang Pembunuh (Cecep Arif Rahman), jagoan silat yang menggunakan kerambik, pisau yang bentuknya terinspirasi dari kuku macan. Dan terakhir,tentu  saja kita bertemu lagi dengan Yayan Ruhian yang kini berdandan seperti gembel dengan rambut jabrik dan punya bekas isteri secantik Marsha Timothy (namanya juga dunia rekaan, ya kita percaya sajalah) berperan sebagai Prakoso, seorang pembunuh berdarah dingin yang hanya bergerak jika ada aba-aba dari Bangun.

    Begitu banyak jagoan. Begitu banyak pembunuh. Mereka semua muncul dan beraksi seperti di atas kanvas Evans. Berkali-kali dihajar, mereka mampus dan Rama tetap berdiri dengan utuh dan perkasa. Dan saya belum lagi masuk ke wilayah geng Jepang Goto yang punya dua jagoan cakep yang diperankan Kazuki Kitamura  dan Ryuhei Matsuda. Semula memang kita harus teliti dan berhati-hati, membuat diagram di  dalam kepala, siapa tokoh yang barusan muncul, dan siapa yang dia khianati. Tetapi plot Gareth Evans sangat mulus sekaligus menegangkan hingga kemunculan karakter-karakter baru setiap 15 menit itu sama sekali tak mengganggu.

    Gareth tak hanya ingin memperlihatkan kemampuannya menyajikan kekerasan sebagai bagian cerita sebuah dunia gelap. Dia menemukam puisi di dalam kehidupan yang brutal. Wajah Prakoso (Yayan Ruhian) seorang Bapak dengan rambut yang tak pernah kena shampoo itu memandang foto anaknya dengan penuh kerinduan; atau kematian salah seorang pembunuh yang berdebam di atas salju  itu seperti bait puisi di atas darah. Salju itu memberi simbol  bahwa penonton digiring memasuki wilayah orang-orang keji  yang membunuh dengan dingin.  Bahwa kini Evans menggunakan teknik slow-motion menjelang sebuah adegan pertarungan panjang –tetes air dan gerak-gerik kaki dan tangan yang perlahan bersiap menghantam—yang sudah umum dalam film martial art  Wong Kar Wai dan Zhang Yimou,  tentu menjadi sebuah hiburan bagi penggemar fanatik film silat.

    Karakter di dalam film ini, seperti juga di dalam komik, jelas hitam dan putih. Tetapi ‘hitam’ dalam bangunan ciptaan Evans menjadi asyik,seru dan magnetik. Kita jadi ingin tahu apa latar belakang sosok Ucok, Sang Pembunuh, Hammer Girl dan Bejo. “Kami akan membuat komik yang memfokuskan bagaimana para penjahat itu bisa terbentuk menjadi pembunuh,” kata Gareth Evans kepada Tempo. Sementara si Baik adalah Iko Uwais yang masih saja seperti malaikat yang tak pernah bisa tersentuh atau tergoda untuk menjadi bandel, sehingga dia hampir seperti seorang ‘super-human’.

    Hanya ada dua kritik kecil dalam film ini. Pertama, nampaknya Gareth Evans belum mempercayakan peran jagoan silat dengan porsi besar kepada aktris perempuan. Meski pencak silat juga banyak dipegang para perempuan di negeri ini, dan Evans sebagai sineas dokumenter pencak silat sangat mengetahui itu, toh Julie Estelle yang sungguh dahsyat itu hanya muncul beberapa kelebat di antara 148 menit. Sungguh sayang. Kami—para penggemar film silat-- akan menagih ‘hutang’ pada Evans  untuk film-film silat berikutnya untuk menampilkan jagoan perempuan. Kedua, Gareth Evans yang menulis skenario dalam bahasa Inggris mudah-mudahan menyadari bahwa dia membutuhkan penerjemah dan editor bahasa Indonesia yang lebih greng agar dialog tidak terasa gamang. Tentu dialog bisa difahami dengan baik, terutama ketika mereka berbahasa slang Jakarta. Tetapi begitu tokohnya berbicara bahasa Indonesia, masih ada frasa yang ganjil, seperti tokoh Pong Hardjatmo yang mengatakan “harus!” sebagai jawaban dari tokoh polisi Reza (Roy Marten) yang ingin segera bertindak.  Jawaban yang lebih pas mungkin adalah “siap” atau “baiklah” atau “setuju”.   Atau  saran lain: Evans bisa  membiarkan aktornya membuat parafrase dialog skenarionya dengan bahasa sehari-hari seperti yang dilakukan Ray Sahetapi dalam The Raid. Pasti akan terasa lebih pas.

    Gareth Evans sudah meletakkan namanya di peta sinema dunia sejak The Raid (Serbuan Maut) atau The Raid:Redemption 3 tahun lalu. Berandal adalah sebuah dinamit yang bakal meledak . Bersiaplah.

    Leila S.Chudori

                                                                ****

    Boks:

    Gareth Evans: Indonesia Telah Menciptakan Karir Sinematik Saya

    Gareth Evans menggebrak. Sekali lagi.

    Sutradara kelahiran Wales (1980) itu masih berkisah tentang polisi kesayangan kita , Rama yang diperankan oleh Iko Uwais melawan dua kelompok gangster.

    Dua kelompok mafia ini kebanyakan mengenakan jas, kacamata hitam, bahkan ada yang mengenakan jas musim dingin dan sarung tangan kulit. Mereka berbahasa Indonesia dengan slang Jakarta, kota yang menyajikan reog dan menikmati mie instan.

    Lalu ada salju yang berjatuhan di sebuah gang yang penuh dengan gerobak dagangan makanan. Di manakah kita?

    “Kita di sebuah kita yang hanya ada di dunia  komik, di mana kita bisa mendorong dan melintas perbatasan dunia realisme,” kata Gareth Evans kepada Tempo.  “Saya ingin mendorong kemungkinan visualisasi yang ekstrim. Salju. Salju....dan penonton akan tahu itu bukan Jakarta. Itu sebuah dunia imajinasi,” kata Evans lagi.

    Evans mengakui dia ingin menekankan nada, warna dan suara yang berbeda dalam film ini. Karena itu saya sengaja memulainya dengan sebuah adegan pembunuhan di sebuah lapangan tebu yang hening, tanpa perkelahian dan hanya monolog.Ada rasa “rasa dingin pada adegan awal,” kata Evans.

    Dari adegan yang mengejutkan pada detik pertama film ini, maka mengalirlah kisah Rama dengan segala pergulatannya menyamar Yuda melawan dua rombongan penjahat. Bagaimana Evans bisa menciptakan adegan mobil yang kejar mengejar selama tujuh menit di di jalan protokol seperti jalan Sudirman yang sering ramai dan macet itu? “Saya minta izin dan itu tak mudah,” katanya tertawa. “Syuting adegan kejar-kejaran antara Oka Antara dengan para musuhnya itu berlangsung 12 hari,” kata Evans. “75 persen adegan itu dilakukan Oka dan yang sangat berbahaya dilakukan stunt-man,” kata Evans memuji Oka yang sangat profesional .

    Dengan begitu banyak pemain papan atas Indonesia dan Jepang serta adegan perkelahian yang memakan banyak benda hancur, film yang proses produksinya memakan waktu tujuh bulan itu  memakan ongkos 4,5 juta dolar (Rp 50 miliar). Film ini sudah dibeli hak edarnya oleh Sony Pictures ke berbagai negara di dunia dan akan tayang serentak pada tanggal 28 Maret tahun ini.  Sesudah premier di Sundance Film Festival, film ini juga akan ditayangkan di SXSW Festival di AS. Tetapi sementara sibuk dengan segala kegiatan ini, Evans mengaku sudah ada dua produksi film di kantungnya yang sudah harus dimulai. Yang pertama adalah proyek film yang diproduksi Universal Studio, sebuah biopik tentang seorang pegulat UFC. “Ini ide dari mereka yang ditawarkan kepada saya. Saya membaca dan tertarik untuk menyutradarainya.” Yang kedua adalah film laga yang diproduksi dari studio Amerika. “Iko dan Yayan akan selalu saya libatkan,” katanya menyebutkan dua atlet silat yang kini namanya berkibar-kibar sejak film pertama Evans berjudul Merantau diproduksi.

    Meski ada dua film produksi AS yang akan disutradarainya, Evans mengaku dia juga menyiapkan film produksi Indonesia berikutnya. “Biar bagaimana, adalah Indonesia yang telah menciptakan karir sinematik saya. Saya pasti akan selalu membuat film produksi Indonesia, “ kata suami Rangga Maya Barack  dan ayah dari si kecil Sophie ini. “Suatu hari saya juga ingin membuat film anak-anak yang bisa ditonton anak saya,” katanya serius. Itu pasti tantangan terbesar untuk sutradara film laga ini.

    Evans mengakui kedua seri film The Raids adalah festival “sosis”—demikian dia menyebutnya—meski sudah ada sekelebat tokoh Hammer Girl yang diperankan Julie Estelle. “Suatu hari saya ingin menampilkan Julie dalam peran yang lebih besar lagi ,”katanya. “Saya berjanji menampilkan jagoan perempuan.” Penonton akan menagihnya dengan gigih seperti penagih kartu kredit, Gareth!

    Leila S.Chudori

    THE RAID 2: BERANDAL
    Sutradara dan Skenario : 
    Gareth Evans

    Pemain                               : Iko Uwais, Arifin Putra, Tio Pakusadewo, Oka Antara,  Ryuhei Matsuda, Kenichi Endo,Kazuki Kitamura , Yayan Ruhian, Alex Abbad, Julie Estelle, Cok Simbara, Donny Alamsyah

    Produksi                             : Stage 6, XYZ Films, Merantau Films

                                                                            ****

                 

     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.